Purbaya Akhirnya Akui Pelemahan Rupiah Bebani Pedagang Kecil

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Purbaya Akhirnya Akui Pelemahan Rupiah Bebani Pedagang Kecil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa(MI/Insi Nantika Jelita)

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti akibat pelemahan nilai tukar rupiah nan mulai dirasakan pelaku upaya kecil, terutama pedagang tempe dan tahu. Menurutnya, depresiasi rupiah hingga menyentuh level Rp18.012 per dolar AS telah meningkatkan biaya bahan baku impor, khususnya kedelai, sehingga menggerus untung pedagang dan memaksa sebagian pelaku upaya meningkatkan nilai jual.

"Saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya alias terpaksa meningkatkan nilai lantaran bahan-bahannya tetap diimpor," kata Purbaya.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi para pedagang nan berjuntai pada bahan baku impor. Kenaikan kurs membikin nilai kedelai impor lebih mahal sehingga beban upaya ikut meningkat.

"Yang jelas itu kan meningkatkan cost of production mereka," ujarnya.

Untuk mengatasi tekanan tersebut, pemerintah bakal terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) agar kebijakan fiskal dan moneter melangkah lebih selaras. Purbaya meyakini sinergi nan lebih erat antara pemerintah dan bank sentral dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memberikan akibat positif bagi masyarakat.

"Dengan kelak kebijakan lebih bagus itu kita bakal memandang rupiah nan lebih stabil, mereka menjadi tidak terbebani lagi beban hidupnya, tidak mengalami kenaikan beban hidup nan terlalu signifikan," tuturnya.

Menurut Purbaya, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter bakal memberikan faedah tidak hanya pada level makroekonomi, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Stabilitas rupiah diharapkan dapat menjaga daya beli rumah tangga serta mengurangi tekanan biaya nan dihadapi pelaku upaya kecil.

Lebih lanjut, Purbaya menilai pelemahan rupiah dan tekanan di pasar saham dalam beberapa waktu terakhir salah satunya dipicu oleh sentimen negatif di kalangan pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah. Namun, dia membantah dan menegaskan kondisi esensial ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik.

"Padahal itu enggak benar. Karena APBN kita bagus, ekonomi tetap cukup bagus," klaimnya.

Ia mengatakan aktivitas ekonomi di beragam wilayah tetap menunjukkan peningkatan. Namun, persepsi negatif nan berkembang di pasar dinilai ikut memengaruhi sentimen penanammodal terhadap perekonomian nasional.

"Sampai sekarang jika kita ke mana-mana, semuanya ekonomi aktivitas meningkat. Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang bakal terpengaruh," katanya.

Ke depan, pemerintah bakal konsentrasi memastikan kebijakan fiskal melangkah efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nan lebih cepat. Pada saat nan sama, koordinasi dengan Bank Indonesia bakal terus diperkuat guna meningkatkan efektivitas kebijakan ekonomi secara keseluruhan.

"Ini agar kebijakan semakin sinkron agar akibat kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian. Sebelumnya juga ada erat, hanya kita lebih eratin aja," ucapnya.

Purbaya optimistis sinergi nan lebih kuat antara kebijakan fiskal dan moneter bakal membantu memulihkan kepercayaan pasar terhadap rupiah. Dengan demikian, stabilitas nilai tukar dapat terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

"Sekarang nan krusial adalah kita mau memandang akibat ke masyarakat nan positif dari rupiah itu," pungkasnya. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia