Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjumpa dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, China. Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI), Asra Virgianita, menilai pertemuan tersebut lebih berkarakter simbolik daripada menghasilkan kebijakan strategis.
"Pertemuan Xi-Trump di Beijing lebih banyak menghadirkan diplomasi simbolik daripada hasil substantif. Bagi pemerintahan Xi, pertemuan ini krusial untuk menunjukkan kepada publik internasional dan domestik bahwa China tetap relevan dan dipandang dan diakui oleh Amerika Serikat sebagai mitra strategis," kata Asra kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
"Sekaligus menegaskan status China sebagai kekuatan besar nan tidak bisa diabaikan," sambungnya.
Menurutnya, pernyataan Xi Jinping mengenai hubungan China dan AS baiknya menjadi mitra bukan rival, merupakan bagian dari upaya menggeser narasi rivalitas menuju kemitraan. Dia mengatakan perihal itu krusial untuk menampilkan gambaran China sebagai tokoh nan konstruktif.
Sementara bagi Trump, kata dia, pertemuan tersebut menjadi kesempatan menegaskan pengaruh AS terhadap kebijakan China. Termasuk posisi Beijing mengenai Iran dan Selat Hormuz.
"Karena China merupakan importir minyak terbesar dari area tersebut, Trump menyakini China mempunyai leverage untuk menekan Iran mengenai blokade selat Hormuz," ujarnya.
Menurutnya, pujian Trump terhadap Xi Jinping merupakan upaya membangun kedekatan. Selain itu juga sebagai upaya menciptakan suasana positif dengan lawan.
Asra mengatakan kehadiran tokoh upaya seperti Elon Musk, Jensen Huang, dan Tim Cook juga menegaskan dimensi ekonomi dan teknologi sebagai bagian krusial dalam negosiasi bilateral. Asra mengatakan pertemuan tersebut sekaligus membangun gambaran Trump sebagai "deal maker" di mata publik domestik menjelang pemilu Oktober.
"Hal krusial lainnya bagi Trump adalah menampilkan figur dirinya kepada publik domestik AS sebagai "deal maker" nan bisa bermusyawarah dengan rival strategis. Hal ini krusial bagi Trump menjelang pemilu Oktober, di mana gambaran kepemimpinan menjadi salah satu sorotan publik AS," tuturnya.
"Dengan demikian, pertemuan ini lebih berfaedah sebagai "panggung" simbolik dan upaya memastikan rivalitas kedua negara berakibat terbatas/terkontrol, alih-alih sebagai pertemuan nan menghasilkan keputusan nan strategis bagi persoalan dunia hari ini," imbuh dia.
Sebelumnya, Presiden China Xi Jinping mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa kedua negara semestinya menjadi "mitra dan bukan rival", saat mereka berjumpa untuk pembicaraan krusial di Beijing pada Kamis (14/5) waktu setempat.
Trump, dalam pernyataan jawaban kepada Xi, mengatakan bahwa AS dan China bakal mempunyai "masa depan nan dahsyat bersama".
Pembicaraan kedua pemimpin, seperti dilansir AFP, Kamis (14/5/2026), digelar setelah seremoni penyambutan megah untuk Trump di Aula Besar Rakyat, Beijing, pada Kamis (14/5) pagi waktu setempat. Ini menjadi kunjungan pertama bagi seorang Presiden AS ke China dalam satu dasawarsa terakhir.
Dalam pembicaraan dengan Trump, Xi mengatakan dirinya "senang" dapat menyambut Presiden AS tersebut, nan terakhir kali datang ke Beijing pada tahun 2017 lampau -- pada masa kedudukan pertama Trump.
Xi juga menyebut pertemuan ini digelar saat "dunia telah sampai di persimpangan jalan nan baru".
"Hubungan China-AS nan stabil adalah hidayah bagi dunia. Kerja sama menguntungkan kedua belah pihak, sementara konfrontasi merugikan keduanya. Kita semestinya menjadi mitra dan bukan rival," kata Xi kepada Trump dalam pertemuan tersebut.
(amw/idh)
38 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·