Protokol Hantavirus Jebol, 12 Tenaga Medis Belanda Dikarantina

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah rumah sakit di Belanda terpaksa mengarantina 12 personil stafnya sebagai tindakan pencegahan setelah terjadi pelanggaran protokol kesehatan dalam penanganan sampel pasien virus hantavirus. Insiden ini terjadi di tengah upaya tenaga medis di seluruh bumi nan sedang berpacu untuk membendung penyebaran pandemi nan berasal dari kapal pesiar mewah tersebut.

Mengutip Reuters, Rumah Sakit Radboudumc di kota Nijmegen mengumumkan pada Selasa (12/5/2026) bahwa para staf tersebut bakal dikarantina selama enam minggu. Pihak rumah sakit menyatakan akibat jangkitan sangat rendah dan jasa perawatan pasien tetap melangkah tanpa gangguan meskipun sampel darah dan urin pasien ditangani tanpa mengikuti protokol ketat.

"Apa nan terjadi adalah prosedur ketat telah diikuti, tetapi bukan prosedur paling ketat nan bertindak untuk kasus-kasus nan melibatkan hantavirus ini," kata Menteri Kesehatan Belanda Sophie Hermans dalam penjelasannya kepada parlemen.

Hermans menambahkan bahwa langkah karantina ini diambil sebagai upaya jaga-jaga lantaran kesungguhan akibat dari virus tersebut. Meskipun demikian, dia menegaskan bahwa situasi saat ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan pandemi sebelumnya.

"Ini betul-betul situasi nan berbeda dibandingkan dengan Covid. Dengan pengetahuan nan kita miliki dan langkah-langkah nan kita ambil, kami percaya dapat mengendalikan virus ini," kata Hermans.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekarang telah mengonfirmasi total sembilan kasus dalam pandemi ini, meningkat dua kasus dari hari sebelumnya. Virus ini diketahui dapat berakibat fatal, meskipun biasanya tidak menular dengan mudah antarmanusia selain dalam kasus kontak dekat nan sangat langka.

"Saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa kita memandang dimulainya pandemi nan lebih besar, tetapi tentu saja situasinya bisa berubah dan mengingat masa inkubasi virus nan lama, ada kemungkinan kita bakal memandang lebih banyak kasus dalam beberapa minggu ke depan," ujar Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Ghebreyesus memperingatkan bahwa penambahan kasus tetap mungkin terjadi lantaran adanya hubungan nan intens antar penumpang sebelum virus terdeteksi. Sejauh ini, tiga orang nan terdiri dari pasangan asal Belanda dan satu penduduk negara Jerman dilaporkan telah meninggal bumi sejak pandemi ini dimulai.

"Pada saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa kita memandang awal dari pandemi nan lebih besar, tetapi tentu saja situasinya dapat berubah," kata Ghebreyesus.

Krisis ini juga dipandang sebagai ujian bagi koordinasi kesehatan internasional pasca pandemi besar beberapa tahun lalu. Arnaud Fontanet, Kepala Epidemiologi Penyakit Menular di Institut Pasteur Prancis, memperkirakan pencarian kasus baru bisa berjalan selama berbulan-bulan lantaran masa inkubasi nan mencapai enam minggu.

"Krisis ini adalah langkah nan baik bagi kita untuk mencoba menguji semua nan telah dilakukan sejak Covid-19, untuk memeriksa gimana koordinasi internasional bekerja," kata Fontanet.

(tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News