Purbaya Buka-bukaan Data Kemiskinan dan Pengangguran Turun

Sedang Trending 21 jam yang lalu

Jakarta -

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mencatat penurunan jumlah kemiskinan dan pengangguran di Indonesia pada 2025. Hal tersebut terjadi seiring dengan capaian pertumbuhan ekonomi sepanjang periode tersebut.

Purbaya mengatakan ekonomi Indonesia tetap tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian imbas naiknya tensi geopolitik. Hal tersebut tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% sepanjang 2025.

Hal tersebut dia tegaskan setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran (TA) 2025 melalui Rapat Paripurna ke-3 Masa Persidangan I di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hal ini kemudian meningkatkan resiko stabilitas ekonomi, tekanan terhadap pasar keuangan, perlambatan investasi, dan terganggu rantai pasok global. Namun kita kudu bersyukur, di tengah gejolak tersebut, stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga. Perekonomian Indonesia tahun 2025 tumbuh 5,11% dengan inflasi terjaga pada level 2,92% dan defisit anggaran pada 2,81% dari PDB," terang Purbaya Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Purbaya mengatakan, terjaga perekonomian RI sepanjang tahun 2025 didukung oleh kebijakan fiskal nan diklaim telah mendorong kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut tercermin dari penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan.

Ia menyebut nomor pengangguran hingga Agustus 2025 tercatat sebesar 4,85%, lebih rendah dibanding Agustus 2024 ialah sebesar 8,57%. Selain itu, tingkat kemiskinan juga tercatat turun dari 8,57% pada September 2024 menjadi 8,25% hingga September 2025.

"Tingkat kemiskinan nan juga turun menjadi 8,25% pada September 2025 lebih rendah jika dibandingkan September 2024 nan mencapai 8,57%," jelasnya.

Ke depan, Purbaya mengatakan pemerintah berkomitmen untuk menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tetap sehat dan kredibel. Dengan begitu, APBN sebagai instrumen fiskal bisa tetap adaptif dan responsif dalam menstimulasi perekonomian.

"APBN bakal terus dijaga tetap sehat dan andal sehingga menjadi instrumen fiskal nan adaptif, responsif dan efektif dalam menstimulasi perekonomian dan mewujudkan kesejahteraan rakyat," pungkas Purbaya.

(hns/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance