Jakarta, CNBC Indonesia - Zimbabwe berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan mendorong penggunaan mata duit lokal, Zimbabwe Gold (ZiG). Namun, ambisi tersebut menghadapi tantangan besar: masyarakat tetap trauma dengan krisis mata duit nan berulang dan belum sepenuhnya percaya pada duit keluaran pemerintah sendiri.
Mengutip laporan Al Jazeera nan terbit Jumat (16/10/2026), ZiG diperkenalkan pada April 2024 sebagai upaya terbaru pemerintah Zimbabwe untuk memulihkan kepercayaan terhadap mata duit nasional. Bank sentral Zimbabwe menyatakan mata duit tersebut didukung persediaan kurs asing dan logam mulia, termasuk emas.
Meski demikian, keberadaan persediaan emas belum cukup untuk meyakinkan masyarakat agar bersedia menyimpan penghasilan dan tabungan mereka dalam ZiG. Pengalaman pahit dari krisis mata duit sebelumnya membikin banyak penduduk memilih dolar AS nan dianggap lebih dapat diandalkan untuk bertransaksi maupun menjaga nilai kekayaan.
Trauma Uang Amblas, Gaji Tak Lagi Berharga
Salah satu penduduk nan tetap menyimpan kekhawatiran adalah Charles Mbwandarikwa, seorang pembimbing sekolah dasar di Zimbabwe. Ia menerima sekitar sepertiga gajinya dalam corak ZiG namun duit tersebut segera ditukarkan lantaran dia tidak mau mengambil akibat kehilangan nilainya jika mata duit lokal kembali terpuruk.
Kekhawatiran itu berakar pada pengalaman masa lalu. Mbwandarikwa kehilangan tabungan pensiunnya saat krisis pada 2009. Ketika mata duit lokal kembali diperkenalkan pada 2018, dia juga mengaku nilai gajinya merosot dari setara US$540 menjadi hanya US$40 pada akhir tahun tersebut.
Pengalaman seperti ini menjadi tantangan bagi pemerintah Zimbabwe. Kepercayaan terhadap mata duit tidak cukup dibangun melalui publikasi duit baru alias pernyataan bahwa mata duit tersebut mempunyai support cadangan. Masyarakat juga kudu percaya bahwa daya beli duit mereka tidak bakal kembali tergerus.
Zimbabwe sendiri pernah meninggalkan mata duit lokal pada 2009 setelah mengalami hiperinflasi. Negara tersebut kemudian menerapkan sistem penggunaan beragam mata duit nan didominasi dolar AS.
Mata duit domestik kembali diperkenalkan pada 2018. Namun, gejolak nan berulang membikin upaya membangun kembali kepercayaan publik menjadi sulit.
Uang Ada, tetapi Pedagang Tak Banyak Menerima
Tantangan penggunaan ZiG juga terlihat di sektor usaha. Sesedzai Chigumira, seorang pedagang busana di Zimbabwe, mengaku hanya mencatat segelintir transaksi penjualan menggunakan ZiG.
Pengalamannya menunjukkan bahwa dolar AS tetap menjadi pilihan utama sebagian pelanggan. Kondisi ini menciptakan lingkaran masalah.
Jika konsumen lebih suka bayar dengan dolar AS, pedagang mempunyai sedikit insentif untuk mengandalkan ZiG. Sebaliknya, masyarakat juga enggan menyimpan mata duit lokal andaikan cemas nilainya bakal turun.
Ekonom Cornelius Dube mengatakan permintaan terhadap ZiG tetap sangat lemah. Menurut dia, jumlah ZiG nan beredar perlu disesuaikan dengan tingkat permintaan masyarakat terhadap mata duit tersebut.
Bank Sentral Zimbabwe telah mengambil sejumlah langkah untuk memperkuat kepercayaan publik. Pada 7 April 2026, bank sentral memperkenalkan seri baru duit kertas ZiG dengan kreasi dan fitur keamanan nan diperbarui.
Bank sentral juga melaporkan inflasi tahunan ZiG sebesar 3,7% pada September 2026. Namun, inflasi nan relatif rendah tidak otomatis membikin masyarakat bersedia menggunakan ZiG sebagai perangkat pembayaran utama alias menyimpan kekayaan dalam mata duit tersebut.
Ambisi Tinggalkan Dolar AS Tak Bisa Instan
Pemerintah Zimbabwe sebelumnya menargetkan penggunaan satu mata duit secara penuh pada 2030. Namun, bank sentral sekarang beranjak ke pendekatan transisi berjenjang nan lebih mengandalkan sistem pasar untuk memperluas penggunaan ZiG.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan peran ZiG dalam transaksi domestik, termasuk pembayaran pajak dan transaksi sektor publik, di samping kebijakan nan berangkaian dengan kurs asing dan sistem pembayaran nasional.
Namun, memperluas penggunaan mata duit dalam transaksi berbeda dengan membikin masyarakat percaya untuk menyimpan tabungan dalam mata duit tersebut. Masyarakat bisa saja menggunakan ZiG lantaran diwajibkan alias tidak mempunyai pilihan lain, tetapi belum tentu bersedia menjadikannya perangkat untuk menyimpan kekayaan dalam jangka panjang.
Dube menilai pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS alias dedolarisasi bukanlah sesuatu nan mustahil. Namun, proses tersebut memerlukan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan.
Ia menekankan bahwa kebijakan semestinya tidak memaksa masyarakat mengonversi dolar AS ke ZiG. Sebaliknya, pemerintah perlu menciptakan insentif agar pelaku upaya dan konsumen merasa sama-sama nyaman memegang kedua mata duit tersebut.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Zimbabwe bukan sekadar menerbitkan mata duit baru alias memperbesar penggunaan ZiG dalam transaksi. Pemerintah kudu membuktikan bahwa mata duit tersebut bisa menjaga nilai pendapatan dan tabungan masyarakat secara konsisten.
Bagi penduduk nan pernah menyaksikan tabungan dan penghasilan mereka kehilangan nilai, kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan janji. Stabilitas ekonomi nan memperkuat lama bakal menjadi ujian sesungguhnya bagi ambisi Zimbabwe mengurangi kekuasaan dolar AS.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
14 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·