Grace Natalie Bela Kunjungan Jokowi ke Palue: Kritik Terlambat Tak Paham Fase Bencana(Tangkapan Layar Antara TV)
KUNJUNGAN Presiden ke-7 Joko Widodo ke Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pertengahan pekan ini menuai sorotan. Sejumlah pihak menilai kehadiran Jokowi ke letak terdampak musibah tersebut tergolong terlambat lantaran dilakukan satu bulan setelah kejadian.
Menanggapi perihal tersebut, Sekretaris Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, memberikan pembelaan melalui unggahan video di akun IG pribadinya pada Sabtu (19/9) malam. Grace menegaskan bahwa kritik nan muncul menunjukkan ketidakpahaman terhadap manajemen penanganan bencana.
Memahami Fase Penanganan Bencana
Grace menjelaskan bahwa dalam penanganan musibah terdapat tiga tahapan utama, ialah fase tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Menurutnya, pemerintah telah bekerja sejak hari pertama pada fase tanggap darurat untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
"Pada hari-hari pertama nan dibutuhkan makanan, obat-obatan, evakuasi, tenda, dan kebutuhan dasar lain," ujar Grace. Ia menambahkan bahwa satu bulan pascabencana, tantangan di lapangan telah bergeser ke fase pemulihan bentuk nan lebih permanen.
Kondisi di Pulau Palue saat ini dilaporkan tetap memprihatinkan. Banyak penduduk tetap memperkuat di pengungsian lantaran rumah mereka belum bisa ditempati. Selain itu, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan dalam keadaan darurat, dan jemaat gereja terpaksa beragama di tenda lantaran gedung gereja nan rusak berat.
Detail Bantuan Fase Rekonstruksi
Grace menekankan bahwa jenis support nan dibawa Presiden Jokowi dalam kunjungan tersebut sangat spesifik dan disesuaikan dengan kebutuhan fase rekonstruksi saat ini. Berikut adalah rincian support nan disalurkan:
| Semen | 4.000 Zak | Perbaikan dan pembangunan kembali rumah/fasilitas |
| Seng | 3.000 Lembar | Material genting untuk kediaman warga |
| Tandon Air | 100 Unit | Penyediaan dan penyimpanan air bersih |
“Semen dan seng adalah bahan untuk memperbaiki dan membangun kembali. Sementara tandon air untuk membantu penyediaan air bersih,” jelas Grace.
Fokus pada Pemulihan, Bukan Narasi Negatif
Lebih lanjut, Grace menegaskan bahwa prinsip kunjungan kepresidenan bukan terletak pada hitungan hari kedatangan, melainkan pada efektivitas support terhadap kondisi riil masyarakat. Selama penduduk tetap kesulitan dan akomodasi publik belum pulih, support tidak bisa dikatakan terlambat.
“Faktanya belum pulih. Selama tetap ada penduduk nan tidur di tenda, anak-anak nan belajar dalam kondisi darurat, rumah nan belum bisa ditempati, dan jemaah nan tetap beragama di tenda lantaran gerejanya rusak, semua perhatian dan support tidak bisa dikatakan terlambat,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Grace mengimbau publik untuk menghentikan narasi negatif alias "nyinyir" di media sosial. Ia membujuk seluruh pihak untuk lebih konsentrasi bahu-membahu membantu proses pemulihan penduduk di NTT nan tetap menghadapi kesulitan pascabencana. (I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·