Resmikan Universitas Ciputra Jakarta, Gubernur Pramono Dorong Kampus Cetak Wirausaha

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Resmikan Universitas Ciputra Jakarta, Gubernur Pramono Dorong Kampus Cetak Wirausaha Ilustrasi(Dok.Universitas Ciputra Jakarta)

PERGURUAN tinggi dituntut tidak hanya melahirkan lulusan nan siap memasuki bumi kerja, tetapi juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan di tengah perubahan teknologi dan tantangan ekonomi. Universitas Ciputra Jakarta menjawab tantangan itu dengan mengintegrasikan praktik upaya nyata ke dalam pembelajaran sejak semester pertama.

Komitmen tersebut mengemuka dalam peresmian gedung Universitas Ciputra Jakarta di Ciputra International Superblock, Jakarta Barat, Kamis (15/10). Peresmian dilakukan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, nan menilai kehadiran kampus tersebut dapat memperkuat ekosistem pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan di Ibu Kota.

“Kehadiran Universitas Ciputra Jakarta memberikan warna baru bagi pendidikan di Jakarta. Melalui pendidikan nan menumbuhkan kreativitas, inovasi, jiwa entrepreneurship, serta berkontribusi dalam membangun Jakarta sebagai kota global,” ujar Pramono.

Universitas Ciputra Jakarta mengusung pendekatan pembelajaran nan menghubungkan teori akademik dengan persoalan upaya di lapangan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep kewirausahaan di ruang kelas, tetapi juga berlatih mengenali kebutuhan pasar, mengembangkan produk, menjalankan usaha, dan mengevaluasi hasilnya.

Pendekatan itu apalagi diperkenalkan sejak masa orientasi mahasiswa baru. Mahasiswa diajak membikin dan menjual produk secara berkelompok di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan. Melalui aktivitas tersebut, mereka belajar menentukan produk, memahami respons konsumen, membangun kerja sama, hingga mengelola perbedaan pendapat dalam tim.

Direktur Kampus Universitas Ciputra Jakarta Prof. Christina Eviutami Mediastika mengatakan, pengalaman kewirausahaan tersebut dirancang agar mahasiswa memperoleh pembelajaran praktis sejak awal masa kuliah. Orientasi tidak sekadar menjadi aktivitas seremonial, melainkan kesempatan untuk mengenal langsung proses membangun usaha.

Dalam satu golongan penjualan, mahasiswa nan belum tentu saling mengenal kudu bekerja sama menentukan produk dan strategi penjualan. Mereka juga belajar berdiskusi, mengemukakan pendapat, mengelola emosi, dan mengambil keputusan bersama.

“Menurut kami, Universitas Ciputra merupakan kampus nan menyiapkan mahasiswa bukan hanya untuk mencari kerja, tetapi juga untuk menciptakan lapangan kerja,” kata Evi.

Pengalaman awal tersebut dilanjutkan melalui mata kuliah Entrepreneurship dan pendekatan Real Business Experience (RBX). Melalui metode ini, mahasiswa mempelajari persoalan upaya berasas kondisi nyata, kemudian menyusun dan menguji pendapat solusi dengan support mitra industri.

“Real Business Experience (RBX) ini adalah jembatan nan menghubungkan mahasiswa agar dapat terkoneksi langsung dengan bumi industri,” ujar Evi.

Kolaborasi industri antara lain melibatkan Kawan Lama Group melalui enam unit bisnis, ialah AZKO, INFORMA, Toys Kingdom, ATARU, SELMA, dan Chatime. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari mata kuliah Introduction to Entrepreneurship & Innovation.

Ciputra Group juga menyediakan ekosistem bisnisnya sebagai sumber pembelajaran. Sejumlah unit mal Ciputra di Jakarta, Tangerang, dan Cibubur menjadi studi kasus bagi mahasiswa untuk menganalisis persoalan operasional dan menyusun usulan perbaikan. Dengan demikian, mahasiswa dapat mempelajari kebutuhan konsumen, tantangan pengelolaan usaha, dan proses penemuan berasas persoalan nan dihadapi pelaku industri.

Rektor Universitas Ciputra Surabaya Prof. Wirawan Endro Dwi Radianto menilai, penguasaan pengetahuan akademik saja tidak cukup untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan zaman. Kemampuan mengambil keputusan, beradaptasi, dan menawarkan solusi juga menjadi bekal krusial agar lulusan tetap relevan dengan kebutuhan bumi kerja.

“Kami percaya bahwa pandai saja tidak cukup. Orang nan bisa mengambil keputusan bakal lebih bisa bertahan, beradaptasi, tetap relevan dengan perkembangan zaman, dan memberikan solusi,” kata Wirawan.

Menurut dia, Universitas Ciputra mengembangkan tiga orientasi bagi mahasiswa. Pertama, menyiapkan lulusan menjadi ahli dengan pola pikir kewirausahaan. Kedua, membekali mahasiswa dari family pengusaha agar bisa meneruskan sekaligus mengembangkan upaya keluarga. Ketiga, mendorong mahasiswa membangun upaya sendiri sejak tetap kuliah.

“Untuk mendukung orientasi tersebut, kampus menyediakan inkubator upaya nan saat ini menaungi sekitar 15-20 golongan upaya aktif. Mahasiswa dan alumni dapat memperoleh pendampingan untuk mengembangkan bisnis, termasuk melalui mentoring dan support pengembangan usaha. Dalam program unik kewirausahaan, satu kelas dapat diikuti sekitar 40–50 mahasiswa,” jelasnya. 

Selain itu, Wirawan menegaskan keberhasilan mahasiswa tidak semata-mata diukur melalui indeks prestasi kumulatif (IPK). Perkembangan usaha, omzet, dan margin upaya juga menjadi bagian dari pertimbangan proses pembelajaran kewirausahaan. Kegagalan dalam menjalankan upaya pun dipandang sebagai bagian dari proses belajar dan perbaikan.

Artificial Intelligence Jadi Program Unggulan

Selain kewirausahaan, Universitas Ciputra Jakarta mengembangkan pembelajaran nan berangkaian dengan teknologi dan kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI). Program nan berangkaian dengan AI berada dalam rumpun Informatika, dengan support mitra industri untuk memperkuat pembelajaran dan pengembangan inovasi.

Pada kesempatan nan sama, Director/Board of Executive Yayasan Ciputra Pendidikan, Prof. Dr. Ir. Denny Bernardus Kurnia Wahyudo menjelaskan Universitas Ciputra juga berupaya mengukur keberhasilan pendidikan melalui kontribusi nyata para alumninya, terutama dalam membangun upaya dan menciptakan lapangan kerja.

“Kami tetap menghormati pencapaian akademik, tetapi kami juga mau memandang kontribusi nyata alumni melalui upaya nan mereka bangun dan lapangan kerja nan mereka ciptakan,” ujar Denny.

Pemanfaatan AI di lingkungan kampus juga diarahkan untuk mendukung eksplorasi pendapat dan pengembangan solusi secara bertanggung jawab. Teknologi tersebut menjadi perangkat bantu pembelajaran, sedangkan ketepatan informasi, kejujuran akademik, perlindungan privasi, serta tanggung jawab mahasiswa atas hasil karyanya tetap menjadi prinsip utama.

“Kami mau mengembangkan program AI nan tidak hanya unggul dari sisi penguasaan teknologi, tetapi juga bisa melahirkan penemuan dan menciptakan kesempatan bisnis. Dengan support mitra industri, pembelajaran berbasis praktik, serta inkubator bisnis, kami berambisi Universitas Ciputra dapat menjadi salah satu rujukan pendidikan AI nan berbobot dan berorientasi pada kebutuhan industri di Indonesia,” tukasnya. 

Di luar lingkungan kampus, Universitas Ciputra Jakarta merintis program pengabdian masyarakat di Kampung Tambora, Jakarta Barat. Kawasan permukiman padat tersebut bakal menjadi salah satu sasaran penerapan keilmuan mahasiswa dari empat program studi sarjana, ialah Manajemen, Akuntansi, Informatika, dan Desain Komunikasi Visual.

Denny mengatakan, program tersebut dirancang untuk membantu masyarakat melalui penerapan pengetahuan nan dimiliki mahasiswa, termasuk dalam mendukung peningkatan kondisi sosial dan ekonomi warga. Kampus juga telah melakukan survei awal dan menjajaki kerjasama dengan pemerintah kota setempat.

Denny juga menyebut family Ciputra menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian krusial dari nilai pendidikan. Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pemberian danasiwa kepada mahasiswa nan mempunyai potensi, baik berasas prestasi akademik maupun keahlian lain, termasuk kreativitas.

“Di lingkungan pendidikan Ciputra, sekitar 10-11% dari total populasi siswa dan mahasiswa menerima beasiswa. Khusus Universitas Ciputra Jakarta, support pada tahun pertama diperkirakan dapat menjangkau sekitar 12,5% hingga 15% mahasiswa, dengan besaran danasiwa dan persyaratan sesuai jalur masing-masing,” jelasnya. 

Seperti diketahui, Universitas Ciputra pertama kali berdiri di Surabaya pada 2006, kemudian memperluas kehadirannya ke Makassar pada 2021 dan Jakarta pada 2026. Melalui kampus ketiga tersebut, Universitas Ciputra menargetkan penguatan pendidikan berbasis kewirausahaan nan menghubungkan kompetensi akademik, praktik industri, pemanfaatan teknologi, dan kontribusi sosial.

Peresmian Universitas Ciputra Jakarta menjadi momentum untuk memperluas peran perguruan tinggi dalam pembangunan Ibu Kota. Tantangannya bukan sekadar menghasilkan lulusan nan bisa bersaing di pasar kerja, melainkan juga membekali generasi muda agar bisa membaca peluang, membangun usaha, dan menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑