Jakarta -
Anggota Komisi V DPR Boyman Harun meminta BMKG tidak menggunakan bahasa nan susah dalam menyampaikan info mengenai musibah kepada masyarakat. Sekretaris Utama (Sestama) BMKG Guswanto menyebut upaya penggunaan bahasa nan sederhana sudah dilakukan.
"Sebenarnya itu sudah melakukan kita. BMKG itu kan punya empat sasaran dalam diseminasi info ya. Satu, akurat, cepat, mudah dipahami, luas jangkauan. Mudah dipahami itu artinya bahwa BMKG sebenarnya selama ini mendiseminasikan info sudah menggunakan bahasa-bahasa nan bisa dipahami orang awam," kata Guswanto seusai rapat dengar pendapat (RDP) berbareng Komisi V DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Dia mengakui penyederhanaan bahasa itu memang butuh waktu sesuai wilayah masing-masing. BMKG, kata Guswanto, juga sudah mencoba menerjemahkan info dalam bahasa lokal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun memang butuh waktu lantaran kan perpindahan translation dari bahasa teknis menuju bahasa publik itu tergantung wilayahnya. Bahkan kita juga mencoba menerjemahkan ke dalam bahasa lokal," ungkapnya.
Guswanto mengatakan pihaknya setuju mengenai usulan untuk memberikan info kepada masyarakat dalam bahasa nan mudah dipahami. Namun dia mengakui perihal itu tetap kudu dilakukan secara bertahap.
"Jadi mengenai penggunaan bahasa nan membumi tadi kami setuju. Cuma tidak bisa langsung seperti membalik telapak tangan. Jadi kudu pelan-pelan," tuturnya.
Usulan Legislator soal BMKG Tak Pakai 'Bahasa Komputer'
Anggota Komisi V DPR Boyman Harun sebelumnya meminta BMKG tidak menggunakan bahasa nan susah dalam menyampaikan info mengenai musibah kepada masyarakat. Dalam rapat Komisi V dengan Basarnas dan BMKG, politikus PAN ini awalnya menyinggung kegunaan dan tugas dari BMKG nan belum maksimal.
"Yang mau saya sampaikan ke BMKG, saya memandang kegunaan dan tugas BMKG ini saya memandang belum maksimal, bukan optimal, tapi maksimal saja," kata Boyman.
BMKG diminta bersinergi dengan lembaga lainnya mengenai urusan kebencanaan. Boyman mencontohkan kejadian kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan semestinya BMKG bisa memberikan info nan dijadikan bahan mitigasi.
"Jadi jangan hanya menyampaikan, misalkan, pada bulan ini ntar musim panas alias jika bulan segini kelak musim hujan, maksud saya antisipasinya tidak ada," sebutnya.
Boyman baru menyinggung BMKG menggunakan bahasa nan susah dalam menyampaikan informasi. BMKG diminta menggunakan bahasa nan mudah agar masyarakat mengerti.
"Saya minta juga agar dalam memberikan info kepada masyarakat tidak usah menggunakan bahasa BMKG alias bahasa nan di-print dari komputer itu. Tidak semua masyarakat mengerti, kudu pakai bahasa kita saja, pakai bahasa nan mudah dimengerti, sehingga masyarakat tahu apa nan bakal terjadi," ujarnya.
(ial/ygs)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·