Ilustrasi(ANTARA)
KETUA Umum Netra Bakti Indonesia (NBI), HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy alias nan berkawan disapa Gus Lilur, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) nan dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu langkah paling mulia dan strategis untuk meningkatkan kesejahteraan serta kecukupan gizi anak-anak Indonesia, terutama para siswa dari family kurang mampu.
Gus Lilur menegaskan komitmen penuhnya dalam mendukung program nasional ini. Menurutnya, MBG mempunyai prinsip nan luhur sebagai representasi dari kehadiran dan kasih sayang negara kepada generasi penerus bangsa.
“MBG ini program sangat mulia. Saya pendukung MBG. Program ini pasti meroket jika dilaksanakan tanpa adanya gangguan dari oknum-oknum nan mencoba memotong anggaran di lapangan. Anak-anak kita kudu menerima makanan nan layak, sehat, berkualitas, dan disukai,” ujar Gus Lilur melalui keterangan tertulisnya, Kamis (28/5/2026).
Gus Lilur mengaitkan nilai luhur program ini dengan aspek spiritual nan terkandung dalam Al-Qur'an, tepatnya Surat Al-Insan ayat 8, nan menekankan tanggungjawab memberikan makanan terbaik dan nan disukai kepada orang-orang nan membutuhkan. Nilai dasar inilah nan mendasari pentingnya menjaga keutuhan alokasi biaya per porsi agar manfaatnya betul-betul dirasakan 100 persen oleh anak-anak di sekolah.
Sebagai informasi, struktur anggaran satu porsi MBG nan dipahami publik saat ini adalah sebesar Rp15.000. Komponen tersebut dibagi menjadi Rp5.000 untuk operasional Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) dan Rp10.000 murni untuk nilai bahan makanan penerima manfaat.
“Jika alokasi Rp10.000 itu betul-betul dioptimalkan seutuhnya untuk shopping bahan makanan dengan skala besar (grosir), maka SPPG dipastikan bisa menyajikan menu makanan nan sangat layak, higienis, sehat, dan bergizi tinggi untuk anak-anak kita. Pengelola SPPG sudah mendapatkan ruang penghasilan nan cukup dari komponen operasional, jadi kewenangan makan anak tidak boleh berkurang satu rupiah pun,” urainya.
Mendorong Penguatan Peran Negara dan Sekolah
Untuk memastikan keberlanjutan program ini melangkah lebih optimal, transparan, dan efisien, Gus Lilur mengusulkan sebuah langkah konstruktif berupa penguatan peran negara secara langsung. Pemerintah disarankan untuk memprioritaskan pembangunan prasarana dapur berdikari nan dikelola langsung oleh Badan Gizi Nasional (BGN), guna meminimalkan ketergantungan pada rantai upaya pihak ketiga nan terlalu panjang.
Selain pengelolaan langsung oleh BGN, opsi inovatif lain nan ditawarkan adalah integrasi dapur alias kantin sehat berbasis sekolah. Model ini dinilai sangat efektif lantaran memotong jalur kendali logistik, sehingga makanan dapat disajikan dalam kondisi nan jauh lebih segar lantaran dimasak langsung di lingkungan sekolah.
“Kalau dapur ada di sekolah, pengawasan jadi jauh lebih dekat dan berlapis. Kepala sekolah, guru, komite, hingga orang tua siswa bisa memandang langsung prosesnya. Puskesmas dan mahir gizi juga bisa memantau higienitas dan menunya secara berkala. Rantai kendali nan pendek seperti ini bakal mengunci standar kualitas makanan sesuai dengan apa nan dicitakan oleh Presiden,” tutur Gus Lilur.
Ia mengusulkan agar pemerintah mengawali penyempurnaan sistem ini melalui proyek percontohan (pilot project) nasional di satu kabupaten/kota pada setiap provinsi. Model berbasis kemitraan sekolah dan BGN nan terbukti sukses, transparan, dan kondusif nantinya dapat direplikasi secara berjenjang ke seluruh wilayah Indonesia.
“NBI bakal terus berada di garda terdepan untuk mendukung kesuksesan MBG. Program ini sangat selaras dengan aliran agama, petunjuk konstitusi, dan kebutuhan riil rakyat. Dengan menjaga kualitas pelaksanaannya di lapangan, kita optimis program ini bakal menjadi warisan sejarah nan luar biasa dari Presiden Prabowo bagi masa depan anak-anak bangsa,” pungkasnya.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·