Kapal-kapal bersandar di pangkalan Angkatan Laut Jerman di Kiel, Jerman, Kamis (23/4/2026). Angkatan Laut Jerman menyatakan siap untuk setiap misi penyapuan ranjau di Selat Hormuz. Namun perihal ini bakal sangat berjuntai pada tingkat kepadatan ranjau di wilayah tersebut. Faktor ini dinilai krusial lantaran bakal menentukan lamanya operasi pembersihan jalur pelayaran internasional. (REUTERS/Fabian Bimmer)
Wakil Laksamana Jan Kaack menjelaskan, langkah awal setelah ranjau terdeteksi adalah membuka jalur kondusif bagi kapal dagang. Ia menekankan bahwa proses ini memerlukan kehati-hatian tinggi mengingat ancaman ranjau nan mematikan di area tersebut. (REUTERS/Fabian Bimmer)
Sebuah drone bawah air disiapkan ke atas kapal untuk penanggulangan ranjau. Pernyataan itu disampaikan Kaack kepada wartawan saat berada di atas kapal penyapu ranjau di Kiel. Menurutnya, pembahasan nan tengah berjalan berfokus pada tingkat akibat serta langkah operasional paling tepat guna memastikan keamanan pelayaran. (REUTERS/Fabian Bimmer)
Sementara itu, lebih dari selusin negara telah menyatakan kesiapan untuk berasosiasi dalam misi internasional guna melindungi jalur pelayaran di Selat Hormuz, jika situasi memungkinkan. Inisiatif ini mencerminkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas area tersebut. (REUTERS/Fabian Bimmer)
Sekitar 50 negara dari area Eropa, Asia, dan Timur Tengah juga telah mengikuti konvensi video nan dipimpin oleh Prancis dan Inggris. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari perencanaan militer awal serta upaya koordinasi internasional, sekaligus mengirimkan sinyal kepada Amerika Serikat. (REUTERS/Fabian Bimmer)
Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa negaranya pada prinsipnya siap berkontribusi dalam mengamankan jalur transit tersebut. (REUTERS/Fabian Bimmer)
Namun, dia menekankan bahwa keterlibatan itu memerlukan penghentian permusuhan, setidaknya melalui gencatan senjata sementara di area terkait. (REUTERS/Fabian Bimmer)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·