Kasus bullying kembali menjadi perhatian publik setelah seorang anak berusia 6 tahun di Jakarta Pusat diduga menjadi korban perundungan oleh dua remaja. Berdasarkan laporan nan beredar, korban mengalami sengatan listrik hingga tegang dan sempat koma.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bullying bukan sekadar candaan alias kenakalan anak-anak. Ya, Moms, lantaran dampaknya bisa sangat serius, apalagi menakut-nakuti keselamatan korban.
Menurut Psikolog Klinis Gita Aulia, M.Psi., perilaku bullying sering kali tidak muncul begitu saja. Anak belajar dari apa nan mereka lihat, dengar, dan alami setiap hari.
Kebiasaan nan Bisa Menjadi Bibit Bullying
Gita menjelaskan, beberapa perihal nan kerap dianggap sepele justru bisa menjadi bibit perilaku perundungan pada anak, seperti:
Sering membandingkan anak dengan kerabat alias teman.
Melabeli anak dengan julukan seperti "cengeng", "lemah", alias "nakal".
Menertawakan kawan nan jatuh alias melakukan kesalahan.
Menganggap hinaan sebagai candaan biasa.
Menyelesaikan bentrok dengan bentakan alias kekerasan.
“Tanpa sadar, anak belajar bahwa merendahkan alias menyakiti orang lain adalah perihal nan wajar," jelas Gita pada kumparanMOM, beberapa waktu lalu.
Empati Dimulai dari Rumah
Untuk mencegah bullying, Gita menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun empati sejak dini. Salah satunya dengan memberi contoh nan baik, mengajarkan anak memahami emosi orang lain, serta membiasakan pertanyaan sederhana seperti, "Kalau Anda ada di posisi dia, kira-kira Anda bakal merasa bagaimana?"
Selain itu, orang tua juga perlu memberikan apresiasi ketika anak menunjukkan perilaku positif, seperti membantu teman, meminta maaf, alias memihak seseorang nan diperlakukan tidak baik.
"Karakter anak terbentuk dari hal-hal mini nan mereka lihat setiap hari. Karena itu, pencegahan bullying sebaiknya dimulai dari rumah," tutup Gita.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·