Reporter Cilik ‘Terbang Tinggi’ Bersama PT DI!

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Reporter Cilik ‘Terbang Tinggi’ Bersama PT DI! Kegiatan kunjungan pabrik Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)

Tahukah kamu? Ternyata ada pesawat nan bisa mendarat di air, ada pesawat tanpa awak, dan ada pesawat nan dibuat oleh anak bangsa, lho! Jika Anda baru mengetahuinya, itu artinya Anda sama sepertiku. Aku juga baru mengetahuinya saat mengikuti aktivitas Reporter Cilik Media Indonesia nan diadakan di PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Senin (24/8).

Sekarang bakal saya ceritakan keseruan proses wawancara nan saya lakukan berbareng 49 Reporter Cilik lainnya. Awalnya saya merasa gugup lantaran saya menjadi satu-satunya perwakilan dari sekolahku. Aku kuatir tidak ada kawan nan bisa kuajak bicara. Namun, rupanya saya mendapatkan banyak kawan baru dari sekolah lain nan membikin rasa gugupku lenyap dan semakin semangat untuk mengikuti seluruh rangkaian acara.

Tur dimulai. Aku dan teman-teman menaiki Bandros menuju gedung galeri mock-up. Aku memandang dan menaiki pesawat N219 serta memandang beberapa pesawat lainnya di dalam gedung tersebut. Aku penasaran dan bertanya kepada salah satu pemandu, “Berapa banyak unit pesawat nan terjual dalam setahun?”

“Kurang lebih ada 15 unit pesawat nan terjual dalam setahun,” jawabnya singkat.

Setelah puas bertanya dan melihat-lihat di galeri mock-up, saya dan teman-teman kembali menaiki Bandros. Kami menuju ke hanggar. Sesampainya di hanggar, saya dan salah seorang temanku mewawancarai Bapak Danang. Bapak Danang adalah salah satu insinyur senior nan bekerja di bagian perakitan pesawat. Bapak Danang sudah bekerja selama 31 tahun di PT DI.

Aku memulai wawancara dengan sebuah pertanyaan, “Pesawat hasil buatan PT DI sudah terjual ke beberapa negara. Jika terjadi kerusakan pada pesawat, gimana langkah memperbaikinya? Apakah PT DI mengirim teknisi ke negara tersebut alias pesawatnya dibawa kembali ke PT DI?”

Bapak Danang menjawab, “Bergantung masalahnya. Jika kerusakannya tetap tergolong ringan, PT DI hanya mengirim petunjuk-petunjuk lewat telepon. Akan tetapi, jika kerusakannya cukup parah, kami mengirim teknisi untuk memperbaiki pesawat ke negara tujuan.”

Setelah kupikir lagi, rupanya betul juga, ya. Akan sangat merepotkan dan memerlukan biaya besar jika pesawatnya nan kudu dikirim kembali ke Indonesia. Beruntung Indonesia mempunyai banyak teknisi pesawat nan andal.

Hal lain nan saya tanyakan adalah, “Apakah pernah terjadi peristiwa kandas terbang akibat malfungsi pada pesawat?”

Bapak Danang menjawab, “Alhamdulillah, perihal tersebut belum pernah terjadi. Karena para pihak nan terlibat dalam pembuatan pesawat adalah orang-orang nan sudah mahir di bidangnya dan proses quality control-nya pun sangat ketat, sehingga sangat mini kemungkinan perihal tersebut bakal terjadi.”

“Keren banget!” gumamku dalam hati.

Setelah kurang lebih separuh jam kami melakukan wawancara dan melihat-lihat di hanggar, kami kembali ke tempat awal berkumpul, ialah Auditorium B. J. Habibie.

Begitulah keseruan nan saya alami hari ini. Terima kasih banyak, Media Indonesia dan PT DI, nan telah memberikan pengalaman besar dan berbobot untukku. Menjadi seorang Reporter Cilik sekaligus memperluas wawasanku tentang bumi dirgantara di Indonesia merupakan pengalaman nan sangat menyenangkan.

Semoga kita bisa berjumpa lagi di kesempatan dan keseruan berikutnya! (X-6)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia