Kegiatan kunjungan pabrik Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Senin (24/8).(MI/Permana)
HAI, teman-teman Medi!
Perkenalkan, nama saya Nathanael Darius Surya Manrangnuang. Kalian bisa memanggil saya Dar alias Darius. Nah, saya bakal menceritakan aktivitas dan hal-hal menarik dalam proses wawancara dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Dibaca baik-baik, ya!
Kegiatan wawancara kali ini dilakukan di salah satu industri pesawat terbang terkemuka di Indonesia, apalagi salah satu industri pesawat terbang terbesar di Asia Tenggara, ialah PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Saya merasa sangat senang. Bayangkan, saya bisa memandang jenis-jenis pesawat nan dikembangkan PTDI, apalagi berjumpa dengan para kepala dan orang-orang nan menjalankan industri PTDI hingga saat ini!
Kunjungan Pabrik PTDI
Puji Tuhan, pada hari itu saya terpilih menjadi Repcil (Reporter Cilik) dan mendapat kesempatan mengikuti aktivitas factory visit atau kunjungan pabrik ke PTDI.
Coba hitung! Berapa persentase saya dan 49 peserta lainnya nan terpilih dari 127 orang nan mendaftar?
Kegiatan factory visit ini diawali dengan briefing atau penyampaian beberapa pesan secara singkat kepada kami, para Repcil, agar mengetahui aktivitas apa saja nan bakal dilakukan. Kami juga diberi makanan ringan, rompi, topi, pulpen, dan kertas untuk mencatat hal-hal nan disampaikan.
Kami nan berjumlah 50 peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri atas sekitar 17 orang. Pembagian ini dilakukan agar saat menaiki Bandros, kendaraan tidak terlalu penuh dan sempit.
Kami pun menaiki Bandros dan menuju Ruang Mockup alias Gedung Nurtanio. Di sana, kami dijelaskan mengenai jenis-jenis pesawat nan dibuat PTDI, seperti NC212i dan CN235-220, serta pesawat nan tetap dikembangkan, ialah N219. Sungguh, pengalaman seperti itu membikin saya semakin bersemangat!
Kami juga dijelaskan bahwa setiap pesawat mempunyai kegunaan nan berbeda-beda. Ada nan digunakan untuk mengevakuasi korban bencana, mengangkut peralatan alias kargo, melakukan penerjunan, menjalankan misi pertahanan, hingga mengangkut penumpang.
Akhirnya, kami berpotret berbareng di Ruang Mockup tersebut dan pergi ke tempat berikutnya. Kami pun tiba di FAL (Final Assembly Line). FAL adalah tempat pesawat dirakit dan disatukan hingga menjadi sebuah pesawat utuh, sesuai dengan fungsinya. Pesawat juga kudu selesai dirakit dan memenuhi standar sebelum melanjutkan ke tahap pengujian.
Masa Sesi Wawancara
Sesi wawancara pun dimulai. Kami berjumpa dengan Andrie, salah satu tenaga kerja PTDI nan telah cukup lama bekerja sebagai supervisor. Saya dan teman-teman satu golongan mengusulkan beberapa pertanyaan.
“Apa nan membikin Bapak mau bekerja di industri pesawat seperti PT Dirgantara Indonesia?”
Beliau menceritakan bahwa ketika tetap remaja, dirinya terinspirasi oleh salah satu presiden terbaik Indonesia, B.J. Habibie. Sejak kecil, dia juga sering memandang pesawat terbang nan membuatnya tertarik pada bumi permesinan.
Ia pun belajar dengan giat di bagian permesinan sehingga akhirnya dapat diterima sebagai supervisor di PTDI.
Pada awal bekerja, dia sering menghadapi banyak masalah. Kualitas pesawat kudu selalu dijaga, sementara koordinasi dan komunikasi nan kurang baik membuatnya kesulitan menjalankan tugas sebagai supervisor.
Namun, lama-kelamaan dia terbiasa menghadapi beragam masalah dan menganggapnya sebagai bagian dari pekerjaan. Tetapi, menurutnya, terbiasa menghadapi masalah bukan berfaedah kita boleh menyepelekan masalah tersebut, apalagi sekecil apa pun masalahnya.
Setelah melakukan sesi wawancara dengan tenaga kerja PTDI, kami kembali ke ruang Auditorium B.J. Habibie.
Wawancara Para Direktur
Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, kami sampai pada sesi wawancara nan lebih besar lagi, ialah wawancara berbareng para kepala PTDI.
Para kepala PTDI datang dengan senyum lebar di wajah mereka sebelum duduk di bangku sofa nan telah disediakan.
Ibu Dihas, Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia, memperkenalkan diri dan menjelaskan tugasnya sebagai direktur. Tugas Ibu Dihas antara lain memastikan para tenaga kerja merasa nyaman bekerja di PTDI, mengelola keuangan, serta memberikan pengarahan kepada tenaga kerja PTDI.
Ibu Dihas juga menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang kepala dibutuhkan banyak modal, seperti disiplin, komitmen tinggi, dan kejujuran. Kami juga dijelaskan bahwa kita kudu berdikari agar modal tersebut lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, ada Direktur Produksi, Bapak Dena. Ia menjelaskan bahwa tugasnya sebagai Direktur Produksi adalah memastikan semua produk pesawat nan dibuat PTDI terjamin keselamatannya.
Ia juga memastikan komunikasi dan koordinasi antar-tim melangkah dengan baik serta memastikan seluruh tenaga kerja PTDI, seperti teknisi mesin dan elektronik, dapat bekerja sama dan tidak saling berdebat.
Akhirnya, sesi wawancara pun dimulai.
Malik, salah satu peserta Repcil, mengusulkan sebuah pertanyaan. Bapak Dena pun menjawab pertanyaan Malik dan menjelaskan bahwa pesawat N219, salah satu kebanggaan PTDI, merupakan pesawat nan dirancang sendiri oleh PTDI dan menjadi salah satu kebanggaan Indonesia.
N219 berukuran cukup mini dan dapat menampung 19 penumpang. Ukuran tersebut berbeda dengan pesawat nan digunakan di beberapa bandara, seperti Boeing 747 nan dapat mengangkut ratusan penumpang.
Meskipun begitu, N219 tetap mempunyai beberapa kelebihan. Salah satunya adalah keahlian untuk mendarat di landasan nan cukup pendek, sekitar 700 meter. Bapak Dena juga menjelaskan bahwa N219 bakal mempunyai fitur untuk dapat beraksi di air alias menjadi pesawat amfibi.
Setelah beberapa pertanyaan lainnya, tak terasa sesi wawancara berbareng Bapak Dena dan Ibu Dihas sudah selesai.
Terima kasih, Bapak Dena dan Ibu Dihas!
Kami pun sangat berterima kasih lantaran dapat mengunjungi industri pesawat seperti PT Dirgantara Indonesia. Walaupun hanya sejenak berada di PTDI, banyak pelajaran dan nasihat nan kami dapatkan, terutama tentang gimana industri PTDI dapat berdiri dan mengembangkan pesawat seperti NC212i, CN235-220, serta nan paling dibanggakan oleh Bapak Direktur, ialah N219.
Dengan aktivitas ini, saya nan bercita-cita menjadi teknisi di bagian permesinan menjadi semakin antusias untuk belajar dengan giat dan mencapai cita-cita tersebut di kemudian hari.
Terima kasih, PT Dirgantara Indonesia... dan terbang berbareng PTDI!
Terima kasih juga, Media Indonesia! (B-3)

English (US) ·
Indonesian (ID) ·