Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Luar Negeri Rusia memberikan peringatan keras mengenai dugaan keterlibatan negara-negara Barat dalam salah satu serangan teroris terkoordinasi terbesar nan melanda Mali, termasuk serangan ke airport internasional Bamako dan kota garnisun Kati.
Serangan masif nan terjadi pada hari Sabtu, (25/04/2026), tersebut melibatkan sekitar 250 petarung nan menargetkan Bandara Internasional Modibo Keita dan pangkalan militer di sekitarnya. Kelompok hubungan Al-Qaeda regional, JNIM, berbareng golongan pemberontak separatis Azawad Liberation Front (FLA) menyatakan bertanggung jawab atas serangan nan akhirnya sukses dipukul mundur oleh pasukan Mali tersebut.
Pihak berkuasa setempat belum merilis jumlah korban jiwa secara resmi, namun melaporkan sedikitnya 16 orang terluka dalam kejadian nan diduga juga menargetkan kepemimpinan senior negara itu. Mengutip Russia Today, Kementerian Luar Negeri Rusia menyampaikan kekhawatiran mendalam atas eskalasi tersebut melalui sebuah pernyataan resmi.
"Pihak Rusia menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa nan terjadi. Pertempuran ini menciptakan ancaman langsung terhadap stabilitas Mali, sebuah negara dengan hubungan persahabatan dengan Rusia, dan berisiko menimbulkan akibat paling negatif bagi seluruh wilayah sekitarnya," tulis Kementerian Luar Negeri Rusia dalam unggahan di Telegram.
Moskow juga mengungkapkan bahwa operasi pembersihan tetap terus berjalan hingga saat ini. Berdasarkan temuan awal di lapangan, Rusia mencurigai adanya kombinasi tangan pihak asing dalam mempersiapkan para pemberontak untuk melakukan serangan skala besar tersebut.
"Data awal menunjukkan bahwa dinas keamanan Barat mungkin terlibat dalam training para pemberontak tersebut," tambah kementerian tersebut dalam penjelasannya.
Kehadiran militer Rusia di Mali melalui unit "Africa Corps" nan dibentuk pada tahun 2023 di bawah kendali Kementerian Pertahanan Rusia, turut ambil bagian dalam menstabilkan situasi. Dalam pernyataan terpisah, Africa Corps mengonfirmasi bahwa mereka terlibat langsung dan menemukan bukti penggunaan tentara penghasilan serta senjata dari luar wilayah Afrika.
"Serangan itu didukung oleh tentara penghasilan Ukraina dan Eropa nan menggunakan senjata buatan Barat. Kekuatan teroris kehilangan sekitar 1.000 militan dan lebih dari 100 kendaraan," ungkap perwakilan Africa Corps dalam laporan resminya.
Dugaan keterlibatan Barat ini sejalan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov awal tahun ini, nan menuding Prancis mencoba menggulingkan pemerintahan nasionalis di wilayah Sahara-Sahel. Lavrov menyebut Prancis menggunakan metode kolonial dan memanfaatkan golongan teroris serta militan Ukraina untuk membalas dendam atas keputusan Bamako nan memilih mendekat ke Moskow.
Prancis sendiri telah mengakhiri misi kontra-terorismenya di Mali pada tahun 2022 setelah otoritas lokal mengusir pasukannya. Saat itu, pemerintah Mali menuduh Paris mendukung golongan teroris, meskipun tuduhan tersebut telah berulang kali dibantah oleh para pejabat Prancis.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·