India menghadapi ancaman tarif hingga 100 persen dari Amerika Serikat (AS) setelah Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) AS meloloskan undang-undang nan memungkinkan Presiden Donald Trump menjatuhkan hukuman terhadap Rusia dan negara-negara pembeli minyak serta gas Rusia.
Dikutip dari BBC, ancaman tersebut berpotensi mengganggu pasokan daya India lantaran Rusia menjadi pemasok utama minyak mentah negara tersebut. India mengimpor lebih dari 88 persen kebutuhan minyak mentahnya.
Berdasarkan laporan Global Trade Research Initiative (GTRI), Rusia memasok 30,3 persen impor minyak mentah India pada tahun fiskal 2026, dengan nilai USD 40,8 miliar dari total biaya impor minyak mentah sebesar USD 134,7 miliar. Pada Juli 2026, minyak mentah Rusia menyumbang lebih dari separuh total impor India.
DPR AS meloloskan RUU tersebut pada Rabu (16/9). Aturan itu memberikan kewenangan luas kepada Trump untuk mengenakan hukuman terhadap Rusia dan tarif hingga 100 persen terhadap negara-negara nan membeli minyak dan gas Rusia. RUU tersebut selanjutnya bakal diserahkan kepada Trump untuk ditandatangani menjadi UU.
India dan China menjadi dua negara nan paling terdampak terhadap kebijakan tersebut lantaran keduanya merupakan pembeli utama minyak Rusia. Menurut lembaga ahli filsafat Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), China menyumbang 50 persen ekspor minyak mentah Rusia, sedangkan India 37 persen, Turki 5 persen, dan Uni Eropa 5 persen pada periode Desember 2022 hingga Agustus 2026.
Mantan pejabat perdagangan India sekaligus ketua GTRI, Ajay Srivastava, menilai RUU tersebut merupakan upaya menekan India dalam negosiasi perdagangan bilateral.
“RUU ini merupakan upaya nan tidak terukur dan rawan untuk menekan India agar menandatangani perjanjian perdagangan bilateral dengan persyaratan nan sepihak. India membeli minyak Rusia untuk memastikan daya nan terjangkau bagi 1,4 miliar penduduknya, bukan untuk membiayai perang, dan pembelian ini telah membantu menstabilkan pasokan serta nilai global,” kata Srivastava dari BBC, Sabtu (19/9).
Perhitungan ekonomi pembelian minyak Rusia telah berubah. Diskon minyak mentah Rusia tidak lagi sebesar pada tahun-tahun awal perang, sementara persaingan untuk mendapatkan pasokan tersebut semakin ketat. Biaya pengiriman, asuransi, dan akibat hukuman juga meningkat.
Senator Partai Demokrat AS Richard Blumenthal mengatakan India dan China semestinya mencari pemasok minyak dan gas dari negara lain.
“China dan India, sebaiknya kalian membeli minyak dan gas dari tempat lain,” kata Blumenthal.
Kedua negara biasanya mempunyai waktu 180 hari untuk mengurangi impor daya dari Rusia alias melakukan negosiasi dengan Washington. Namun, Trump dapat memperpendek pemisah waktu tersebut.
Pemerintah India menyatakan sedang memantau perkembangan mengenai kebijakan tersebut dan tetap berkomitmen memastikan ketahanan daya bagi masyarakatnya.
“Masalah ini telah dibahas di tingkat tinggi dalam beberapa bulan terakhir dengan beragam pihak dari AS. Implikasi potensialnya, bukan hanya terhadap hubungan bilateral, tetapi juga pasar daya internasional, telah disampaikan dengan sangat jelas oleh pihak India,” kata pemerintah India.
India tetap dapat mencari pengganti minyak mentah Rusia. Namun, penggantian pasokan dalam skala besar berpotensi meningkatkan biaya impor. S&P Global menyebut pasokan pengganti dapat menyebabkan kenaikan biaya minyak mentah, pengangkutan, dan asuransi. Rute pengiriman nan lebih panjang juga bakal menambah beban biaya. Ancaman tarif AS juga tidak secara langsung berupa pajak terhadap minyak mentah Rusia nan masuk ke India. Dampaknya bakal dirasakan melalui ekspor India ke Amerika, nilai tukar rupee, margin kilang, dan neraca perdagangan. Michael Kugelman, peneliti senior di Atlantic Council, mengatakan kebijakan tersebut dapat berakibat besar terhadap India, terutama ketika kedua negara tengah menjalani tahap akhir negosiasi perdagangan. “RUU baru ini dapat menimbulkan akibat besar nan bermasalah bagi India, dan datang pada waktu nan paling tidak tepat, di tengah tahap akhir negosiasi perdagangan nan sensitif serta hubungan bilateral nan lebih luas dan tidak stabil,” kata Kugelman. Dari sisi neraca perdagangan, berasas Perwakilan Dagang AS (US Trade Representative), AS mengimpor peralatan senilai sekitar USD 104 miliar dari India pada 2025. Sementara itu, total perdagangan peralatan dan jasa kedua negara mencapai sekitar USD 240 miliar. Produk ekspor India ke AS mencakup elektronik, obat-obatan, mesin, perhiasan, bahan kimia, tekstil, dan produk minyak bumi. Pada 2025, ekspor peralatan listrik dan elektronik India ke Amerika mencapai sekitar USD 25,8 miliar, obat-obatan USD 9,7 miliar, dan mesin USD 7,2 miliar.
Ancaman tarif terbaru ini muncul setelah Trump sebelumnya mengenakan tarif terhadap barang-barang India nan mencapai 50 persen pada 2025 sebelum diturunkan. Kondisi tersebut membikin pemerintah India kudu mempertimbangkan biaya pembelian minyak Rusia dengan akibat terhadap ekspor ke AS. Perhitungannya bakal berjuntai pada besaran potongan nilai minyak Rusia, nilai minyak mentah global, biaya pengangkutan dan asuransi, serta tarif nan pada akhirnya diberlakukan Trump. Ketergantungan India terhadap minyak Rusia juga berangkaian dengan aktivitas pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah memaksa negara nan sebelumnya merupakan eksportir produk minyak terbesar di bumi tersebut untuk mengimpor bahan bakar. Menurut CREA, impor bahan bakar Rusia pada Agustus mencapai rekor 172.000 ton, lebih dari tujuh kali lipat rekor bulanan sebelumnya. India memasok sekitar 120.000 ton alias 70 persen dari impor tersebut. Sebagian besar berupa bensin hasil pengolahan minyak mentah Rusia di kilang nan berada di Gujarat, dengan nilai sekitar 78 juta euro. China membeli minyak mentah Rusia lebih banyak dibandingkan India. Namun, Kugelman mengatakan China mempunyai daya tawar nan lebih besar lantaran perannya dalam rantai pasok dunia dan skala hubungan ekonomi dengan AS. “China mempunyai daya tawar nan sangat besar terhadap ekonomi global, khususnya melalui dominasinya atas rantai pasok strategis. India, meskipun merupakan salah satu ekonomi terbesar di dunia, tidak mempunyai daya tawar nan sama,” kata Kugelman.
Bagi India, persoalan minyak Rusia tidak hanya mengenai volume pembelian, tetapi juga ketahanan pengganti pasokan energi. Lebih dari 85 persen minyak mentah India berasal dari enam negara, beberapa di antaranya berada di wilayah nan rentan konflik. Menurut Council on Energy, Environment and Water (CEEW), kilang-kilang India juga tidak selalu dapat beranjak dengan mudah di antara beragam jenis minyak mentah. India turut mengimpor lebih dari 60 persen kebutuhan LPG, nan menjadi bahan bakar memasak utama bagi lebih dari 330 juta rumah tangga. Cadangan minyak strategis India hanya bisa memenuhi 9–10 hari kebutuhan impor minyak bersih, sedangkan Jepang mempunyai sekitar 200 hari dan Korea Selatan 207 hari. Persediaan operasional di kilang menyediakan tambahan pasokan untuk 64 hari. CEEW memperkirakan India telah menghemat sekitar USD 12,6 miliar sejak beranjak ke minyak mentah Rusia setelah 2022. Kini, ancaman tarif AS dapat mengubah penghematan tersebut menjadi beban bagi India. Pemerintah New Delhi kudu menghitung apakah untung dari pembelian minyak Rusia sebanding dengan akibat nan muncul terhadap hubungan perdagangan dengan AS. Srivastava dari GTRI memperkirakan Washington dapat menawarkan tarif lebih rendah jika India mengurangi pembelian minyak Rusia dan menerima konsesi dalam kesepakatan perdagangan bilateral. “India semestinya tidak membiarkan ancaman tarif AS menentukan kebijakan energinya. India kudu terus membeli minyak Rusia selama harganya tetap kompetitif secara komersial dan bermusyawarah secara tegas dengan Washington tanpa memberikan konsesi perdagangan sepihak,” ujar Srivastava.
20 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·