Review Buku Berpayung Tuhan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Berpayung Tuhan – Halo, Grameds! Pernahkah Anda membayangkan gimana rasanya memandang kembali seluruh perjalanan hidupmu setelah meninggal dunia?

Berpayung Tuhan karya Jaquenza Eden bukan sekadar kisah tentang keluarga, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang kehidupan, penyesalan, dan kasih sayang orang tua nan sering kali kita abaikan saat tetap ada kesempatan. 

Kamu bakal diajak mengikuti perjalanan Khalil, seorang laki-laki muda nan memutuskan mengakhiri hidupnya dan gimana perihal tersebut memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Yuk, Grameds, simak ulasan komplit kitab Berpayung Tuhan di bawah ini, untuk mengetahui apakah kitab ini bisa menjadi rekomendasi kitab bacaanmu selanjutnya!

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Sinopsis Buku Berpayung Tuhan 

Katanya, setelah seseorang meninggal bumi bakal dihadapkan pada sebuah layar besar. Di mana bakal ditampilkan setiap segmen dari pertama kali lahir ke bumi hingga akhirnya kembali kepada Sang Pencipta. Maka, disinilah Khalil berada. Di ruangan serba putih nan sepi, sunyi, dan hanya diisi oleh dirinya sendiri dengan sebuah televisi berukuran besar.

Khalil Syailendra, laki-laki berumur 25 tahun, penyair dan penulis nan memulai karirnya 7 tahun nan lalu. Sebelum ulang tahunnya nan ke 26, dia menggunakan tangannya untuk merenggut nyawanya sendiri. la pikir, segala penderitaannya bakal berhujung andaikan dia mengakhiri hidupnya, lampau Ibu dan Bapak bakal berbahagia, dan keduanya pun bakal tetap menjalani hidup seperti biasanya. Namun, rupanya dia salah, Ibu dan Bapak tak lagi pernah berbahagia. Jiwa keduanya seperti ikut meninggal dan terkubur berbareng Khalil.

Lantas, setelah menyaksikan setiap segmen nan diputar ibaratkan klip movie itu, apa nan dirasakan oleh Khalil Syailendra?Apa nan dia rasakan setelah menjadi bagian dari sebuah kematian nan dia rencanakan? 

Tentang Penulis Buku Berpayung Tuhan

Berpayung Tuhan ditulis oleh Jaquenza Eden alias lebih dikenal dengan nama pena @1998ur_. Eden merupakan penulis nan sebelumnya sudah melahirkan sejumlah karya populer, di antaranya Dirgantara dan Kepulangan, Bunda Aku Gak Suka Dipukul, serta Narasi Perihal Ayah.

Novel Berpayung Tuhan sendiri pertama kali mencuri perhatian di Twitter, dengan capaian lebih dari 1,4 juta tayangan, serta sukses mengumpulkan 44 ribu suka dan 18 ribu markah hanya dalam beberapa hari sejak dirilis. Pencapaian tersebut menunjukkan gimana kisah nan diangkat Eden sukses menarik hati banyak pembaca sejak awal kemunculannya.

Trigger Warning: Membahas Tentang Bunuh Diri

“Jangan pulang sebelum dijemput, ya. Ada banyak halte nan kudu kau tuju. Sebelum tiba pada tempat terakhir guna berpulang.” 

Dalam Berpayung Tuhan, tema bunuh diri (suicide) muncul sebagai salah satu titik krusial dalam pengembangan cerita. Grameds, Eden tidak menulisnya untuk meromantisasi kematian, melainkan untuk menggambarkan gimana keputusasaan, rasa hampa, dan beban hidup bisa membawa seseorang pada pikiran untuk mengakhiri nyawanya sendiri.

Kisah ini memperlihatkan bahwa tindakan bunuh diri bukanlah penyelesaian dari penderitaan, melainkan meninggalkan luka baru bagi family nan ditinggalkan. Sama seperti refleksi pada tokoh Khalil dalam narasi sebelumnya, Berpayung Tuhan menegaskan bahwa kematian nan direncanakan justru menghadirkan duka panjang dan rasa bersalah bagi orang-orang terdekat.

Kasus Khalil sebagai Titik Awal

Grameds, kisah Khalil Syailendra bisa kita jadikan sebagai pintu masuk untuk membicarakan rumor bunuh diri. Ia adalah seorang penulis muda nan memilih mengakhiri hidupnya sebelum berumur 26 tahun. Dalam narasi nan dibangun, Khalil berada di sebuah ruang putih, dipaksa menyaksikan ulang seluruh perjalanan hidupnya lewat layar besar. 

Cerita dalam kitab Berpayung Tuhan ini memang fiksi, tetapi sering kali mencerminkan pergulatan jiwa banyak orang nan berada di periode keputusasaan. Dari sini, kita bisa mulai memandang gimana keputusan ekstrim seperti bunuh diri tidak hanya berakibat pada diri sendiri, tetapi juga pada family dan lingkungan sekitar.

Motivasi dan Suicidal Thoughts

Dalam kisah ini, Khalil percaya bahwa dengan mengakhiri hidupnya, penderitaannya bakal selesai dan orang tuanya bisa lebih bahagia. Grameds, pola pikir seperti ini disebut distorsi kognitif, ialah kesalahan langkah berpikir nan membikin seseorang merasa dirinya adalah beban. Pandangan itu rawan lantaran jarang sekali sesuai dengan kenyataan. Seringkali, alasan-alasan tersebut lahir dari rasa putus asa, kelelahan emosional, dan kepercayaan keliru tentang makna keberadaan diri. 

Melalui kisah Khalil, kita diajak memandang bahwa logika “mereka bakal lebih baik tanpaku” hanyalah jebakan pikiran nan justru berakibat fatal.

Tanda Peringatan dan Perilaku Pra-Krisis

Grameds, sebelum seseorang sampai pada keputusan akhir, biasanya ada tanda-tanda mini nan muncul. Dalam cerita, Khalil menutup telepon, menolak bantuan, alias menuliskan argumen nan terlihat masuk logika bagi dirinya. Dalam kehidupan nyata, tanda peringatan bunuh diri bisa berupa:

  • Menarik diri dari hubungan sosial.
  • Mengungkapkan emosi putus asa alias tidak berguna.
  • Perubahan drastis pada pola tidur dan makan.
  • Membuat pernyataan langsung alias tersirat tentang mau mati.
  • Memberikan peralatan berbobot alias menulis pesan perpisahan.

Sayangnya, tanda-tanda ini sering kali dianggap tidak serius. Padahal, mengenali sinyal awal ini bisa menjadi langkah krusial untuk mencegah peristiwa ini terjadi.

Dampak pada Keluarga dan Lingkungan Sosial

“Quarter life crisis is suck. Sejujurnya, saya takut mati. Namun ternyata, hidup pun tampak lebih menakutkan daripada sebuah kematian. Aku mau hidup jauh lebih lama lagi, saya mau menua berbareng Ibu dan Bapak. Namun… jiwa dan ragaku sudah tak bisa untuk memperkuat meski hanya sebentar.”

Grameds, salah satu bagian paling menyayat dalam kisah Khalil adalah ketika dia sadar bahwa kematiannya bukan membikin orang tua bahagia, melainkan justru memadamkan semangat hidup mereka. Rasa kehilangan seorang anak adalah luka nan dalam, dan sering kali menimbulkan trauma berkepanjangan. Banyak family korban bunuh diri mengalami complicated grief, ialah duka nan bercampur rasa bersalah, marah, dan stigma sosial. 

Dalam kasus Khalil, jiwa Ibu dan Bapak seakan ikut terkubur berbareng kepergiannya. Inilah bukti nyata bahwa bunuh diri bukan hanya “akhir” bagi individu, melainkan juga sebuah kemandang panjang nan menghantam kehidupan orang-orang nan ditinggalkan.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Berpayung Tuhan

Pros dan Cons

Pros & Cons

Pros

  • Premis unik.
  • Narasi lugas dan tidak menye-menye.
  • Hubungan family nan hangat.
  • Penuh dengan refleksi dan renungan diri.

Cons

  • Alur awal terasa lambat.
  • Repetitif.
  • Karakter pendukung seperti tempelan.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan kitab Berpayung Tuhan karya Jaquenza Eden.

  1. Kelebihan Buku Berpayung Tuhan
  • Premis nan Berani dan Menggugah Refleksi

Grameds, salah satu perihal nan menjadi kelebihan utama dari kitab Berpayung Tuhan adalah keberanian Jaquenza Eden dalam mengangkat premis nan jarang disentuh penulis lain. Cerita tentang kehidupan setelah kematian, khususnya pengalaman seseorang nan mengakhiri hidupnya sendiri, memberi warna baru dalam aliran buku-buku remaja nan biasanya hanya konsentrasi pada percintaan semata.

Premis ini bukan hanya unik, tetapi juga menantang kita sebagai pembaca untuk masuk ke ruang refleksi diri sendiri nan lebih dalam mengenai makna hidup, penyesalan, dan kasih sayang keluarga. 

  • Narasi Sederhana dengan Kekuatan Emosional

Narasi nan dibangun Eden terasa sederhana, lugas dan tidak terkesan menye-menye, namun tetap menyimpan kekuatan puitis nan membikin setiap segmen meninggalkan kesan emosional. Grameds nggak hanya diajak mengikuti alur cerita, tapi juga seakan-akan ikut merasakan kesedihan, amarah, dan penyesalan nan dialami Khalil. 

Penyampaian nan tenang tapi tajam ini membikin emosi dalam cerita terasa lebih dekat dengan pembaca. Tanpa perlu dramatisasi berlebihan, kisahnya tetap bisa menyentuh sisi paling individual dari pengalaman manusia.

  • Hubungan Orang Tua dan Anak sebagai Inti Cerita

Kelebihan lain nan tidak kalah krusial adalah keahlian Eden menempatkan hubungan orang tua dan anak sebagai inti cerita. Dari kilas kembali kehidupan nan ditayangkan dalam layar besar, Grameds bisa memandang sungguh besar perjuangan dan kasih sayang orang tua sejak kelahiran anaknya.

Hal-hal nan sering kali luput dari perhatian dalam kehidupan sehari-hari justru menjadi sorotan krusial dalam cerita ini. Karena itu, Berpayung Tuhan tidak sekadar menjadi referensi semata, tetapi juga menjadi bahan refleksi tentang kehidupan dan hubungan family nan telah kita jalani.

2. Kekurangan Buku Berpayung Tuhan

  • Alur Cerita nan Terasa Lambat di Awal

Meski begitu, Berpayung Tuhan tetap mempunyai beberapa kekurangan nan perlu diperhatikan, Grameds. Dari segi alur, bagian awal cerita terasa melangkah sangat lambat sebelum akhirnya sampai ke bentrok utama. Hal ini bisa membikin sebagian pembaca merasa jenuh terhadap cerita nan ditampilkan, terutama bagi kalian nan terbiasa disodori cerita dengan alur nan cepat. 

Tempo nan lambat ini membikin ketegangan cerita belum langsung terasa sejak awal. Akibatnya, beberapa pembaca mungkin memerlukan kesabaran lebih untuk tetap mengikuti alur hingga cerita betul-betul memasuki bagian bentrok utamanya.

  • Narasi nan Kadang Terasa Repetitif

Selain itu, pengulangan narasi tentang penyesalan dan penderitaan Khalil kadang terasa repetitif, sehingga emosi nan semestinya semakin memuncak justru berpotensi melemah lantaran pembaca disuguhi emosi nan sama dalam beberapa bagian cerita.

Hal ini membikin Berpayung Tuhan terasa cukup melelahkan dan menguras emosi pembaca. Alih-alih memperkuat akibat emosional, narasi nan terus berulang justru bisa membikin sebagian pembaca merasa jenuh ketika mengikuti perjalanan jiwa tokoh utama.

  • Pengembangan Karakter Pendukung Kurang Mendalam

Dari segi pengembangan karakter, konsentrasi cerita nan begitu kuat pada Khalil membikin tokoh-tokoh lain, termasuk orang tua alias lingkungan sekitarnya, tidak banyak dieksplorasi secara mendalam. Karakter-karakter pendukung terasa seperti tempelan semata nan tidak mempunyai peran signifikan dalam cerita.

Padahal, menambahkan perspektif dari tokoh lain mungkin bisa memberikan perspektif pandang nan lebih luas mengenai akibat dari keputusan tragis nan diambil Khalil. 

  • Tema Cerita nan Cukup Berat

Nggak hanya itu, tema nan berat seperti depresi, keputusasaan, dan bunuh diri bisa menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian pembaca, Grameds.

Bagi kalian nan nggak terbiasa membaca cerita dengan bentrok emosional seperti ini, Berpayung Tuhan mungkin terasa terlalu menyesakkan Beban emosional nan kuat dalam cerita berpotensi membikin pembaca merasa capek dan akhirnya kehilangan minat untuk melanjutkan bacaan.

Kesimpulan

Berpayung Tuhan adalah kitab nan bukan hanya menghadirkan kisah keluarga, tetapi juga perjalanan emosional tentang kehilangan, penyesalan, dan makna sebuah kehidupan, Grameds. 

Dengan premis unik tentang kehidupan setelah kematian, Jaquenza Eden sukses meramu cerita sederhana nan sarat bakal makna-makna kehidupan.

Dengan segala kelebihannya, Berpayung Tuhan sangat layak dibaca, terutama buat Anda nan sedang mencari referensi nan penuh dengan renungan tentang hubungan manusia baik dengan dirinya sendiri maupun keluarganya.

Buku ini bukan sekadar kisah fiksi belaka, Grameds, melainkan pengingat bahwa seberat apapun ujian nan kita lalui, hidup tetap layak untuk dijalani.

Rekomendasi Buku Terkait

Berikut adalah rekomendasi kitab nan bisa Anda baca setelah menyelesaikan kitab Berpayung Tuhan karya Jaquenza Eden.

  1. Forever Monday 

Forever Monday

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Ingga akhirnya mendapatkan hari Senin untuk menjadi pacar Eras, playboy nan punya begitu banyak pacar, satu gadis untuk satu hari. Sampai Ingga berjumpa Kale, playboy lainnya nan bermuka tampan.

Hari-hari bergulir, di samping kisah cinta nan rumit, kebenaran demi kebenaran bermunculan. Fakta bahwa Eras dan Kale dulu adalah sahabat dekat. Dendam lama nan disimpan rapi selama bertahun-tahun sekarang menuntut pembalasan. Pembalasan nan bakal menghancurkan hidup Ingga dan orang-orang nan disayanginya.

  1. Harapan Dari Tempat Paling Jauh 

 Harapan dari Tempat Paling Jauh

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Hidup Vanka hanya untuk ibunya. Dia memilih konsentrasi belajar dan mengejar prestasi ini-itu sampai menjadi salah satu siswa penyendiri di sekolah, untuk ibunya. Vanka berkeinginan menjadi nan terbaik agar ibunya sudi mengampuni status Vanka sebagai anak di luar nikah. Namun, di tengah usahanya membuktikan diri, Vanka malah kudu berurusan dengan Oliver, si laki-laki arogan nan rupanya mempunyai banyak ketakutan ganjil.

Awal hubungan keduanya ditandai tidak suka dan dendam. Tak ada nan menduga bahwa suatu hari keduanya bakal berteman, saling bergantung, dan saling mengumpulkan angan demi angan nan mereka sangka dapat dijadikan argumen untuk bertahan. Harapan nan mereka kira dapat menyelamatkan mereka dari lautan kegelapan.

  1. Represi 

 Represi

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Awalnya hidup Anna melangkah baik-baik saja. 

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, Anna punya seorang ibu dan para sahabat nan setia. Sejak SMA, para sahabatnya nan mendampingi Anna, memahami gadis itu melampaui dirinya sendiri. 

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan dia dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok nan semakin asing. Tidak ada nan tahu apa nan terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya nan rupanya penuh luka.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia