
Puluhan ribu migran menyerbut Ceuta pada Jumat, 31 Juli 2026.
MADRID - Hampir semua dari puluhan ribu migran nan memasuki wilayah Ceuta di Afrika Utara, Spanyol, telah pergi meninggalkan wilayah tersebut pada Sabtu (1/8/2026), kata para pejabat. Beberapa negara Eropa telah memperketat kontrol perbatasan mereka menyusul kejadian tersebut untuk mencegah masuknya migran secara tiba-tiba.
Diperkirakan 60.000 migran memasuki Ceuta hanya dalam beberapa hari dari negara tetangga Maroko, kata Kepala Pemerintahan Regional wilayah tersebut, Juan Jesús Vivas, kepada wartawan. Namun pada Sabtu, Menteri Dalam Negeri Spanyol mengatakan nyaris semuanya telah pergi.
"Situasinya nyaris sepenuhnya berbalik," kata Fernando Grande-Marlaska kepada wartawan, sebagaimana dilansir TRT.
Di bawah pengawasan tentara dan polisi Spanyol pada Sabtu pagi, para migran muda nan tersisa terus menyeberang kembali ke Maroko, seperti nan dilihat oleh wartawan AFP. Siapa pun nan terlalu lama berada di jalur pantai segera diusir kembali oleh tentara.
Untuk menyeberang ke Ceuta, banyak nan berenang melewati penghalang perbatasan mini nan menjorok ke Laut Mediterania. Setidaknya 67 orang tewas dalam upaya tersebut, kata Grande-Marlaska sembari memberikan nomor terbaru pada Sabtu.
Masuknya migran secara tiba-tiba telah memicu kepanikan politik di Eropa. Dua puluh dua negara Uni Eropa mengeluarkan surat terbuka berbareng pada Sabtu nan menyerukan pertemuan video para menteri dalam negeri blok tersebut "sebagai masalah mendesak" untuk menyepakati respons terkoordinasi nan cepat, dan untuk "mencegah penyeberangan tak terkendali lebih lanjut".
Prancis telah memperketat pemeriksaan di perbatasannya dengan Spanyol dan mengatakan bakal meningkatkan kehadiran polisi di sana lima kali lipat menjadi 334 petugas dan gendarme pada Sabtu.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·