Retaknya Solidaritas Afrika di Piala Dunia: Sentimen Xenofobia Picu Dukungan untuk Meksiko

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Sentimen Xenofobia Picu Dukungan untuk Meksiko Ilustrasi.(Al Jazeera)

SOLIDARITAS khas Benua Hitam nan biasanya terlihat di awal turnamen Piala Dunia tampak memudar di jagat media sosial. Fenomena unik sekaligus memprihatinkan terjadi saat banyak fans sepak bola dari beragam negara Afrika justru memberikan support kepada Meksiko dalam laga pembuka melawan Afrika Selatan.

Dukungan tersebut bukan tanpa alasan. Di kembali deretan meme jenaka nan menampilkan topi sombrero dan bendera Meksiko, tersimpan kemarahan mendalam terhadap laporan kekerasan xenofobia nan kembali marak di Afrika Selatan. Kekalahan 2-0 Bafana Bafana dari tim tuan rumah berbareng Piala Dunia tersebut disambut dengan gelombang unggahan bersuara sindiran di media sosial.

Protes Politik lewat Sepak Bola

Bagi sebagian besar suporter Afrika, mendukung Meksiko adalah corak protes terhadap perlakuan jelek nan dialami para migran di Afrika Selatan. Ketegangan mengenai rumor migrasi ini menjadi argumen utama persaudaraan regional nan biasanya kokoh sekarang retak.

"Kami mendukung Meksiko agar Afrika Selatan bisa pulang lebih awal untuk menjaga pekerjaan mereka," tulis salah satu pengguna media sosial, menyindir tuduhan tak berdasar bahwa penduduk asing bertanggung jawab atas tingginya nomor pengangguran di sana.

Daniel Kaniki, seorang pendukung asal Kongo, menegaskan sentimen tersebut. "Afrika itu seperti satu negara. Jika ada satu nan mengusir nan lain, kita bukan family lagi. Itulah argumen saya mendukung Meksiko hari ini," ujarnya kepada BBC.

Konteks Krisis: Kelompok antimigran di Afrika Selatan menetapkan tenggat waktu hingga 30 Juni bagi penduduk negara asing nan tinggal secara terlarangan untuk meninggalkan negara tersebut. Hal ini memicu gelombang pemindahan penduduk negara oleh Nigeria, Ghana, Zimbabwe, dan Malawi.

Respons Pemerintah dan Rakyat Afrika Selatan

Meskipun dihujani kritik, pemerintah Afrika Selatan tetap memberikan apresiasi atas perjuangan Bafana Bafana. Dalam pernyataan resminya, pemerintah memuji penampilan tim nan dianggap telah mewakili bangsa dengan persatuan dan tekad kuat di panggung dunia.

Warga Afrika Selatan di media sosial pun tidak tinggal tak bersuara menghadapi perundungan tersebut. Mereka menegaskan bahwa tim nasional mereka lolos ke Piala Dunia atas upaya sendiri tanpa memerlukan support dari negara tetangga nan sekarang memusuhi mereka. "Kami tetap mencintai negara kami dan migran terlarangan tetap kudu pergi terlepas dari kebencian kalian," tulis salah satu netizen setempat.

Akar Masalah: Ekonomi dan Xenofobia

Sentimen antimigran di Afrika Selatan bukanlah rumor baru. Namun intensitasnya meningkat seiring dengan nomor pengangguran nan menembus 30%. Sejak berakhirnya kekuasaan minoritas kulit putih pada 1994, banyak penduduk Afrika pindah ke negara ini demi kehidupan nan lebih baik.

Presiden Cyril Ramaphosa memperingatkan penduduk agar tidak main pengadil sendiri. Namun dia juga mengakui bahwa kekhawatiran masyarakat mengenai lapangan kerja perlu didengar dan ditangani secara serius.

Kini, di tengah turnamen sepak bola terbesar di dunia, Afrika Selatan tidak hanya kudu berjuang di lapangan hijau untuk membuktikan keahlian mereka, tetapi juga menghadapi krisis gambaran di mata saudara-saudara sebenua. (BBC/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia