Produksi Minyak Mentah Arab Saudi Anjlok, Terendah Sejak 1990

Sedang Trending 36 menit yang lalu
Kilang minyak Aramco di Arab Saudi. Foto: Reuters/Ahmed Jadallah/File Photo/File Photo

Pemerintah Arab Saudi melaporkan kepada Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa produksi minyak mentahnya semakin ambruk pada bulan lalu, menjadi level terendah sejak 1990, lantaran perang Iran menghalang ekspor dari Teluk Persia.

Dikutip dari Bloomberg, kerajaan tersebut mencatat produksi minyak mentah turun lagi sebesar 651.000 barel per hari pada April 2026, menjadi 6,316 juta barel per hari, menurut laporan bulanan dari sekretariat OPEC.

Hal tersebut menambah kerugian sejak Februari menjadi 42 persen, dan menandai level terendah sejak dimulainya Perang Teluk 36 tahun nan lalu, ketika negara personil OPEC, Irak, menyerang sesama personil Kuwait.

Perang AS dengan Iran memblokir pengiriman minyak dari Teluk Persia dan menyebabkan penurunan produksi nan belum pernah terjadi sebelumnya dari negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak. Imbasnya, nilai bahan bakar telah melonjak, meningkatkan akibat resesi global.

Riyadh memberi tahu bahwa pasokan ke pasar, tidak termasuk pergerakan ke penyimpanan, sedikit lebih tinggi daripada produksi, ialah 6,879 juta barel per hari.

Selain angka-angka nan dikomunikasikan langsung oleh personil OPEC kepada sekretariat golongan di Wina, laporan tersebut juga mencakup serangkaian perkiraan nan dikumpulkan dari perkiraan oleh konsultan eksternal dan media, nan dikenal sebagai sumber sekunder.

Data ini menunjukkan produksi dari personil OPEC kembali ambruk pada April, merosot sebesar 1,727 juta barel per hari menjadi rata-rata 18,98 juta barel per hari, dengan Arab Saudi menyumbang sekitar separuh dari penurunan tersebut.

Dengan demikian, info tersebut menempatkan produksi Arab Saudi sedikit lebih tinggi daripada pengajuan resminya, ialah 6,768 juta barel per hari.

Keluarnya UEA

Bendera UEA. Foto: BreizhAtao/Shutterstock

Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan pada bulan lampau bahwa mereka berencana meninggalkan organisasi OPEC pada Mei 2026 setelah sekitar enam dasawarsa menjadi anggota.

Abu Dhabi mengumumkan pengunduran dirinya secara mengejutkan setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan dengan pemimpin kelompok, Arab Saudi, mengenai kuota produksi OPEC, serta perselisihan mengenai isu-isu politik regional. Statuta OPEC menyatakan bahwa UEA secara teknis bakal tetap menjadi personil hingga 1 Januari.

Meskipun kerugian produksi nan ditimbulkan pada Arab Saudi akibat perang sangat besar, keahlian kerajaan untuk mengalihkan sebagian ekspor minyak dari Teluk melalui jalur pipa lain ke Laut Merah telah mengurangi dampaknya. UEA juga mempunyai jalur pengganti untuk sebagian ekspornya.

Negara-negara Teluk lainnya terkena akibat nan lebih parah. Penurunan terbesar kedua pada April terjadi di Kuwait, nan produksinya nyaris berkurang setengahnya menjadi hanya 600.000 barel per hari, menurut laporan tersebut. Kuwait sekarang memproduksi kurang dari seperempat dari level sebelum perang.

OPEC memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada tahun 2026 menjadi 1,2 juta barel per hari dari 1,4 juta barel per hari. Namun, proyeksi golongan ini tetap sangat berbeda dengan perkiraan para analis lainnya.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya pada Rabu pagi mengatakan bahwa permintaan bumi bakal menyusut sebesar 420.000 barel per hari tahun ini, penurunan paling tajam sejak pandemi COVID-19 pada tahun 2020.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan