Jakarta, CNBC Indonesia - Harga beras di Kabupaten Merauke, Papua Selatan sekarang dilaporkan turun jadi Rp13.500-15.500 per kg. Sebelumnya, menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Merauke Yosefa Rumaseu, nilai beras di wilayah itu mencapai Rp26.500/kg.
Penurunan nilai itu dipicu lonjakan produksi beras nan terjadi di Merauke. Kata Yosefa, perihal itu membuktikan program cetak sawah rakyat dan optimasi lahan (oplah) nan dijalankan pemerintah di Kabupaten merauke sukses meningkatkan produksi dan menstabilkan nilai bers di tingkat masyarakat.
"Penurunan nilai beras tersebut merupakan akibat nyata dari peningkatan produksi nan dihasilkan melalui program cetak sawah rakyat dan oplah nan didukung penuh oleh pemerintah pusat," kata Yosefa dalam keterangan resmi dirilis Kementerian Pertanian (Kementan), Selasa (23/6/2026).
"Sebelum adanya program ini, nilai beras di Merauke cukup tinggi apalagi pernah mencapai sekitar Rp26.500 per kilogram. Setelah aktivitas cetak sawah rakyat dan optimasi lahan berjalan, nilai beras nan dijual di lapak-lapak maupun pasar turun dan sekarang berada di kisaran Rp15.500 per kilogram," sambungnya.
Tak hanya itu, imbuh Yosefa, nan paling krusial adalah sekarang masyarakat bisa membeli beras dengan nilai lebih terjangkau, sementara petani tetap mendapatkan faedah dari meningkatnya produksi.
Menurut Yosefa, program pengembangan pertanian sebenarnya telah dilakukan sejak lama. Namun sejak 2024, support pemerintah pusat melalui program cetak sawah rakyat dan oplah semakin mempercepat pemanfaatan potensi lahan pertanian Merauke.
"Pada tahun 2024, dengan adanya perhatian penuh dari pemerintah pusat, seluruh potensi nan ada semakin diberdayakan melalui program cetak sawah rakyat dan oplah. Dukungan sumber daya sangat besar, mulai dari perangkat dan mesin pertanian, pupuk, hingga beragam sarana produksi lainnya," katanya.
Dampak program tersebut terlihat nyata pada capaian produksi tahun 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi beras di Provinsi Papua Selatan meningkat 66,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, produksi beras tercatat sebesar 124.355,12 ton dengan luas panen padi 47.168,57 hektare. Sementara pada 2025, produksi beras meningkat menjadi 207.006,95 ton dengan luas panen mencapai 79.433,92 hektare alias naik 68,40 persen.
"Dengan program besar nan dijalankan Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian, produksi kami meningkat sekitar 65 persen dibandingkan sebelumnya. Kenaikan produksi ini membikin pasokan beras semakin kuat sehingga nilai di tingkat masyarakat lebih stabil dan terjangkau," ujar Yosefa.
Keberhasilan program tersebut, tambahnya, tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga petani. Menurutnya, peningkatan produksi sukses menjaga keseimbangan antara keterjangkauan nilai bagi masyarakat dan peningkatan kesejahteraan petani.
"Terjadi penurunan nilai beras nan membikin masyarakat lebih mudah menjangkaunya, tetapi di sisi lain kesejahteraan petani juga meningkat. Program ini mendorong perubahan pola bertani dari nan tetap tradisional menjadi lebih modern. Nilai upaya tani meningkat dan masyarakat bisa mendapatkan beras dengan nilai nan lebih terjangkau," katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke Martha Bayu.
"Pemerintah wilayah terus melakukan pemantauan nilai beras secara rutin melalui petugas enumerator nan setiap hari melakukan pencatatan dan pelaporan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas)," kata Martha.
"Untuk beras premium, HET berada di Rp15.800 per kilogram, sedangkan beras medium Rp15.500 per kilogram," ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan di pasar-pasar Kota Merauke maupun sejumlah wilayah lainnya, nilai beras secara umum tetap berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) nan ditetapkan pemerintah.
"Dari pengamatan kami, nilai beras nan dijual di pasar maupun lapak-lapak tetap berada di bawah HET, baik untuk beras premium maupun medium," katanya.
"Memang ada beberapa jenis beras tertentu nan dijual lebih tinggi lantaran aspek transportasi dan distribusi, terutama ke daerah-daerah nan jauh. Namun secara umum nilai beras di Merauke tetap terkendali dan sesuai dengan izin pemerintah," beber Martha.
Menurutnya, keberhasilan program cetak sawah rakyat dan oplah tidak hanya berakibat pada peningkatan produksi, tetapi juga sangat membantu menjaga stabilitas nilai dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
"Jika berbincang dari sisi kesiapan pangan, stabilisasi harga, dan keterjangkauan nilai bagi masyarakat, program oplah dan cetak sawah rakyat sangat membantu. Fakta di lapangan menunjukkan nilai beras tetap berada pada taraf nan sesuai dengan izin pemerintah dan tetap terjangkau bagi masyarakat," katanya.
Dampak positif program tersebut juga dirasakan langsung oleh petani sekaligus pemilik kewenangan tanah ulayat di Kabupaten Merauke Fransiskus Gebze. Ia mengaku nilai beras nan sebelumnya sangat tinggi sekarang semakin terjangkau lantaran produksi gabah terus meningkat.
"Dulu nilai beras mahal sekali, sekarang masyarakat bisa membelinya dengan nilai sekitar Rp15 ribu per kilogram dari nan sebelumnya Rp20 ribu. Jadi saya berterima kasih pemerintah membuka lahan di sini," kata Fransiskus.
Menurutnya, ekspansi areal tanam nan dilakukan pemerintah telah meningkatkan produksi gabah secara signifikan sehingga pasokan beras di Merauke semakin terjamin.
"Produksi gabah terus meningkat seiring lahannya diperluas. Karena itu nilai beras di Merauke sekarang lebih stabil," ujarnya.
Keberhasilan program cetak sawah rakyat dan optimasi lahan di Merauke menunjukkan peningkatan produksi dan stabilisasi nilai dapat melangkah beriringan. Dengan support pemerintah pusat, modernisasi pertanian, serta keterlibatan aktif petani di lapangan, Merauke tidak hanya memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional, tetapi juga menjadi bukti bahwa peningkatan produksi bisa menghadirkan pangan nan lebih terjangkau sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Program cetak sawah dan optimasi lahan di Kabupaten Merauke. (Dok. Kementan) Foto: Program cetak sawah dan optimasi lahan di Kabupaten Merauke. (Dok. Kementan)
(dce/dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·