Proyek Kolam Refleksi Lincoln Memorial Garapan Donald Trump Malah Berubah Jadi Hijau Rawa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Proyek Kolam Refleksi Lincoln Memorial Garapan Donald Trump Malah Berubah Jadi Hijau Rawa Rencana Donald Trump mengubah Kolam Refleksi Lincoln Memorial menjadi biru cerah acak-acakan akibat ledakan alga. Wisatawan pun terpaksa pakai filter foto.(AFP)

SALAH satu proyek estetika favorit Presiden Donald Trump di Washington awalnya ditujukan untuk membikin Kolam Refleksi Lincoln Memorial tampak biru cerah, menyerupai warna pada bendera Amerika Serikat. Namun, alam berbicara lain. Alga berkembang biak dengan sigap di dalam air dan mengubah kolam tersebut menjadi hijau seperti rawa.

"Apakah itu terlihat di foto-foto saya? Ya sudah, saya bakal menggunakan filter saja untuk menyembunyikan alga tersebut," kata Farrah Lu, seorang turis berumur 43 tahun dari Tiongkok.

Invasi alga ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah selesainya proyek pengecatan ulang kolam tersebut. Pengecatan ini merupakan bagian dari upaya Trump untuk meninggalkan warisannya di Washington, nan juga mencakup pembangunan ruang dansa di Gedung Putih dan sebuah lengkungan besar di dekat Sungai Potomac. 

Di bawah perintah Trump, kolam panjang berbentuk persegi panjang nan dirancang untuk menangkap gambaran Monumen Washington di National Mall itu dikuras dan dicat dengan warna nan dia sebut "biru bendera Amerika".

Kawasan ini merupakan situs berhistoris nan sangat dihormati di Washington. Dari tangga Lincoln Memorial inilah pemimpin hak-hak sipil Martin Luther King Jr. menyampaikan pidato ikoniknya, “I Have a Dream”, pada 1963 di hadapan ratusan ribu orang nan berkumpul mengelilingi kolam.

Gagal Memantulkan Bayangan Monumen

Suhu panas nan melanda pada akhir pekan lampau diduga kuat memicu ledakan pertumbuhan alga di kolam tersebut. Akibatnya, kegunaan utama kolam sebagai pemantul gambaran menjadi terganggu.

"Ketika saya memikirkan kolam refleksi, saya mengira bakal memandang pantulan monumen di kolam tersebut. Itulah makna dari namanya, jadi perihal ini tidak memenuhi ekspektasi saya," ujar Ravi Desai, seorang visitor asal Australia. "Namun secara keseluruhan saya tetap menganggapnya sangat indah. Dan kami di sini hanya sebagai turis."

Atasi Alga

Dinas Taman Nasional (NPS) menyatakan mereka tengah menggunakan pompa untuk mengolah air dengan teknologi ozon nanobubble guna membunuh alga. Mereka juga menggunakan hidrogen peroksida, nan dinilai lebih lembut dibandingkan klorin.

Selain masalah alga, proyek kolam ini juga menghadapi pengawasan ketat lantaran menyantap biaya jutaan dolar. Proses penunjukan kontraknya pun menuai kritik lantaran menggunakan kesepakatan tanpa kejuaraan nan menguntungkan perusahaan nan sebelumnya pernah bekerja untuk Trump di salah satu klub golf miliknya.

Nicole Leguillow, penduduk berumur 66 tahun dari negara bagian tetangga, Virginia, mengaku tidak kecewa dengan kondisi kolam lantaran menganggap alga adalah perihal nan alami. Namun, dia mengeluhkan biaya nan dihabiskan untuk proyek Trump tersebut.

"Uang itu bisa saja dihabiskan dengan jauh lebih bijak untuk hal-hal nan dibutuhkan oleh masyarakat di negara ini," tegas Leguillow. (AFP/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia