Produksi Nikel Hasil Hilirisasi RI Diramal Turun Tahun Ini

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan total produksi nikel olahan hasil hilirisasi di dalam negeri bakal mengalami penurunan sebesar 3,5% hingga 4% pada 2026. Penurunan volume produksi tersebut terjadi jika dibandingkan dengan total capaian produksi nasional pada 2025 nan menembus 2,5 juta ton.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mencatat penurunan produksi tersebut dihitung berasas perkiraan realisasi pengolahan industri nikel nasional saat ini. Dia menyebut produksi olahan nikel pada 2026 bakal kembali mengalami penyesuaian sebelum beroperasinya proyek-proyek pemurnian baru.

"FINI meng-estimasi bahwa total produksi nikel olahan Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan bakal mengalami penurunan sekitar 3,5 hingga 4% jika dibandingkan produksi tahun 2025 (total 2,5 juta ton Ni)," ujar Arif kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10/2026).

Jika dibandingkan, pihaknya mencatat total produksi nikel hasil hilirisasi pada 2025 terdiri atas 2,05 juta ton produk Nickel Pig Iron (NPI), Ferronickel (FeNi), dan Matte. Sementara itu, sebesar 450 ribu ton sisanya diproduksi dalam corak produk hidrometalurgi berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat.

"Pada tahun 2025 total produksi nikel nasional telah mencapai 2,5 juta ton nikel dalam corak produk intermediate (setengah jadi) nan terdiri dari 2,05 juta berupa produk-produk NPI, FeNi dan Matte, serta 450 ribu ton nikel dalam corak MHP - Nikel Sulfat," jelasnya.

Penurunan produksi pada 2026 diproyeksikan berkarakter sementara lantaran kapabilitas produksi nikel nasional diperkirakan kembali melonjak pada 2027. Lonjakan tersebut ditopang oleh selesainya tahap bangunan serta masuknya fase komisioning dari proyek-proyek akomodasi pengolahan berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL).

"Pada tahun 2027 bakal ditandai oleh penambahan kapabilitas produksi dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis HPAL nan bakal selesai tahap konstruksinya, dalam waktu dekat memasuki tahapan komisioning dan operasi penuh," imbuhnya.

Penambahan kapabilitas produksi dari smelter HPAL tersebut bakal meningkatkan volume produk MHP pendukung baterai kendaraan listrik. Kapasitas produksi MHP nasional nan tercatat sebesar 450 ribu ton nikel pada 2025 diperkirakan meningkat hingga lebih dari 900 ribu ton nikel pada akhir 2027.

Wacana Moratorium Smelter Nikel

Sebelumnya, pemerintah mengkaji wacana moratorium alias pembatasan pembangunan akomodasi pemurnian dan pemrosesan (smelter) nikel nan tetap menghasilkan produk separuh jadi. Hal itu menimbang kondisi kelebihan pasokan (oversupply) nikel dunia nan menyebabkan anjloknya nilai nikel dunia.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan bahwa sebagian besar smelter nikel nan beraksi saat ini tetap sebatas memproduksi bahan separuh jadi pada kisaran 50-60%. Menurutnya, kondisi pasokan saat ini telah melampaui kebutuhan pasar hingga mencapai 2,5 juta ton sehingga berakibat langsung pada penurunan nilai nikel di pasar internasional.

"Ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh. Kita dapat pertimbangkan untuk industri nan separuh jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, apalagi mungkin kita melakukan moratorium, sementara nan kita sorong adalah industri-industri nan produk hilirnya langsung," ungkapnya di sela aktivitas Investor Daily Summit 2026, di Jakarta, dikutip Rabu (14/10/2026).

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah bakal mengatur volume produksi nasional agar komoditas tambang Indonesia tidak dijual murah saat pasar sedang jenuh. Meskipun kapabilitas terpasang smelter secara teori terbilang tinggi, tingkat operasional riil di lapangan bakal disesuaikan secara terukur dengan dinamika supply and demand global.

"Sekalipun kapabilitas terpasang contoh katakanlah 10, mungkin nan bakal bisa berproduksi selama kita tetap terjadi oversupply tidak sampai 10. Itu nan kita bakal atur ya. Kalau kita mengikuti terus permintaan smelter, itu nilai kita pasti bakal jatuh," imbuhnya.

Di samping menjaga kestabilan nilai dan mengoptimalkan penerimaan negara, pengendalian produksi ini juga ditujukan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam nasional. Bahlil mengingatkan bahwa komoditas mineral seperti nikel berkarakter terbatas dan tidak dapat tumbuh kembali seperti sektor pertanian alias perkebunan.

"Kalau harganya lagi anjlok, jangan kita juga banjiri, kelak peralatan kita murah. Kita kan enggak mau peralatan kita dijual murah. Kalau nikel, batu bara, diambil kan enggak bisa berbuah. Jadi tolong kita jaga ini juga kudu berkepanjangan untuk masa depan bangsa ya," tutupnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑