Punya Potensi Harta Karun Langka, RI Pernah Dilirik Inggris-Kanada

Sedang Trending 58 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesian Mining Institute (IMI) mengungkapkan sejumlah perusahaan pertambangan dunia dari Inggris hingga Kanada sempat menunjukkan kesukaan untuk menggarap potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia. Minat tersebut muncul seiring dengan besarnya persediaan mineral kritis nan tersimpan dalam mineral ikutan timah maupun primer di Tanah Air.

Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menjelaskan bahwa kesukaan pihak asing tersebut sudah dirintis melalui sejumlah penjajakan kerja sama teknologi pengolahan dengan PT Timah Tbk (TINS) sejak beberapa tahun lalu. Namun, dia mencatat bahwa hingga saat ini beragam komitmen tersebut belum memberikan hasil alias mencapai kesepakatan komersial.

"Saya ceritakan rintisan-rintisan kerja sama nan dilakukan oleh PT Timah itu dengan perusahaan-perusahaan nan ada di bumi untuk mengolah monasit di sana untuk mendapatkan logam tanah jarang, uranium, sama torium itu ada enam jika enggak salah tetapi belum tercapai kesepakatan sampai sekarang," ungkapnya dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Perusahaan asal Inggris, Less Common Metals (LCM), tercatat menjadi salah satu perusahaan nan pernah menjajaki potensi tersebut sejak tahun 2018. Irwandy mengatakan, rintisan tersebut awalnya direncanakan untuk memproduksi logam dan alloy berbasis tanah jarang dengan mengambil sampel dari wilayah operasional PT Timah, namun kelanjutan proyek itu tetap belum menemui titik terang.

"Yang pertama itu dengan Less Common Metals dari Inggris, United Kingdom. Tapi ini juga kita belum tahu apakah bersambung alias tidak, padahal periodenya itu sudah bicara sejak 2018," paparnya.

Selain Inggris, minat juga muncul dari Canada Rare Earth Corporation pada tahun 2021, serta beberapa perusahaan asal Malaysia. Menurutnya, Indonesia juga pernah memfasilitasi komunikasi dengan perusahaan asal Australia, Lynas Rare Earths (dulu berjulukan Lynas Corporation), nan telah mempunyai pabrik pemurnian di Malaysia, namun pembicaraan tersebut belum membuahkan realisasi.

"Kemudian, ada Canada Rare Earth Corporation dari tahun 2021 juga belum ada realisasi apakah jadi. Ada Malaco Mining dari Malaysia ini juga tetap penjajakan," imbuhnya.

Belum adanya perkembangan signifikan dalam kerja sama internasional tersebut dipicu oleh tantangan penguasaan teknologi pemrosesan nan belum mencapai skala ekonomi di dalam negeri. Saat ini, pemerintah melalui Badan Industri Mineral (BIM) sedang berupaya mencari mitra baru guna mengoptimalkan hilirisasi mineral strategis tersebut agar tidak hanya menjadi komoditas ekspor bahan mentah.

"Pak Profesor Brian (Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto) mengatakan kepada saya bahwa bakal ada pembicaraan pada waktu itu dengan pihak Jepang. Saya enggak tahu pihak Jepangnya dari mana untuk masalah kerja sama dengan Timah ini," tutupnya.

Mengenal Logam Tanah Jarang

Irwandy Arif menjelaskan, LTJ merupakan kumpulan dari 17 unsur kimia dalam tabel periodik nan mempunyai sifat magnetik dan kimia unik. Ia menyebut bahwa mineral tersebut diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar, ialah logam tanah jarang ringan dan logam tanah jarang berat.

Kelompok 17 unsur tersebut mencakup skandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), serium (Ce), praseodimium (Pr), neodimium (Nd), prometium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), diprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), tulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutesium (Lu).

Adapun, pembagian kategori berat dan ringan didasarkan pada konfigurasi partikel orbital, di mana golongan berat condong lebih langka dan mempunyai nilai ekonomi nan jauh lebih tinggi.

"Di logam tanah jarang ini kemudian dikelompokkan pada dua bagian ialah logam tanah jarang nan berat, heavy rare earth element dan nan ringan. nan ringan itu partikel tak berpasangan lebih banyak sedangkan nan berat itu lebih langka dan berbobot tinggi serta kemudian berasas sifat magnetik dan kimia nan berbeda," papar Irwandy.

Di Indonesia, keberadaan LTJ pada umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari aktivitas penambangan komoditas lain seperti timah, nikel, dan bauksit. Beberapa jenis mineral nan mengandung LTJ di tanah air meliputi monasit, xenotim, dan zirkon nan banyak ditemukan pada endapan timah aluvial di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain sebagai mineral ikutan, pemerintah baru-baru ini mengidentifikasi keberadaan persediaan logam tanah jarang jenis primer di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat. Temuan tersebut menjadi konsentrasi perhatian baru lantaran kadarnya nan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mineral ikutan, sehingga membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun industri pengolahan mineral strategis sendiri.

"Ada satu tempat di Indonesia ialah di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat nan mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan," jelas Irwandy.

Berdasarkan info penelitiannya, temuan di Mamuju menunjukkan kadar total LTJ nan sangat tinggi mencapai 4.500 hingga 6.000 ppm, jauh melampaui kadar di Bangka Belitung nan berkisar 1.000 hingga 2.391 ppm. Sementara itu, wilayah Sumatera Utara juga mempunyai potensi dengan kadar 2 hingga 1.400 ppm nan berasal dari pelapukan batuan granit.

"Tingkat pasokan nan terbesar itu adalah katalis, kaca, dan pemolesan. Jadi nan terbesar 31% itu serium. nan kedua itu lantanum untuk katalis dan baterai NiMH. Kemudian 25% baru namanya ND. ND itu untuk magnet permanen," tuturnya.

Pemanfaatan LTJ untuk magnet permanen menjadi sektor nan paling strategis lantaran menjadi komponen utama motor traksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga cakram keras komputer. Volume penggunaan magnet berbasis LTJ diproyeksikan bakal terus meningkat dari porsi 29% pada tahun 2023 menjadi 41% pada tahun 2034 mendatang.

(ven/wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News