Rajiv Sebut Lahirnya Anak Gajah 'Nona Seroja' Momentum Perkuat Konservasi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta -

Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv, mengapresiasi keberhasilan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau melakukan konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Hal ini dibuktikan dengan lahirnya anak Gajah nan diberi nama 'Nona Seroja'.

"Kelahiran ini merupakan berita baik bagi bumi konservasi, sekaligus menjadi simbol bahwa upaya perlindungan Gajah Sumatera tetap memberikan hasil nyata di tengah beragam tantangan pelestarian satwa liar," ucap Rajiv dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6/2026)

Menurut politisi muda partai NasDem ini, area Flying Squad Balai TNTN telah mencatat empat kelahiran anak gajah dalam delapan tahun terakhir, dengan proses reproduksi alami antara induk gajah bimbingan dan gajah liar nan berada di area TNTN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, dia menuturkan perihal ini menunjukkan pengelolaan nan baik, pendampingan mahout, support medis veteriner, serta keberadaan kediaman nan tetap mendukung dapat menghasilkan capaian konservasi nan konkret.

"Kehadiran Nona Seroja tidak hanya menambah populasi gajah bimbingan di Camp Elephants Flying Squad Tesso Nilo, tetapi juga menunjukkan bahwa pola konservasi terkelola nan dilakukan di TNTN dapat menjadi salah satu contoh krusial bagi pengelolaan konservasi gajah di Indonesia," katanya.

Angka tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kelahiran anak gajah mempunyai makna besar, bukan hanya sebagai penambahan individu, tetapi juga sebagai angan bagi keberlanjutan populasi jangka panjang.

"Saat ini Gajah Sumatera tetap berada dalam status Critically Endangered alias terancam punah kritis. Kementerian Kehutanan mencatat populasi Gajah Sumatera di 22 lanskap koridor nan tersisa di Sumatera diperkirakan sekitar 1.100 individu. Jadi Kelahiran gajah nona Seroja ini patut jadi kegembiraan kita semua," ungkap Rajiv.

Ia menyatakan kelahiran Nona Seroja juga perlu dilihat sebagai momentum untuk memperkuat relasi antara manusia dan gajah. Konflik manusia-gajah tetap menjadi salah satu tantangan utama konservasi, terutama akibat perubahan kegunaan lahan, penyempitan habitat, dan terputusnya koridor jelajah gajah.

Karena itu, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya dilakukan melalui perlindungan satwa, tetapi juga kudu disertai dengan penguatan hubungan nan selaras antara masyarakat, pengelola kawasan, aparat, pemerintah daerah, dan seluruh pihak nan hidup berdampingan dengan ekosistem gajah.

"Saya berambisi model konservasi di Tesso Nilo, khususnya melalui pengelolaan Flying Squad, dapat terus diperkuat dan dijadikan role model konservasi Gajah Sumatera di Indonesia. Model ini krusial lantaran tidak hanya berfokus pada pengamanan satwa, tetapi juga mencakup perawatan, pemantauan kesehatan, mitigasi konflik, edukasi masyarakat, serta perlindungan kediaman secara berkelanjutan," pungkas Rajiv.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News