Jakarta, CNBC Indonesia - Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat (AS), dengan menilai Washington sekarang berada dalam posisi lemah di hadapan Iran. Ia apalagi menyebut Negeri Paman Sam "dipermalukan" oleh strategi diplomasi Teheran nan dinilai lebih lihai.
Mengutip The Guardian, Merz menyampaikan pandangannya saat berbincang di hadapan mahasiswa di Marsberg. Ia menilai pemerintahan Presiden Donald Trump kandas mengimbangi strategi negosiasi Iran nan condong berkepanjangan tanpa hasil.
"Orang-orang Iran jelas sangat terampil dalam bernegosiasi, alias lebih tepatnya sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan orang-orang Amerika datang dan pergi tanpa hasil apapun," ujar Merz.
Menurutnya, kebuntuan diplomasi ini menjadi pukulan telak bagi reputasi dunia AS. Ia juga menyoroti peran Pengawal Revolusi Iran nan dianggap menjadi tokoh kunci di kembali kerasnya sikap Teheran.
"Seluruh bangsa sedang dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh golongan nan disebut Pengawal Revolusi ini. Dan saya berambisi perihal ini berhujung secepat mungkin," tegasnya.
Pernyataan Merz muncul setelah Trump membatalkan rencana perjalanan tim negosiator AS ke Islamabad untuk melanjutkan pembicaraan tidak langsung dengan Iran. Padahal, dua pekan sebelumnya, Wakil Presiden JD Vance telah lebih dulu memimpin delegasi ke Pakistan, namun tidak menghasilkan kemajuan berarti.
Di sisi lain, Trump sempat menyatakan posisi AS jauh lebih kuat dibanding Iran. Ia apalagi menyebut Teheran nan semestinya mengambil inisiatif untuk membuka komunikasi.
"Kami memegang semua kartu. Jika Teheran mau berbicara, mereka bisa datang kepada kami, alias mereka bisa menelepon kami," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Namun, sinyal berbeda justru datang dari Iran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa tekanan ekonomi dari AS tidak melemahkan negaranya. Ia apalagi menyebut bumi sekarang mulai memandang kekuatan Iran nan sesungguhnya.
"Dunia sekarang telah menyadari kekuatan sejati Iran. Telah menjadi jelas bahwa Republik Islam Iran adalah sistem nan stabil, solid, dan kuat," ujar Araghchi.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·