Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres(AFP)
SEKRETARIS Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyambut baik kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat dan Iran nan mencakup gencatan senjata permanen serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Guterres menilai kesepakatan ini sebagai sebuah "langkah kritis" menuju penyelesaian perang di Timur Tengah.
"Sekretaris Jenderal berambisi para pihak bakal memanfaatkan momentum baru ini dan melipatgandakan upaya mereka menuju penyelesaian akhir dari bentrok tersebut," kata Guterres dalam sebuah pernyataan nan disampaikan oleh ahli bicaranya, Stephane Dujarric, pada hari Minggu waktu setempat.
Respons positif juga datang dari Eropa. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyatakan para pemimpin G7 bakal menggelar obrolan pada hari Senin untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz secara jangka panjang di bawah perjanjian baru AS-Iran tersebut.
Melalui sebuah video di IG nan diunggah saat KTT G7 di Prancis pada hari Minggu, Macron menjelaskan agenda pertemuan tersebut.
"Tujuannya adalah untuk memandang akibat dari perjanjian ini, support untuk Libanon, pembukaan kembali Hormuz secara berkepanjangan dan tentu saja pembuatan kesepakatan mengenai aktivitas nuklir dan balistik di Iran," ujar Macron.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan sedikit penjelasan mengenai waktu operasional jalur laut strategis tersebut. Trump menyebut Selat Hormuz bakal dibuka kembali setelah rencana penandatanganan perjanjian tenteram dengan Iran pada hari Jumat. Pernyataan ini sedikit mengubah ucapan sebelumnya nan menyebut jalur air krusial itu bakal langsung dibuka seketika.
"Kesepakatan Besar ini bakal membawa Perdamaian dan Keamanan bagi seluruh Kawasan," tulis Trump di media sosial Truth Social pada hari Minggu.
Kemenangan Besar
Pihak Iran menunjukkan narasi nan berbeda di dalam negeri. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan negaranya telah "meraih kemenangan besar" dalam perang melawan Amerika Serikat.
"Musuh nan telah menyerang untuk melaksanakan tujuan jahatnya telah dikalahkan dalam semua tujuannya dan Republik Islam Iran memenangkan kemenangan besar dalam perang," ungkap Gharibabadi dalam komentar nan disiarkan televisi pada Senin awal hari.
Gharibabadi menambahkan Iran bakal mengadakan pembicaraan lanjutan dengan AS dalam waktu dua bulan ke depan untuk mengupayakan "perjanjian akhir".
"Ketika negosiasi dimulai dalam waktu 60 hari dengan tujuan mencapai perjanjian akhir, jika perjanjian akhir tersebut pada akhirnya tercapai, rumor utama bagi kami tentu saja adalah penerapan dari ketentuan-ketentuannya," jelas Gharibabadi.
Senada dengan pemerintah, pihak militer Iran mengeluarkan pernyataan tegas nan menyebut mereka telah "mempermalukan" Amerika Serikat dan Israel seiring berakhirnya bentrok ini.
"Pasukan Iran telah, melalui pengenaan kehendak ilahi dan besi mereka atas musuh-musuh Amerika dan Zionis nan dipermalukan, menunjukkan dengan kekuatan bahwa musuh tidak mempunyai jalan lain selain menerima kekalahan dan penyerahan diri," bunyi pernyataan staf umum militer Iran nan disiarkan oleh televisi negara pada hari Senin. (AFP/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·