Mei Sada Sirait
, Jurnalis-Kamis, 19 Februari 2026 |09:01 WIB

Puasa Ramadhan, Ini nan Perlu Diketahui oleh Si Hobi Makan Pedas. (Foto: Freepik)
JAKARTA - Semakin berkembangnya bumi kuliner, makanan pedas semakin menjadi favorit banyak orang lantaran dikreasikan menjadi beragam hidangan menarik. Akhirnya, makanan pedas sekarang menjadi bagian nan tak terpisahkan dari bumi kuliner global. Tapi gimana ya jika kegemaran makan pedas di bulan puasa Ramadhan?
Memang tidak semua orang menyukai rasa pedas. Namun, bagi para pecinta pedas, apakah kondusif bagi pencernaan?
Rasa “pedas” pada makanan umumnya berasal dari senyawa kimia berjulukan capsaicin, nan banyak terdapat di cabe dan cabe rawit. Capsaicin tidak diserap seperti nutrisi, melainkan berinteraksi langsung dengan reseptor rasa di mulut dan saluran pencernaan, terutama nan bertanggung jawab mendeteksi panas alias iritasi.
Interaksi ini dapat memicu sensasi terbakar. Dalam konteks pencernaan, capsaicin juga dapat memengaruhi motilitas usus (gerakan usus) dan sekresi masam lambung. Efek-efek inilah nan membikin makanan pedas sering dikaitkan dengan respons pencernaan seperti sakit perut.
Makanan pedas bisa merangsang pergerakan usus nan dapat membantu memperlancar proses pencernaan dan mencegah sembelit. Capsaicin merangsang jaringan saraf di usus sehingga mempercepat transit feses melalui saluran pencernaan.
Selain itu, capsaicin juga bisa meningkatkan pengeluaran daya dan metabolisme tubuh setelah makan. Namun, pengaruh ini condong mini sehingga bukan berfaedah makanan pedas adalah “obat ajaib” untuk menurunkan berat badan.
Meski makanan pedas bisa memberikan sensasi nikmat dan beberapa faedah ringan, ada beberapa pengaruh negatif nan bisa dirasakan pada sistem pencernaan, di antaranya:
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·