Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Arab Saudi dilaporkan tengah berada dalam dilema politik nan sangat rumit mengenai langkah terbaik untuk merespons ekspansi perang besar antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Di tengah ancaman keamanan nan kian nyata di area Teluk, opini publik masyarakat di dalam negeri Arab Saudi sekarang secara mengejutkan dilaporkan terbelah dua dalam menyikapi opsi keterlimatan militer secara langsung.
Mengutip kanal opini The Conversation, kebenaran mengenai terbelahnya bunyi rakyat ini dibongkar melalui sebuah riset jajak pendapat independen nan sangat langka di dalam negara monarki otoriter tersebut. Dua intelektual politik kawakan bumi ialah Robert Kubinec dari University of South Carolina berbareng Alexis Montambault-Trudelle dari Université Laval bergerak melacak dinamika opini publik penduduk Saudi sejak bentrok bersenjata meletus.
"Masyarakat Saudi sangat terpecah belah atas tindakan militer terhadap Iran-sebuah perpecahan nan menghadirkan kalkulus susah bagi Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemimpin de facto Arab Saudi, dan para penasihatnya," tulis Kubinec dan Montambault-Trudelle dalam tulisan kajian berbareng mereka, dikutip Kamis (11/6/2026).
Kubinec dan Montambault-Trudelle memaparkan info bahwa kebanyakan absolut penduduk alias sekitar tiga perempat dari total responden di Arab Saudi sebenarnya mendukung penuh penguatan hubungan strategis dengan Amerika Serikat. Hal ini dinilai cukup unik mengingat jajak pendapat digelar setelah militer Amerika Serikat membombardir Iran secara sepihak pada 28 Februari lalu. Agresi Iran nan menyasar beberapa wilayah sekutu justru kian memperkuat kemauan penduduk lokal untuk berlindung di bawah payung keamanan Pentagon.
Namun situasi berbalik drastis ketika masyarakat disodorkan pertanyaan mengenai opsi peluncuran serangan militer langsung ke jantung pertahanan lawan. Hasil jajak pendapat membuktikan sebanyak 49% responden menyatakan setuju jika militer Arab Saudi merudal situs-situs peluncuran rudal milik Iran sementara 51% sisanya secara tegas menolak opsi perang terbuka tersebut.
Perbedaan Pandangan Berdasarkan Usia dan Gender
Fakta lain dari riset menunjukkan bahwa support untuk tindakan militer garang paling tinggi berada di golongan usia paruh baya ialah mencapai 61%. Angka support ini justru merosot di kalangan generasi muda Arab Saudi nan hanya menyentuh persentase 45% saja.
Perbedaan perspektif pandang nan kontras juga terjadi berasas aspek kelamin di masyarakat. Sebanyak 54% laki-laki Arab Saudi tercatat sangat mendukung tindakan gempuran militer ke Iran sementara golongan wanita menunjukkan sikap nan jauh lebih menahan diri dengan nomor support hanya sebesar 43%.
"Pandangan pada kedua pertanyaan tersebut saling memperkuat; artinya, responden nan memandang positif aliansi AS lebih condong mendukung serangan terhadap Iran, dan begitu pula sebaliknya," jelas Kubinec dan Montambault-Trudelle menjabarkan keterkaitan psikologis para responden dalam survei tersebut.
Meskipun demikian, ketidakpastian situasi perang belum sepenuhnya membikin masyarakat Arab Saudi terpolarisasi secara ekstrem menjadi golongan elang nan haus perang ataupun golongan merpati nan damai. Hanya 15% responden nan sangat mendukung tindakan militer dan hanya 16% nan sangat menolaknya secara radikal.
Sebagian besar penduduk dilaporkan berada di posisi tengah nan mencerminkan sikap ambivalen alias keraguan mendalam alih-alih kepercayaan ideologis nan keras terhadap bentrok bersenjata tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa para responden di Arab Saudi tampaknya bisa membedakan antara komitmen keamanan strategis dengan Amerika Serikat dan support untuk tindakan militer nan lebih agresif.
Manuver Rahasia MBS di Tengah Tekanan Publik
Dinamika hasil polling ini dinilai sangat membantu bumi internasional untuk membaca arah manuver rahasia nan sedang dijalankan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman alias MBS. Pada bulan Mei lalu, dinas angkatan udara Arab Saudi dilaporkan sempat meluncurkan beberapa serangan udara rahasia di atas tanah Iran nan menandai perubahan besar dari doktrin pertahanan tradisional mereka.
Riyadh terpaksa mengambil tindakan sendiri setelah keputusan sepihak Washington nan menyerang Iran tanpa konsultasi membikin Arab Saudi kudu menanggung imbas berupa hantaman rudal jawaban Iran di akomodasi minyak mereka. Di sisi lain, laporan media menyebut bahwa Pangeran Mohammed secara pribadi mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk terus mempertahankan tekanan militer penuh terhadap Teheran nan disebutnya sebagai sebuah kesempatan bersejarah.
"Survei kami menunjukkan bahwa para pemimpin Saudi beraksi di bawah insentif nan saling bersaing: mempertahankan pengaruh gentar nan andal dari aliansi AS dan memberikan sinyal ketegasan terhadap Teheran, sementara secara berbarengan membatasi biaya domestik dari perang terbuka," ungkap Kubinec dan Montambault-Trudelle mengenai strategi politik nan diambil oleh istana.
Kedua peneliti tersebut menilai rezim otoriter di bumi sekalipun pada dasarnya tetap sangat sensitif terhadap batas politik domestik dan enggan menanggung biaya politik akibat menentang preferensi masyarakat luas. Dilihat dari perspektif pandang ini, sikap resmi Arab Saudi nan di satu sidi berpura-pura menahan diri di depan publik namun di sisi lain memberikan support operasi rahasia untuk melemahkan Iran dinilai sebagai strategi matang demi memuaskan sasaran keamanan luar negeri tanpa perlu memicu gejolak protes dari rakyat di dalam negeri.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·