Puluhan Hektare Sawah di Bogor Dilanda Kekeringan, Terancam Gagal Panen

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Bogor -

Kemarau panjang berakibat pada lahan pertanian nan ada di wilayah Kecamatan Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Pada periode bulan lalu, terdapat 38,1 hektare lahan sawah nan mengalami kekeringan.

"Pada Agustus 2026, terdapat sekitar 38,1 hektare lahan sawah nan mengalami kekeringan berat hingga puso," kata Kepala Distanhorbun Kabupaten Bogor, Entis Sutisna, Jumat (4/9/2026).

Kemudian berasas info nan dikumpulkan, sekitar 701,30 hektare sawah tadah hujan di Kecamatan Jonggol tidak dapat ditanami akibat tidak adanya hujan. Data tersebut dilaporkan pada bulan Juli lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selain itu, sekitar 40,30 hektare sawah irigasi mengalami kekeringan akibat berkurangnya debit air dan kerusakan jaringan irigasi. Pada periode 7-15 Juli 2026, tercatat sekitar 39,3 hektare tanaman padi berada dalam kondisi terancam kandas panen," sebutnya.

Dia mengatakan penanganan tetap diupayakan untuk mengantisipasi akibat nan meluas. Penanganan mulai dari pendataan, langkah teknis, pengaturan kelola taman, hingga berkoordinasi dengan petani.

"Kondisi sejumlah lahan persawahan di Kecamatan Jonggol nan mengalami kekeringan dan permukaan tanah retak selama musim tandus menjadi perhatian. Penanganan kekeringan dilakukan dengan terlebih dulu memastikan kondisi setiap lahan di lapangan," jelasnya.

Menurutnya perihal itu krusial dilakukan karena tak semua lahan sawah nan terlihat kering dikategorikan sebagai kandas panen. Sehingga langkah nan dilakukan bisa tepat sasaran.

"Kita melakukan pendataan dan pemantauan secara langsung untuk memastikan mana lahan nan memang terdampak kekeringan dan mana nan merupakan sawah tadah hujan nan memang belum ditanami lantaran keterbatasan air. Jadi, penanganannya kudu berasas kondisi riil di lapangan," ujarnya.

Berdasarkan laporan tambah tanam, sebagian petani melakukan penanaman sekitar bulan Maret dan memasuki masa panen pada Juni. Usai panen, sebagian besar lahan sawah tadah hujan tidak langsung ditanami kembali lantaran kesiapan air nan tidak mencukupi.

"Sawah tadah hujan sepenuhnya berjuntai pada curah hujan dan umumnya tidak mempunyai sumber air pengganti selama musim kemarau. Kondisi tersebut juga menyebabkan penggunaan pompa air tidak selalu dapat dilakukan, terutama pada lahan nan tidak mempunyai sumber air nan mencukupi di sekitar areal persawahan," pungkasnya.

(rdh/mea)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News