Refleksi Tentang Pilar dan Landasan Menuju Indonesia Maju

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Indonesia bakal memasuki satu abad kemerdekaan pada 2045. Waktunya terdengar tetap panjang, tetapi dalam perspektif pembangunan sebuah bangsa, kurang dari dua dasawarsa sesungguhnya sangat singkat.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah Indonesia bakal mencapai usia 100 tahun sebagai negara merdeka. Pertanyaan nan jauh lebih krusial adalah: Indonesia seperti apa nan bakal datang pada 2045?

Apakah kita betul-betul telah menjadi negara maju nan bisa menguasai teknologi, membangun industri sendiri, menjamin kebutuhan pangan dan energi, serta berdiri dengan kedaulatan nan kuat? Atau kita tetap menjadi pasar besar nan berjuntai pada teknologi, produk, dan beragam kebutuhan strategis dari negara lain?

Pertanyaan tersebut relevan ketika kita kembali membicarakan pemikiran tokoh-tokoh bangsa seperti Mohammad Natsir nan dikenal dengan sumbangan pemikirannya terhadap kedaulatan Indonesia dan B.J. Habibie mengenai dengan penguasaan teknologi.

Setiap pemikiran lahir dari konteks zamannya
Dari era Natsir hingga Habibie, pemikiran lahir sesuai konteks dan kebutuhan zamannya. Natsir berada dalam suatu periode ketika Indonesia tetap berjuang membentuk dan mempertahankan negara serta mencari fondasi bagi kehidupan kebangsaannya. Habibie datang pada era nan berbeda: ketika Indonesia mulai mempunyai kepercayaan diri untuk berbincang mengenai penguasaan pengetahuan pengetahuan, insinyuring, industri strategis, dan teknologi tinggi.

Hari ini konteksnya kembali berubah. Indonesia menghadapi revolusi digital, kepintaran buatan, transisi energi, kendaraan listrik, teknologi baterai, bioteknologi, material maju, hingga kejuaraan geopolitik nan semakin erat kaitannya dengan penguasaan teknologi.

Karena itu, pertanyaan nan semestinya diajukan bukan sekadar apa nan dulu dipikirkan Natsir alias apa nan pernah dilakukan Habibie. Pertanyaan nan lebih krusial adalah: gimana semangat dan pemikiran tersebut diterjemahkan untuk menjawab tantangan Indonesia sekarang?

Kita memerlukan perbincangan antara pengalaman generasi terdahulu dan keahlian generasi Indonesia hari ini-termasuk ilmuwan, insinyur, akademisi, entrepreneur, dan ahli Indonesia nan berkarya di beragam pusat penelitian dan industri dunia. Dengan langkah itulah sejarah menjadi sumber daya untuk masa depan, bukan sekadar ruang untuk mengenang kejayaan masa lalu.

Fondasi dan Pilar Indonesia Maju

Kita mempunyai masyarakat dan pasar domestik nan besar, sumber daya alam nan beragam, posisi geografis nan strategis, serta kekayaan budaya nan tidak dimiliki banyak negara. Sumber daya hanya bakal mempunyai nilai andaikan dapat ditransformasikan menjadi produktivitas, pengetahuan, teknologi, industri, serta kesejahteraan. Di sinilah afinitas sebuah gedung menjadi relevan.

Kita sering berbincang mengenai hilirisasi, digitalisasi, industrialisasi, ketahanan energi, hingga industri pertahanan. Semua itu penting. Tetapi sebuah gedung nan tinggi tidak mungkin berdiri tanpa fondasi nan kuat. Setidaknya ada tiga fondasi nan kudu mendapatkan perhatian serius: pendidikan, kesehatan, dan keahlian memenuhi kebutuhan dasar termasuk pangan.

Pendidikan menentukan kualitas manusia nan bakal mengelola negara dan ekonomi. Namun pendidikan abad ke-21 tidak cukup hanya menghasilkan ijazah. Kita memerlukan manusia nan bisa berpikir kritis, melakukan penelitian, menghasilkan inovasi, menyelesaikan persoalan industri, dan menciptakan teknologi.

Kesehatan juga kudu ditempatkan sebagai investasi produktivitas nasional. Manusia nan tidak sehat tidak mungkin menjadi fondasi bagi ekonomi nan kompetitif.

Negara dengan masyarakat lebih dari 280 juta jiwa memerlukan sistem pangan nan tangguh. Ini bukan hanya persoalan sawah dan produksi pertanian, tetapi juga teknologi benih, pupuk, air, mekanisasi, energi, logistik, penyimpanan, hingga industri pengolahan.

Ketiganya merupakan fondasi sebelum kita berbincang mengenai gedung ekonomi nan lebih tinggi. Fondasi tersebut tampak sedang diperkuat oleh pemerintah saat ini.

Di atas fondasi tersebut, salah satu pilar terpenting Indonesia maju adalah industrialisasi. Industrialisasi tidak boleh lagi dipahami semata-mata sebagai pembangunan pabrik alias pengolahan bahan mentah menjadi produk dengan nilai tambah nan sedikit lebih tinggi.

Pada abad ke-21, industrialisasi kudu berfaedah penguasaan kemampuan, dalam makna bahwa bangsa Indonesia menguasai insinyuring-nya, memahami prosesnya, mempunyai kekayaan intelektualnya, sehingga perusahaan nasional bisa melakukan improvement tanpa selalu berjuntai kepada pemilik teknologi dari luar negeri.

Lebih dari itu, insinyur Indonesia mempunyai dan memperoleh pengetahuan nan memungkinkan lahirnya teknologi generasi berikutnya. Pelajaran krusial dari pengalaman pembangunan Indonesia nan lalu, di antaranya bahwa negeri ini pernah menjadi letak penerapan beragam teknologi maju di industri minyak dan gas.

Indonesia juga pernah menjadi salah satu pemain krusial dalam produksi dan ekspor energi. Namun pemanfaatan sumber daya dan masuknya teknologi asing tidak otomatis menghasilkan penguasaan teknologi nasional. Kenyataan bahwa ada perbedaan besar antara mengoperasikan teknologi dan menguasai teknologi.

Negara maju tidak sekadar menjadi technology user. Ia kudu bergerak menjadi technology developer dan akhirnya technology owner.

Pelajaran dari Sektor Energi

Energi mempunyai posisi unik dalam pembangunan nasional. Tanpa energi, industri berhenti. Mobilitas terganggu. Produksi pangan terhambat. Infrastruktur digital tidak dapat bekerja.

Indonesia pernah menikmati periode kejayaan minyak dan gas. Pengalaman tersebut semestinya memberikan satu pelajaran mendasar: sumber daya daya tidak boleh hanya dilihat sebagai peralatan dagangan untuk menghasilkan penerimaan jangka pendek.

Energi juga adalah modal pembangunan. Satu unit daya nan digunakan untuk membangun industri berkekuatan saing, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan teknologi dapat mempunyai nilai strategis jauh lebih besar dibandingkan sekadar menjual sumber daya tersebut sebagai komoditas.

Kini persoalannya semakin kompleks. Indonesia memerlukan daya nan cukup, terjangkau, dan aman, tetapi pada saat berbarengan kudu melakukan transisi menuju sistem daya nan lebih rendah karbon.

Kebijakan daya lantaran itu tidak boleh terjebak dalam pilihan hitam-putih antara ketahanan daya dan transisi energi. Indonesia memerlukan keduanya. Dan aspek nan bakal menentukan keberhasilannya kembali kepada penguasaan pengetahuan pengetahuan, insinyuring, teknologi, dan keahlian industri nasional.

Di sinilah warisan pemikiran Habibie memperoleh relevansi nan sangat kuat. Teknologi bukan sekadar produk. Teknologi adalah hasil akumulasi pengetahuan manusia, pengalaman insinyuring, penelitian, desain, manufaktur, kegagalan, perbaikan, dan penemuan nan berjalan bertahun-tahun.

Karena itu, keberhasilan sebuah proyek teknologi nasional semestinya tidak hanya diukur dari apakah sebuah produk akhirnya sukses dibuat. Kita juga kudu bertanya: Setelah proyek selesai, keahlian apa nan dimiliki Indonesia?

Berapa banyak insinyur nan bertambah kompeten? Apakah muncul paten dan intellectual property? Apakah industri pemasok nasional berkembang? Apakah teknologi berikutnya dapat dikembangkan dengan ketergantungan nan semakin mini terhadap pihak lain?

Ukuran seperti inilah nan semestinya digunakan ketika Indonesia mengembangkan baterai, kendaraan listrik, daya terbarukan, hidrogen, kepintaran buatan, material maju, semikonduktor, ruang angkasa, ataupun teknologi pertahanan. Karena di bumi nan semakin kompetitif, teknologi bukan lagi sekadar persoalan ekonomi. Teknologi adalah bagian dari kedaulatan.

Kemandirian Strategik Menuju Indonesia Maju
Perubahan geopolitik dunia menunjukkan bahwa ketergantungan pada rantai pasok, teknologi, energi, dan material strategis dapat menjadi sumber kerentanan suatu negara. Namun kemandirian tidak berfaedah Indonesia kudu menutup diri. Tidak ada negara modern nan sepenuhnya mandiri.

Yang dibutuhkan adalah kemandirian strategik: Kemampuan untuk bekerja sama secara terbuka dengan beragam negara, tetapi tetap mempunyai kompetensi dan pilihan strategis sendiri. Indonesia kudu bisa menentukan teknologi apa nan boleh diperoleh dari kerja sama internasional, teknologi apa nan kudu dikuasai bersama, dan teknologi apa nan secara strategis kudu bisa dikembangkan sendiri.

Dengan posisi seperti itu, kerja sama internasional tidak menghasilkan ketergantungan permanen, melainkan memperkuat kapabilitas nasional.

Membangun Indonesia maju pada akhirnya tidak dapat dilakukan melalui satu program alias satu pemerintahan. Kita memerlukan kesinambungan pembangunan. Fondasinya adalah manusia Indonesia nan sehat, terdidik, produktif, serta mempunyai kebutuhan dasar nan terjamin.

Pilar-pilarnya adalah industrialisasi, ketahanan pangan, energi, penguasaan teknologi, dan pertahanan. Sementara pengikatnya adalah nilai kebangsaan, etika, integritas, dan tujuan bernegara.

Di sinilah pemikiran para pendahulu memperoleh relevansi.Kita tidak perlu memilih antara menjadi bangsa nan hanya menghargai sejarah alias menjadi bangsa nan berorientasi ke masa depan saja. Keduanya justru kudu melangkah bersama.

Natsir memberikan salah satu perspektif mengenai nilai dan fondasi kehidupan berbangsa. Habibie memperlihatkan bahwa sebuah bangsa berkembang kudu berani bercita-cita menguasai pengetahuan pengetahuan dan teknologi.

Tantangan generasi hari ini adalah membawa keduanya ke tahap berikutnya. Lebih dari sekadar mengenang dan mengagumi, tetapi menerjemahkan nilai, pengetahuan pengetahuan, teknologi, sumber daya, dan kekuatan manusia Indonesia menjadi kapabilitas nasional nan nyata dan berdaulat.

Karena Indonesia maju pada akhirnya tidak bakal ditentukan oleh seberapa besar sumber daya nan kita miliki, melainkan oleh seberapa besar keahlian bangsa Indonesia mengubah sumber daya tersebut menjadi pengetahuan, teknologi, produktivitas, kesejahteraan, dan kedaulatan. Itulah fondasi dan pilar menuju Indonesia Maju 2045.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News