Jakarta, CNBC Indonesia - PT Timah Tbk (TINS) membeberkan bahwa saat ini perusahaan tengah menjajaki potensi impor bijih timah dari beragam negara. Dua negara nan saat ini dibidik adalah Myanmar dan Amerika Latin.
Mengingat, persediaan timah domestik nan dikelola perusahaan saat ini terhitung hanya bisa memperkuat hingga 15 tahun ke depan.
Wakil Direktur Utama TINS Harry Budi Sidharta menjelaskan bahwa perusahaan kudu mulai mencari sumber pasokan baru dari luar negeri agar tidak hanya berjuntai pada persediaan di Bangka Belitung.
Ia menyebut perusahaan sekarang mulai membuka komunikasi diplomatik untuk memetakan potensi pengadaan bahan baku dari negara produsen lain.
"Untuk luar negeri kita memang lagi penjajakan, salah satunya itu dari Myanmar lantaran Myanmar ini punya dia ekspor terbesar bijih, jadi belum ada smelter. Kemudian, beberapa nan menawarkan kemarin memang dari Amerika Latin ada nan menawarkan," katanya saat obrolan dengan sejumlah media di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Penjajakan sumber bijih timah dari dunia tersebut dilakukan lantaran perusahaan memandang adanya kesempatan untuk menyerap hasil tambang dari negara nan belum mempunyai akomodasi pemurnian sendiri.
Melalui rencana impor bijih tersebut, perusahaan berambisi dapat mengoptimalkan kapabilitas smelter di dalam negeri nan saat ini tetap mempunyai ruang untuk meningkatkan volume produksi.
"Memang itu 15 tahun mungkin posisi hari ini ya, tapi kita terus melakukan eksplorasi terus. Kalau kita memang kita bicara kelangsungan upaya kayaknya kita memang kudu ke luar mencari, kita nggak bisa terus mengandalkan Bangka Belitung, pasti pada satu saat bakal habis," lanjut Harry.
Soal model investasinya, perusahaan condong memilih skema pembelian bijih daripada melakukan aktivitas penambangan langsung di negara lain. Strategi tersebut dinilai lebih kondusif dari sisi kepastian norma dan akibat operasional dibandingkan kudu mengelola tambang secara berdikari di wilayah nan mempunyai dinamika politik kompleks.
"Kita (rencana) membeli saja, lantaran mungkin lebih keamanan lebih ada. Kita dulu pernah punya pengalaman mau menambang di Myanmar, di Nigeria gitu, secara norma dan lain-lain itu terlalu banyak risikonya, mending lebih baik kita menggandeng penambang lokal sana kemudian kita bawa alias kita di smelternya," tambahnya.
Kendati begitu, Harry mengakui bahwa rencana impor bijih timah ini tetap memerlukan kajian mendalam mengenai izin perdagangan di Indonesia.
Menurutnya, saat ini belum ada patokan nan secara spesifik membolehkan impor mineral mentah untuk diolah di dalam negeri, sehingga diperlukan koordinasi lebih lanjut dengan kementerian terkait.
"Belum boleh, makanya ini kan penjajakan dulu ya kita mau lihat dulu berapa sih volumenya ada nggak. Memang tetap penjajakan tetapi jika kita bicara kelangsungan upaya kayaknya kita memang kudu ke luar," tandasnya.
Sebelumnya, PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan total sumber daya timah saat ini sebesar 800.000 ton dengan jumlah persediaan sebesar 300.000 ton. Namun, volume persediaan tersebut diproyeksikan hanya bisa menopang kebutuhan operasional produksi perusahaan untuk jangka waktu 10 hingga 15 tahun ke depan.
Direktur Produksi dan Komersial TINS Ilhamsyah Mahendra menjelaskan bahwa perusahaan tengah mendorong aktivitas eksplorasi untuk mengamankan kesiapan sumber daya jangka panjang. Ia menegaskan bahwa penambahan persediaan baru menjadi prioritas untuk memastikan keberlanjutan upaya perusahaan.
"Mulai dari eksplorasi, sekarang kami betul-betul melakukan eksplorasi nan agresif. Itu salah satu konsentrasi utama PT Timah. Kita perlu mengamankan deposit sumber daya dan cadangan. Saat ini kami mempunyai sekitar 800.000 untuk sumber daya dan sekitar 300.000 untuk cadangan. Dan kita butuh usia tambang nan lebih lama," ujarnya dalam aktivitas Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026, Jakarta, dikutip Kamis (4/6/2026).
Pihaknya menilai kesiapan persediaan saat ini belum cukup ideal jika dibandingkan dengan visi perusahaan untuk mendominasi pasar dunia dalam waktu lama. Guna mempercepat penemuan titik persediaan baru, emiten personil holding industri pertambangan MIND ID ini mulai mengandalkan teknologi pemetaan digital dan pemantauan udara di wilayah konsesi.
"Saya rasa angka-angka itu hanya untuk 10-15 tahun. Kita butuh jauh lebih banyak deposit untuk lebih dari seratus tahun. Jadi kami juga didukung oleh banyak teknologi untuk aktivitas eksplorasi, kami menggunakan platform GIS dan juga pemanduan drone untuk meningkatkan kecermatan eksplorasi serta kecepatan waktu," tambahnya.
Di sisi lain, perusahaan juga mulai melirik kesempatan ekspansi ke luar negeri untuk mencari aset pertambangan nan strategis. Strategi ini diambil agar perusahaan tidak hanya berjuntai pada sumber daya domestik, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia.
"Kami sekarang mencari ekspansi global, tidak hanya memperluas kapabilitas di sisi pemurnian, tetapi kami mencari aset pertambangan di luar Indonesia dan kami sangat terbuka mencari kesempatan untuk melakukan kemitraan, kerjasama dengan perusahaan timah global," tandasnya.
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·