Proyeksi Harga Emas Dunia di Tengah Penguatan Dolar AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi emas. Foto: Shutterstock

Harga emas bumi sedang mengalami tren stagnan alias apalagi menurun akibat tekanan dari menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, kesempatan penguatan nan juga bakal berakibat pada penguatan nilai logam mulia di Indonesia tetap ada.

Adapun nilai emas dunia turun ke USD 4.530 per troy ons pada Jumat (15/5). Sementara nilai logam mulia T Aneka Tambang Tbk alias Antam dalam sepekan turun Rp 50.000 dari Rp 2.819.000 menjadi Rp 2.769.000 per gram.

Analis dari Investindo, Ariston Tjendra memandang saat ini pasar memang lebih memilih dolar AS alih-alih emas, sehingga nilai emas dunia condong tertekan.

“Ini lantaran aset dollar AS lagi jadi primadona. Tingkat imbal hasil obligasinya naik. Jadi lantaran sesama aset safe haven, pasar lebih memilih dolar AS nan ada naik tingkat imbal hasilnya dibandingkan emas,” kata Ariston kepada kumparan, Minggu (17/5).

Terkait kesempatan penguatan nilai logam mulia di Indonesia, Ariston menyebut perihal itu tetap terbuka. Ia memproyeksi logam mulia tetap bisa menembus level Rp 3 juta per gram pada akhir tahun ini.

“Kondisi timur tengah nan tetap bergejolak, rupiah nan tetap tertekan, kesempatan ke Rp 3 juta per gram tetap terbuka. (Peluang Juni penutup kuartal II) tetap ada Rp 2 juta tinggi (per gram),” ujarnya.

video story embed

Menambahkan, pengamat mata duit dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memandang prospek nilai logam mulia di Indonesia ke depan memang tetap berjuntai pada situasi geopolitik. Untuk itu, dia menyebut terdapat kesempatan penguatan namun juga kesempatan koreksi tetap terbuka.

“Nah jika Iran bertempur dengan Israel, dengan Selat Hormuz sudah dibuka kembali, ini bakal membikin nilai emas dunia, logam mulia bakal mengalami penguatan. Tetapi jika Amerika tetap ikut campur, kemudian Iran tetap memblokir Selat Hormuz, ini bakal berbalik. Harga emas dunia, logam mulia bakal mengalami penurunan,” ujarnya.

Terkait nilai emas nan condong stagnan dan beberapa kali terkoreksi, Ibrahim juga merespons dengan jawaban serupa bahwa perihal itu disebabkan oleh menguatnya dolar AS. Selain itu, penurunan nilai emas ini menurut Ibrahim juga dimanfaatkan oleh bank sentral di seluruh dunia.

“Ini nan membikin nilai emas kemungkinan besar bakal tergelincir. Nah di sisi lain, kita juga kudu tahu bahwa permintaan untuk emas secara dunia bagi Bank Sentral pada saat nilai logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan bagi Bank Sentral dunia untuk melakukan pembelian, untuk memupuk persediaan devisanya berupa emas terus mengalami peningkatan nan cukup signifikan,” kata Ibrahim.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan