Jakarta -
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pihaknya sudah membentuk tim dengan Kejaksaan Agung dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengusut dugaan praktik manipulasi nilai under invoicing ekspor komoditas sumber daya alam (SDA), salah satunya kelapa sawit.
Menurutnya, sejak tiga bulan lalu, Purbaya dan tim campuran sudah menghitung potensi manipulasi nilai nan terjadi pada beberapa perusahaan. Bahkan, Purbaya mengaku sudah punya info 10 besar 'pemain' kelapa sawit nan diduga melakukan under invoicing.
"Kita sudah jalan sejak 2-3 bulan lalu. Saya kan ada tim dengan Kejaksaan dengan BPPK untuk menghitung ulang nilai ekspor mereka beberapa tahun ke belakang. Kami tunggu laporan seperti apa tapi tim sudah jalan 2-3 bulan lalu," ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, info terkini soal dugaan praktik manipulasi nilai itu sudah dilaporkan ke Presiden Prabowo Subianto. Kebetulan hari ini dia memang diundang untuk makan siang berbareng Prabowo.
"Pokoknya (data) itu memperkuat dugaan beliau selama ini kan bahwasanya memang ada seperti itu, dan itu datanya kan sangat kuat sekali itu," kata Purbaya.
Menurutnya, jika kasus under invoicing ini terungkap dan diproses, dampaknya bakal sangat bagus bagi penerimaan pajak dan keahlian ekspor.
"Dan itu dampaknya bakal bagus kepada pajak, ekspor kita, dan bagi perusahaan nan listing ke bursa, itu bakal berakibat ke nilai perusahaan itu, lantaran sebelumnya dia dimainkan pemiliknya sekarang nggak bisa dia bakal masuk ke perusahaan itu ekspor itu," sebut Purbaya.
Sebelumnya, saat tiba di Istana Kepresidenan, Purbaya bilang dirinya sudah memegang info potensi under invoicing nan dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit nasional.
Sambil membuka info nan dibawanya, di depan awak media, Purbaya memaparkan ada perusahaan nan info komoditas ekspornya selisih sampai 57-200%. Di pelabuhan Indonesia info nilai ekspornya lebih mini daripada di pelabuhan tujuannya di luar negeri.
"Ada contohnya, nggak mau sebut perusahaannya ya saya. Jadi, ada dari Indonesia dikirim harganya US$ 2,6 juta impornya di sana US$ 4,2 juta jadi 57% bedanya. Ada nan lebih gila lagi ada satu perusahaan lagi di sini ekspornya US$ 1,44 juta di sana US$ 4 jutaan berubah nilai 200%," beber Purbaya.
(hal/ara)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·