Produksi Nikel Ditekan, RI Justru Kipas-Kipas Duit Rp714 Triliun

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat, pasca pemerintah Indonesia menerapkan pemangkasan produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di tahun 2026 ini, nilai nikel justru mengalami kenaikan nan berkapak pada naiknya nilai ekspor hingga 28% menjadi US$39,7 miliar alias Rp714,6 Triliun (kurs Rp18.000 per US$).

Berdasarkan info nan diperoleh CNBC Indonesia melalui DEN, tercatat bahwa pengendalian RKAB mendorong rata-rata nilai London Metal Exchange (LME) per Januari - Agustus 2026 menjadi US$17.494 per ton alias naik 15% jika dibandingkan dari periode nan sama tahun sebelumnya.

"Sehingga ekspor nikel sampai dengan Agustus 2026 naik sekitar 17%, meskipun volume turun sekitar 4%. Hal ini menandakan pengendalian RKAB mencapai dua tujuan utama ialah konservasi persediaan dan pada saat nan berbarengan juga meningkatkan nilai tambah ekspor," ungkap Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto, dikutip Kamis (22/10/2026).

Seto menegaskan, dengan ditekannya produksi nikel dalam RKAB, produk nikel Indonesia semakin dihargai. Buktinya, potongan nilai harga MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) alias produk antara (intermediate product) dari hasil olahan bijih nikel laterit terhadap LME menyempit dari 21% di tahun 2024 menjadi 10% di tahun 2026 ini.

"Nilai tambah meningkat: ekspor nikel diproyeksikan mencapai US$39,7 miliar pada 2026, naik 28% dari 2024, sementara volumenya hanya naik hanya 13%," tegas Seto.

Dengan demikian, bisa dipastikan, bahwa penerimaan negara atas sub sektor nikel ini menjadi naik. Bahkan, penyesuaian Harga Patokan Mineral (HPM) nan bertindak pada April 2026 meningkatkan penerimaan negara dari bijih saprolite.

"Sehingga sasaran PNBP dari nikel diperkirakan bakal melampaui sasaran di 2026 ini," ungkap Seto.

Seto menyatakan, bahwa keseimbangan pasokan nikel Indonesia di Dunia menjadi penting, pasalnya Indonesia merupakan produsen 2/3 nikel dunia. "Kontrol terhadap pasokan menjadi krusial agar pasar tidak oversupply nan menyebabkan nilai jatuh," urai Seto.

Kemarin, Rabu (22/10/2026), Bahlil memberikan laporan kepada Presiden RI Prabowo Subianto bahwa setoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sub sektor mineral dan batu bara (minerba) sukses melampaui target. Hal itu meskipun volume produksi batu bara dalam negeri dipatok lebih rendah jika dibanding tahun lampau nan mencapai 790 juta ton.

Bahlil memaparkan bahwa realisasi pendapatan PNBP berhasil menembus lebih dari Rp 160 triliun, di mana target awal nan ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar Rp 133,93 triliun. Keberhasilan melampaui sasaran penerimaan negara tersebut diklaim didorong oleh optimalnya keahlian nilai ekspor komoditas batu bara nasional.

"Alhamdulillah tadi kita melakukan Rapat Kabinet paripurna dalam rangka 2 tahun kepemimpinan Presiden Prabowo dan mas Gibran Rakabuming Raka. Saya tadi sampaikan capaian keahlian di sektor ESDM batu bara kita sekalipun produksi menurun tapi sasaran PNBP kita melampaui target," ujar Bahlil, dikutip Kamis (22/10/2026).

Selain lonjakan setoran PNBP, pencapaian devisa hasil ekspor batu bara juga mencatatkan keahlian positif di atas nomor nan ditargetkan pemerintah. Dari sasaran awal sebesar US$ 27 miliar, realisasi devisa ekspor batu bara diproyeksikan bisa menembus nomor di atas US$ 30 miliar.

"Ekspor kita sasaran devisa dari batu bara kita melampaui sasaran kita targetnya US$ 27 miliar ini bakal bisa mencapai di atas US$ 30 miliar," kata Bahlil.

Bahlil menegaskan bahwa lonjakan pendapatan PNBP nan mencapai lebih dari Rp 160 triliun tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas penerimaan negara di sektor energi.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑