Peluncuran Program Pelatihan Beasiswa Bahasa Korea(Dok. Pesantren Al Hikam Depok)
YAYASAN Tahfidz Zawiyah Indonesia dan Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam Depok, Jawa Barat, bekerja sama dengan sebuah perusahaan penyedia jasa teknologi UBT (Ubiquitous Based Test) & U-LMS (Ubiquitous Learning Management System), Kamis, (13/8) di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Depok.
Pelatihan bahasa Korea dilakukan selama dua semester. Program training bahasa Korea secara intensif nan disokong pendanaan sebuah perusahaan elektronik lewat program corporate social responsibility ini, pada tahap awal, diperuntukkan bagi sekitar 250 santri Pesantren Mahasiswa AlHikam.
Adapun tujuannya mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan melalui penguatan sumber daya manusia.
Program ini merupakan kelanjutan dari Second Track Diplomacy alias jalur diplomasi non-pemerintah nan telah terjalin lama.
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Depok, KH Muhammad Yusron Shidqi menyebutkan hubungan emosional dan historis antara Korea dan Indonesia berakar kuat sejak 2007. Saat itu, pendiri Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang dan Depok, KH Ahmad Hasyim Muzadi, memainkan peran krusial dalam negosiasi pembebasan sembilan belas penduduk negara Korea nan disandera di Afghanistan. Atas dedikasi tersebut, kedekatan ini terus dipelihara hingga saat ini melampaui hubungan umum di atas kertas.
Chairman Yong Ma Electrinics, Ma Yong-do menekankan bahwa penguasaan bahasa kunci utama mengenal bumi nan lebih luas. Program ini dirancang untuk membekali siswa dengan keahlian bahasa Korea dari tingkat dasar hingga lanjut.
"Ini bukan hanya tentang penyerahan danasiwa saja, tetapi agar para siswa dapat mengenal dunia luas melalui bahasa Korea dan mulai merancang masa depan mereka sendiri," ujar Yong-do.
Yongdo menambahkan bahwa melalui keahlian ini, kesempatan karir di perusahaan-perusahaan Korea nan beraksi di Indonesia maupun kesempatan belajar di luar negeri bakal terbuka lebar bagi para santri.
Pada kesempatan nan sama, Kepala Divisi Pendidikan dan Vokasional Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) RI, Farid Septian menyambut baik inisiatif ini untuk mengembangkan kerja sama tripartit di masa depan.
"Jika Korea membawa K-Pop ke sini, maka Indonesia dapat memperkenalkan nilai-nilai Islam Wasathiyah melalui jembatan pendidikan ini," ungkap Farid.
Setelah melewati kursus dasar selama setahun, program danasiwa ini dilanjutkan dengan program karir terintegrasi ke jalur bekerja di Korea, studi di Korea, dan bekerja di perusahaan Korea di Indonesia. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·