Tangisan seorang anak perempuan nan berulang kali memanggil, "Bapak... Bapak..." saat prosesi pemakaman ayahnya menyentuh hati banyak orang. Video tersebut viral setelah seorang laki-laki berinisial IKD meninggal bumi usai diduga dikeroyok massa lantaran dituduh mencuri ayam kejuaraan di Tabanan, Bali.
Bagi banyak orang, video itu memperlihatkan kesedihan seorang anak nan kehilangan ayahnya. Ya Moms, di kembali tangisan tersebut, juga terdapat pengalaman kehilangan nan bisa meninggalkan akibat psikologis mendalam.
Psikolog Klinis Ratih Zulhaqqi, M.Psi., Psikolog menegaskan bahwa penjelasan ini disampaikan berasas info nan beredar di publik dan bukan untuk menegakkan pemeriksaan terhadap anak dalam video.
"Secara psikologis, situasi seperti itu pasti menjadi pengalaman kehilangan nan sangat berat dan berpotensi traumatis," ujarnya kepada kumparanMOM, Selasa (28/7).
Anak Bukan Hanya Kehilangan Sosok Ayah, tapi Juga Rasa Aman
Menurut Ratih, bagi seorang anak, orang tua bukan hanya orang nan dicintai. Ayah dan ibu juga merupakan figur kelekatan (attachment figure) nan memberikan rasa kondusif dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kehilangan ayah secara mendadak dapat terasa seperti kehilangan tempat berlindung.
"Ketika anak menangis panik sembari memanggil ayahnya, kemungkinan dia sedang mengalami campuran emosi nan sangat kuat. Ada rasa sedih, terkejut, bingung, takut, apalagi tidak percaya bahwa ayahnya betul-betul telah meninggal," jelas Ratih.
Pada kondisi seperti ini, tubuh anak juga dapat mengalami respons stres akut. Reaksinya bisa berupa menangis tanpa henti, berteriak, gemetar, mematung, memeluk jenazah, alias terus memanggil orang tua seolah berambisi mereka kembali.
Ratih menambahkan, pemahaman anak tentang kematian juga berjuntai pada usianya. Anak nan lebih mini sering kali belum memahami bahwa kematian berkarakter permanen sehingga mereka mungkin bakal terus bertanya kapan ayahnya pulang alias mengira ayahnya hanya sedang pergi.
Dampak Kehilangan Mendadak Bisa Berlangsung dalam Jangka Panjang
Dalam jangka pendek, anak nan mengalami kehilangan traumatis dapat menunjukkan beragam reaksi, seperti menangis berulang, mudah marah, bingung, diam, alias justru terlihat meninggal rasa.
Selain itu, mereka juga dapat mengalami susah tidur, mimpi buruk, menjadi lebih sensitif, susah berkonsentrasi, hingga mengeluhkan sakit kepala alias sakit perut.
"Namun dalam jangka panjang, kehilangan traumatis itu dapat mengganggu rasa kondusif anak. Anak bisa memandang bumi sebagai tempat nan berbahaya, susah mempercayai orang lain, alias sangat takut kehilangan orang-orang nan tetap ada di sekitarnya," kata Ratih.
Pada sebagian anak, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan akibat munculnya kecemasan, depresi, gangguan izin emosi, masalah perilaku, hingga indikasi stres pascatrauma (PTSD). Meski demikian, Ratih menekankan bahwa tidak semua anak bakal mengalami akibat tersebut lantaran setiap anak mempunyai proses bersungkawa nan berbeda.
Apa Itu Childhood Traumatic Grief?
Kehilangan orang tua akibat peristiwa tragis dapat berkembang menjadi Childhood Traumatic Grief, ialah kondisi ketika trauma atas langkah seseorang meninggal menghalang proses bersungkawa anak.
Dalam kondisi ini, anak bukan hanya merindukan sosok nan telah meninggal, tetapi juga terus dibayangi oleh ketakutan terhadap peristiwa kematiannya.
"Kenangan menyenangkan tentang ayah justru dapat memunculkan gambaran mengerikan, mimpi buruk, rasa bersalah, kemarahan, alias ketakutan. Akibatnya, anak bisa menghindari foto, tempat, alias pembicaraan tentang ayah lantaran semuanya mengingatkan pada peristiwa traumatis itu," jelasnya.
Cara Mendampingi Anak nan Kehilangan Orang Tua
Dukungan family menjadi aspek paling krusial agar anak dapat melalui proses bersungkawa dengan sehat.
Beberapa perihal nan dapat dilakukan family antara lain:
Pastikan anak didampingi oleh orang dewasa nan konsisten sehingga dia tetap merasa kondusif dan terlindungi.
Jelaskan tentang kematian menggunakan bahasa nan jujur dan sesuai usia anak. Gunakan kata "meninggal", bukan "tidur" alias "pergi", agar anak tidak bingung.
Validasi emosi anak, misalnya dengan mengatakan, "Kamu pasti sangat sedih dan kangen Bapak. Kami ada di sini menemani kamu."
Berikan ruang kepada anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui cerita, gambar, bermain, alias berdoa. Jangan memaksa anak untuk bercerita jika belum siap.
Pertahankan rutinitas harian, seperti makan, tidur, dan sekolah, agar anak tetap mempunyai rasa aman.
Hindarkan anak dari tayangan video, foto, alias pemberitaan nan berulang mengenai peristiwa tragis tersebut.
Jaga privasi anak dan hindari menyebarluaskan video ketika dia sedang berada dalam kondisi paling rentan.
Keluarga juga perlu segera mencari support ahli andaikan anak terus mengalami mimpi buruk, ketakutan nan menetap, menghindari semua perihal nan mengingatkan pada orang tua, tidak bisa menjalani aktivitas sehari-hari, alias apalagi menunjukkan kemauan untuk menyusul orang nan telah meninggal.
"Dukungan family nan stabil, rutinitas nan terjaga, dan pendampingan nan responsif menjadi aspek pelindung agar duka traumatis tidak berkembang menjadi PTSD," tutup Ratih.
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·