Jakarta -
BPJS Kesehatan mencatat peningkatan rasio klaim program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di awal tahun 2026. Tren klaim agunan kesehatan ini apalagi tertinggi sejak delapan tahun terakhir.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan kondisi ini terjadi imbas beban biaya jasa kesehatan nan melampaui pendapatan iuran peserta. Ia mengatakan, rasio klaim program JKN tembus 111,86% hingga Februari 2026.
Angka tersebut melonjak apalagi lebih tinggi dari capaian tahun 2018 ialah sebesar 110,37%. Kemudian pada tahun 2019, rasio klaim program JKN berangsur menurun menjadi 97,05%. Pada tahun 2020 dan 2021 juga susut masing-masing menjadi 68,29% dan 63,03%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya rasio klaim program JKN kembali meningkatkan pada tahun 2022 menjadi 78,78%. Pada tahun 2023, rasio klaim langsung tercatat menembus 104,72%. Rasio klaim juga tercatat membengkak di tahun-tahun selanjutnya, ialah tahun 2024 sebesar 105,78% dan pada 2025 sebesar 107,69%.
"Pada tahun 2019 terjadi perbaikan kondisi di mana DJS sempat mencapai titik keseimbangan dengan rasio klaim nan lebih terkendali. Namun setelah itu, khususnya sejak tahun 2023, kembali terjadi perubahan nan cukup signifikan di mana rasio klaim berada di atas 100%," ungkap Prihati dalam rapat berbareng Komisi IX di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Prihati menjelaskan, kondisi ini terjadi lantaran biaya pelayanan kesehatan nan lebih tinggi dari pendapatan iuran. Ia mengatakan, kondisi ini membikin BPJS Kesehatan menanggung defisit dari tingginya klaim program JKN.
"Biaya pelayanan kesehatan kembali melampaui pendapatan iuran secara berkepanjangan dan apalagi dengan tren nan semakin meningkat. Hingga pada awal tahun 2026 mencapai 111,8%. Sebagai implikasinya, andaikan kondisi ini terus berlanjut, maka defisit bakal terus terakumulasi dan secara langsung menekan kesehatan DJS," pungkasnya.
(acd/acd)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·