Raja Ampat di Papua, Indonesia, dikenal sebagai salah satu kediaman laut paling kaya keanekaragaman hayati di dunia. Wilayah ini menjadi rumah bagi ribuan jenis ikan, moluska, dan terumbu karang.
Letaknya nan terpencil membikin ekosistem di Raja Ampat relatif terlindungi dari aktivitas manusia nan intensif. Tak heran jika area ini kerap dijuluki sebagai “surga terakhir di Bumi”.
Raja Ampat berada di area coral triangle alias segitiga karang di Samudra Pasifik barat. Terumbu karangnya termasuk nan paling sehat di bumi dan menjadi kediaman krusial bagi beragam jenis biota laut.
Kondisi lingkungan nan unik membikin banyak jenis di Raja Ampat tidak ditemukan di tempat lain. Bahkan, sejumlah hewan nan hidup di sini mempunyai karakter nan sangat tidak biasa.
Salah satu penunggu paling menarik adalah hiu berjalan nan sempat gempar netizen di media sosial pada 2020. Hiu ini terlihat menggunakan sirip dada dan sirip perutnya untuk melangkah di dasar laut. Spesies tersebut dikenal sebagai hiu epaulette tutul (Hemiscyllium freycineti). Penemuan ini menambah daftar jenis hiu melangkah nan sekarang berjumlah sembilan.
Tak hanya itu, Raja Ampat juga menjadi kediaman bagi hiu unik lainnya, ialah hiu wobbegong berjumbai. Bentuk tubuhnya pipih dengan tepian berjumbai nan membuatnya susah dikenali di dasar laut, tetapi justru menjadi daya tarik tersendiri.
Raja Ampat juga dikenal mempunyai populasi pari manta hitam (Mobula birostris dan Mobula alfredi) dengan tingkat melanisme nan tinggi. Melanisme adalah kondisi hiperpigmentasi nan membikin hewan mempunyai warna tubuh gelap secara menyeluruh. Dalam konteks ini, pari manta tersebut tampak seperti jenis gelap nan jarang ditemukan di tempat lain.
Tak hanya unik dari segi warna, pari manta di Raja Ampat mempunyai perilaku sosial nan menarik. Dalam sebuah penelitian, intelektual mengawasi lebih dari 500 golongan pari manta selama lima tahun di area Raja Ampat Marine Park.
Hasilnya menunjukkan bahwa ikan bertulang rawan ini membentuk hubungan sosial dan apalagi memilih pasangan hubungan tertentu, sebuah indikasi bahwa mereka mungkin mempunyai semacam teman.
Keajaiban Raja Ampat tidak hanya terbatas di bawah laut. Di daratan, para intelektual menemukan kembali jenis anggrek langka nan sebelumnya lama tidak terlihat. Ekspedisi di Gunung Nok, Pulau Waigeo–pulau terbesar di Raja Ampat– sukses menemukan kembali anggrek biru langka Dendrobium azureum.
Tak berakhir di situ, tim peneliti juga menemukan jenis baru nan sebelumnya belum pernah tercatat, ialah anggrek merah terang Dendrobium lancilabium.
Dengan kekayaan hayati nan luar biasa, Raja Ampat betul-betul menjadi destinasi angan bagi pecinta alam dan peneliti. Mulai dari hiu nan bisa berjalan, pari manta berwarna gelap nan eksotis, hingga anggrek langka nan memukau, semua bisa ditemukan di area ini.
Keunikan tersebut semakin menegaskan bahwa Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata, melainkan salah satu kekayaan karun biodiversitas paling berbobot di dunia.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·