Review Buku Kumpulan Cerpen The Alley of Fantasy Bookshops

Sedang Trending 1 hari yang lalu

The Alley of Fantasy Bookshops – Halo, Grameds! Pernah nggak Anda membayangkan adanya sebuah gang rahasia nan dipenuhi toko kitab ajaib? Tempat di mana buku-buku bisa berbicara, toko kitab hanya buka tengah malam, hingga toko nan bisa menghubungkan visitor dengan bumi nan nggak terduga?

Jika Anda menyukai cerita khayalan nan dipadukan dengan kehangatan kehidupan sehari-hari, The Alley of Fantasy Bookshops bisa menjadi referensi nan tepat.

Di kembali unsur fantasinya, kitab ini juga membahas beragam persoalan nan dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari persahabatan, pencarian jati diri, impian, hingga proses memahami diri sendiri. Lalu, apakah kumpulan cerpen ini layak dibaca? Yuk, simak review lengkapnya berikut ini, Grameds!

Sinopsis Buku The Alley of Fantasy Bookshops

button cek gramedia com

The Alley of Fantasy Bookshops merupakan kumpulan cerita khayalan karya beberapa penulis Korea seperti Cho Young Joo, Chung Myung Seob, Kim Seol Ah, Lee Jinn, dan Lim Jih Young. Buku ini membujuk pembaca menjelajahi gang misterius nan dipenuhi toko kitab ajaib dengan kisah-kisah unik di setiap sudutnya.

Cerita utamanya berpusat pada sebuah gang nan dulu ramai oleh para pencinta buku, tetapi sekarang hanya menyisakan satu toko berjulukan Toko Buku Kuburan. Di tempat inilah tersimpan buku-buku nan belum pernah dibaca hingga selesai oleh siapa pun. Menariknya, buku-buku tersebut bisa berbincang dan mengeluhkan nasib mereka nan terlupakan.

Melalui premis nan unik ini, pembaca diajak memandang gimana sebuah kitab menyimpan cerita, perasaan, dan angan untuk ditemukan oleh pembacanya.

Cerita-Cerita Pendek nan Menjadi Daya Tarik Utama The Alley of Fantasy Bookshops

Salah satu perihal nan membikin The Alley of Fantasy Bookshops terasa menarik adalah keberagaman cerita pendek nan ada di dalamnya. Buku ini berisi lima cerpen dengan tema utama nan sama, ialah toko buku. Namun, masing-masing cerita menawarkan konsep, konflik, dan nuansa nan berbeda-beda.

Kelima cerpen tersebut adalah Toko Buku Empat Dimensi dan Monster nan Berputar-Putar, Mencari Monochrome Heart, Tas Pink Rabbit dan Toko Buku Tengah Malam, Gentayangan di Toko Buku, dan Taktik Paling Sempurna untuk Mencuri Krillin.

Tas Pink Rabbit dan Toko Buku Tengah Malam

Bagi Grameds nan menyukai cerita hangat dengan sentuhan reflektif, cerita Tas Pink Rabbit dan Toko Buku Tengah Malam karya Lim Jih Young mungkin bakal menjadi favorit kamu.

Cerpen ini nggak menghadirkan sihir, monster, alias bumi paralel; keajaiban dalam cerita justru lahir dari percakapan sederhana antara orang-orang asing nan dipertemukan oleh sebuah toko kitab nan hanya buka pada malam hari.

Konsep tokonya pun unik. Pengunjung kudu membeli “Buku Hari Ini” nan telah dipilih oleh pemilik toko. Setelah itu, mereka bakal mendapatkan minuman cuma-cuma untuk menemani waktu membaca di sana.

Dari premis sederhana tersebut, cerita berkembang menjadi pembahasan nan lebih dalam tentang persahabatan, impian, pengorbanan, hingga tekanan sosial nan sering dialami orang dewasa.

Cerita ini juga mempertanyakan beragam norma nan sering dianggap wajib oleh masyarakat, seperti menikah pada usia tertentu alias mempunyai kehidupan nan dianggap “sesuai standar”.

Mencari Monochrome Heart

Jika Grameds lebih menyukai cerita-cerita fantasi, Mencari Monochrome Heart karya Lee Jinn menjadi salah satu cerita nan nggak boleh dilewatkan.

Cerita ini menghadirkan sebuah toko kitab nan dipenuhi buku-buku lama dan terlupakan. Namun, ada satu perihal nan membikin toko tersebut berbeda dari toko kitab biasa: semua kitab di sana dapat berbicara.

Alih-alih tak bersuara menunggu pembaca, buku-buku tersebut justru sibuk mempromosikan diri mereka masing-masing. Mereka saling bersaing, berdebat, apalagi saling mengejek demi mendapatkan kesempatan untuk dibaca.

Konsep ini menghasilkan banyak momen kocak nan membikin cerita terasa hidup. Di kembali humornya, cerpen ini juga menyampaikan pesan bahwa setiap kitab mempunyai nilai dan cerita nan layak untuk ditemukan, meskipun mungkin tidak terkenal alias telah terlupakan oleh waktu.

Toko Buku Empat Dimensi dan Monster nan Berputar-Putar

Cerpen pertama dalam kitab ini menghadirkan salah satu konsep khayalan paling unik, Grameds.

Kamu bakal menemukan toko kitab lintas dimensi, monster misterius, dan petualangan nan berjalan dengan cepat. Secara ide, cerita ini mempunyai potensi nan sangat besar untuk dikembangkan menjadi novel alias cerita nan lebih panjang.

Sayangnya, lantaran formatnya berupa cerpen, perkembangan plot terasa sangat cepat. Peristiwa demi peristiwa terjadi secara sigap sehingga pembaca nggak mempunyai banyak waktu untuk memahami bumi khayalan nan sebenarnya cukup menarik tersebut.

Gentayangan di Toko Buku

Berbeda dengan cerpen sebelumnya nan penuh konsep rumit, Gentayangan di Toko Buku menawarkan cerita nan lebih ringan dan mudah diikuti.

Cerpen ini menggunakan premis khayalan nan cukup familiar, ialah jiwa seseorang nan terpisah dari tubuhnya ketika berada dalam kondisi koma. Walaupun bukan buahpikiran nan betul-betul baru, penulis sukses mengemasnya menjadi kisah nan menghibur dan menyenangkan untuk dibaca.

Bagi Grameds nan menyukai cerita khayalan ringan tanpa terlalu banyak teka-teki, cerpen ini bisa menjadi salah satu referensi nan cukup menghibur di dalam antologi.

Taktik Paling Sempurna untuk Mencuri Krillin

Di antara lima cerpen dalam kitab ini, Taktik Paling Sempurna untuk Mencuri Krillin terasa paling berbeda.

Jika cerita-cerita lain menjadikan toko kitab sebagai pusat narasi, cerpen ini justru menempatkan toko kitab sebagai bagian dari penyelesaian bentrok nan muncul di akhir cerita. Fokus utama cerita lebih banyak berada pada perjalanan tokohnya dibandingkan bumi toko kitab itu sendiri.

Pendekatan tersebut membikin cerpen ini mempunyai warna nan berbeda dibandingkan cerita lainnya. Meskipun mungkin nggak bakal menjadi favorit semua pembaca, kehadirannya tetap memberikan ragam nan membikin antologi ini terasa lebih beragam.

Kelebihan dan Kekurangan Buku The Alley of Fantasy Bookshops

Pros & Cons

Pros

  • Konsep bookshop fantasy nan menarik
  • Tema remaja nan dekat dengan pembaca
  • Mudah dibaca dan cocok untuk pemula
  • Variasi style penulisan dari lima penulis
  • Ada cerita nan sangat berkesan

Cons

  • Kualitas cerita naik turun
  • Pengembangan beberapa cerita kurang mendalam
  • Alur beberapa cerpen terasa terburu-buru
  • Masih ditemukan typo

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan buku:

Kelebihan Buku The Alley of Fantasy Bookshops

1. Mengangkat Konsep Toko Buku nan Unik dan Kreatif

Salah satu daya tarik utama kitab ini adalah gimana setiap cerpen menjadikan toko kitab sebagai bagian krusial dari cerita.

Di sini, Anda bakal menemukan beragam jenis toko kitab dengan konsep nan tidak biasa, mulai dari toko kitab empat dimensi, toko kitab tengah malam, hingga toko kitab nan menjadi tempat para arwah menjalani “misi” sebelum kembali ke bumi nyata.

2. Membahas Berbagai Permasalahan Remaja

Meski dibalut dengan unsur fantasi, kitab ini juga mengangkat beragam persoalan nan dekat dengan kehidupan remaja. Mulai dari pencarian jati diri, persahabatan, masa depan, rasa kesepian, hingga kemauan untuk diterima oleh lingkungan sekitar.

Karena itu, Grameds nan tetap remaja alias pernah mengalami masa-masa tersebut bakal lebih mudah terhubung dengan para tokohnya.

3. Ceritanya Ringan dan Mudah Diikuti

Sebagai kumpulan cerpen, kitab ini mempunyai alur nan cukup ringan dan nggak terlalu rumit, Grameds. Setiap cerita bisa dinikmati dalam waktu singkat tanpa perlu mengingat banyak karakter alias bentrok nan kompleks.

Hal ini membikin The Alley of Fantasy Bookshops cocok untuk Grameds nan baru mulai membaca aliran khayalan alias mau mencoba membaca kitab kumpulan cerpen.

4. Setiap Penulis Memiliki Gaya Bercerita nan Berbeda

Karena ditulis oleh lima penulis nan berbeda, setiap cerpen mempunyai karakter tersendiri. Ada cerita nan lebih perincian dan emosional, ada juga nan lebih ringan dan penuh humor.

Perbedaan style penulisan ini membikin pengalaman membaca terasa lebih beragam dan nggak monoton dari awal hingga akhir.

5. Beberapa Cerita Meninggalkan Kesan nan Mendalam

Cerita seperti Tas Pink Rabbit dan Toko Buku Tengah Malam serta Gentayangan di Toko Buku sukses menghadirkan pesan nan hangat tentang kehidupan, persahabatan, dan proses memahami diri sendiri.

Meski sederhana, beberapa cerpen bisa meninggalkan kesan nan cukup lama setelah selesai dibaca.

Kekurangan Buku The Alley of Fantasy Bookshops

1. Kualitas Cerita Nggak Selalu Konsisten

Karena merupakan kumpulan cerpen dari beberapa penulis, kualitas dan daya tarik setiap cerita terasa berbeda. Ada cerita nan sangat menarik dan berkesan, tetapi ada juga nan mungkin kurang cocok dengan selera sebagian pembaca.

2. Beberapa Ide Fantasi Kurang Dikembangkan

Beberapa cerita sebenarnya mempunyai konsep nan sangat menarik dan berpotensi menjadi cerita nan lebih panjang. Namun, lantaran terbatas dalam format cerpen, pengembangan bumi dan karakternya terkadang terasa kurang mendalam.

3. Ada Cerita nan Alurnya Terasa Membingungkan

Tak semua cerpen nan datang di sini mempunyai alur nan mengalir dengan mulus, Grameds. Beberapa bagian terasa beranjak terlalu sigap alias kurang memberikan penjelasan nan cukup sehingga pembaca perlu lebih konsentrasi untuk mengikuti jalan ceritanya.

4. Terdapat Kesalahan Penulisan (Typo)

Bagi sebagian pembaca, keberadaan beberapa kesalahan penulisan alias typo mungkin cukup mengganggu pengalaman membaca. Meskipun nggak terlalu banyak, kesalahan mini seperti ini tetap dapat mengurangi kenyamanan saat menikmati cerita.

5. Tidak Semua Cerita Memanfaatkan Tema Toko Buku Secara Maksimal

Meskipun seluruh cerpen mempunyai keterkaitan dengan toko buku, ada beberapa cerita nan menjadikan toko kitab hanya sebagai latar alias bagian mini dari cerita.

Akibatnya, nuansa “bookshop fantasy” nan menjadi daya tarik utama antologi ini terasa lebih kuat pada beberapa cerpen dibandingkan nan lain.

Kesimpulan

The Alley of Fantasy Bookshops adalah kumpulan cerpen khayalan nan hangat, ringan, dan penuh khayalan tentang bumi kitab dan toko buku, Grameds.

Melalui lima cerita dengan konsep nan berbeda, kitab ini sukses menghadirkan kisah tentang persahabatan, pencarian jati diri, dan angan dengan langkah nan menarik.

Penulis: Yulian Dwi Nugroho

Rekomendasi Buku Terkait

  1. Forever Monday

Forever Monday

button cek gramedia com

Ingga akhirnya mendapatkan hari Senin sebagai hari spesial untuk menjadi pacar Eras, seorang playboy nan mempunyai banyak pacar dan membagi satu wanita untuk setiap hari dalam seminggu. Meski hubungan itu terasa aneh, Ingga tetap menjalaninya lantaran dia mencintai Eras.

Kehidupan Ingga mulai berubah saat dia berjumpa Kale, laki-laki tampan lain nan juga dikenal sebagai playboy. Kale membawa warna baru dalam hidup Ingga nan sebelumnya terasa suram. Ia mengajarkan Ingga langkah bersenang-senang, menikmati hidup, dan belajar mencintai dirinya sendiri. Kehadiran Kale membikin hati Ingga goyah, tetapi Ingga tetap susah melepaskan Eras.

Di tengah hubungan rumit itu, terungkap bahwa Eras dan Kale pernah berkawan dekat, namun sekarang terpisah oleh dendam lama nan berpotensi menghancurkan hidup mereka semua.

  1. Harapan Dari Tempat Paling Jauh

Harapan dari Tempat Paling Jauh

button cek gramedia com

Vanka menjalani hidupnya hanya demi sang ibu. Ia berupaya keras menjadi siswa berprestasi dan konsentrasi pada pendidikan agar ibunya mau menerima keberadaannya sebagai anak di luar nikah. Karena ambisi itu, Vanka tumbuh menjadi sosok penyendiri di sekolah.

Dalam perjalanannya, dia kudu berurusan dengan Oliver, siswa terkenal nan terlihat arogan tetapi sebenarnya menyimpan banyak ketakutan. Di sisi lain, Oliver juga hidup demi kakeknya. Ia menjadi tokoh terkenal dan berupaya terlihat normal demi menyenangkan sang kakek.

Pertemuan Vanka dan Oliver diawali dengan rasa tidak suka dan dendam, tetapi seiring waktu hubungan mereka berubah menjadi persahabatan. Mereka saling berjuntai dan bersama-sama mencari angan untuk memperkuat dari luka dan gelapnya kehidupan masing-masing.

  1. Represi

Represi

button cek gramedia com

Pada awalnya, hidup Anna tampak melangkah normal. Ia memang tidak terlalu dekat dengan ayahnya, tetapi tetap mempunyai ibu nan peduli serta sahabat-sahabat setia nan selalu menemani sejak masa SMA. Sahabat-sahabatnya mengenal Anna dengan baik dan selalu ada untuknya. Namun, perlahan keadaan mulai berubah. Anna mulai menjauh dari teman-temannya tanpa argumen jelas. Hubungannya dengan sang ibu juga semakin buruk. Sosok Anna nan dulu dikenal ceria dan dekat dengan orang-orang terdekatnya berubah menjadi pribadi nan asing.

Tidak ada nan betul-betul mengetahui luka dan beban nan dia simpan selama ini. Hingga pada akhirnya, Anna memutuskan mengakhiri hidupnya, meninggalkan pertanyaan besar dan realita pahit bahwa dia selama ini memendam banyak penderitaan sendirian.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia