Program Kompor Listrik Lebih Murah ketimbang Biaya Subsidi LPG

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Program Kompor Listrik Lebih Murah daripada Biaya Subsidi LPG ilustrasi(Antara)

Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno mendorong pemerintah untuk mempercepat transisi dari kompor gas ke kompor listrik. Menurutnya, perihal itu kudu didorong seiring perubahan nilai daya dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"Transisi tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan besarnya biaya nan kudu digelontorkan pemerintah untuk subsidi impor LPG (liquefied petroleum gas)," ujar Eddy dalam keterangan nan dikutip, Rabu (17/6).

Apalagi, katanya, nilai LPG sangat berjuntai pada nilai minyak bumi nan fluktuatif.

"Sebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75%-80% kebutuhan LPG nan harganya sejalan dengan nilai minyak mentah," jelas Eddy.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan alokasi anggaran Rp815,6 miliar untuk program kompor listrik pada tahun anggaran 2027. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut program kompor listrik dihadirkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG.

Menurutnya, program tersebut dalam rangka mendorong bauruan energi. Ke depan, kata Bahlil, pemerintah terus mencari sumber daya lain termasuk pemanfaatan compressed natural gas (CNG).

"LPG itu 80% impor. Devisa kita setiap tahun keluar untuk LPG minimal Rp120 triliun. Pada saat nilai ICP (harga minyak mentah Indonesia) seperti ini, nilai devisa kita keluar untuk membeli LPG itu sekitar di atas Rp130 triliun. Subsidinya di atas Rp80 triliun," papar Bahlil dalam keterangan nan dikutip, Rabu (17/6).

"Kalau kondisi ini terus kita biarkan tanpa mencari diversifikasi bauruan energi, itu bakal menjadi soal. Maka salah satu alternatifnya adalah kita sorong kompor listrik," imbuhnya.

Pihaknya pun meminta beberapa model kompor listrik di bawah 900 Kwh. Tujuannya agar terjangkau oleh masyarakat di wilayah dan di desa.

Bahlil pun menanggapi banyaknya penolakan penggunaan kompor listrik pada program serupa sebelumnya. Menurutnya, perihal itu menjadi bahan evaluasi.

"Ada model kompor listrik nan model baru. Jadi memang semakin ke sini ada teknologi nan jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik nan lama. Kita juga sekarang sedang melakukan penataan terhadap seberapa besar perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," jelasnya.

Selain kompor listrik, Kementerian ESDM mengalokasikan anggaran sebesar Rp635,2 miliar untuk program motor listrik dan Rp58,58 miliar untuk pembangunan prasarana Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia