Prodi: Antara Relevansi dan Tuntutan Artificial Intelligence

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi laboratorium komputer (sumber: magnific.com)

Dalam riset terbaru Boston Consulting Group di 2026, diproyeksikan bahwa dua hingga tiga tahun ke depan, lebih dari separuh pekerjaan di AS bakal mengalami perubahan akibat Artificial Intelligence (AI). Bukan sepenuhnya hilang, melainkan berubah bentuk. nan paling merasakan akibat ini nantinya adalah lulusan nan baru memulai karir, alias nan lebih dikenal dengan julukan "fresh graduates".

Di AS sendiri, tingkat pengangguran untuk fresh graduates kian meingkat tiap tahunnya. Harvard Business School mengungkap, lowongan pekerjaan nan sifatnya "rutin" alias berulang pun ikut turun sebesar 13% sejak munculnya ChatGPT.

Mengapa fresh graduates paling terdampak?

Jawabannya simple. Berkaitan dengan knowledge management. Pekerja senior nan sudah lama berada di industri mempunyai pengetahuan nan melekat di dirinya, alias "tacit knowledge" nan sangat dibutuhkan perusahaan untuk mengambil keputusan nan sesuai. Sesuatu nan tetap belum bisa digantikan dengan AI secara presisi. Fresh graduates juga tetap belum mempunyai keahlian ini lantaran belum terekspos lingkungan dan budaya kerja, sehingga belum mempunyai knowledge nan dibutuhkan.

Beban bagi fresh graduates sebenarnya juga dirasakan oleh prodi sebagai ujung tombak pendidikan tinggi nan ikut menanggung beban. Prodi mempunyai tanggungjawab untuk menghasilkan lulusan nan berbobot dan siap untuk bekerja. Artinya, kurikulum nan sama tidak dapat digunakan berulang tanpa ada perubahan nan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam perkembangan nan ada, prodi ikut didorong melalui perubahan nan dihadirkan oleh eksistensi AI di bagian pendidikan. Penggunaan AI mulai berada di puncak headline media dan menjadi perhatian dunia. Lantas gimana peran prodi di perguruan tinggi?

Ketika Prodi Bertemu Realita

Prodi terkenal seperti akuntansi, hukum, kreasi grafis, dan manajemen upaya nan dulu menjadi pilihan banyak orang pun ikut ditekan. AI sudah mulai bisa mengerjakan banyak tugas nan sifatnya rutin di bagian ini. Bahkan bisa lebih sigap dan murah. Jadi, pendidikan pun kudu ikut bergerak ke arah nan sama.

Survei mengungkapkan, adanya kejadian penggantian pilihan prodi. Pertimbangan ini datang dari rasa takut mahasiswa terhadap kehadiran AI nan berpotensi menggantikan pekerjaan di bagian studi nan mereka ingin/sedang tempuh. Terdapat celah antara kepercayaan mahasiswa dan keahlian prodi dalam menjamin ilmunya tetap relevan dengan perkembangan industri.

Gap nan Tidak Terlihat

Ketika fresh graduates kesulitan bersaing di bumi kerja, ada kecenderungan untuk menyalahkan individu. Entah dianggap kurang adaptif, alias kurang inisiatif untuk mencari pekerjaan. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Banyak pihak nan terlibat dalam persoalan lapangan kerja. Perguruan tinggi dan mahasiswa kudu sama-sama sigap bergerak. Meskipun keduanya tetap meraba-raba langkah paling baik untuk merespon perubahan nan dinamis. Perguruan tinggi sendiri kudu bisa menempatkan AI sebagai pertimbangan untuk membangun kurikulum nan imajinatif dan adaptif terhadap AI. Bukan sepenuhnya melarang alias menghindari penerapan. Ini lantaran ditakutkan bahwa penolakan sepenuhnya perguruan tinggi terhadap AI berakibat pada keahlian penyesuaian lulusan terhadap perubahan di bumi luar.

Kesimpulannya, kebijakan penggunaan AI nan bijak bukan berfaedah serba membolehkan penggunaannya tanpa batas konteks penerapan nan jelas, ataupun serba membatasi. Melainkan, perlu merangkai landasan kesadaran terlebih dulu di beragam tingkat, melalui penerapan kebijakan nan jelas di bumi akademik dan sosialisasi. Penerapan kebijakan nan jelas dan literasi nan baik dapat membantu membangun pemikiran mahasiswa tentang kapan AI menjadi perangkat bantu nan sah dan kapan justru menghalang keahlian berpikir dan kognitif mereka. Kurikulum nan responsif pun tidak kudu dirombak total. Kadang, hanya cukup dengan membuka forum nan dapat menerima pandangan dari sisi industri, pengajar, dan mahasiswa, agar terbentuk buahpikiran konstruktif bakal kebutuhan seluruh pihak. Bergerak dari forum, diharapkan setelahnya prodi dapat membangun mata kuliah pilihan nan sesuai dengan perkembangan terkini industri, mengembangkan proyek berbasis industri, dan mengarahkan mahasiswa untuk membangun portofolio nan mencerminkan keahlian nyata nan baru dan aplikatif.

Berbicara dari perumpamaan di bagian teknologi informasi, secara absolut tidak ada sistem nan langsung sempurna begitu dikembangkan. nan ada hanyalah jenis pertama, dievaluasi, lampau diperbaiki untuk menjadi jenis lanjutan nan lebih baik..

Pendidikan tinggi dapat mengangkat logika nan sama. Tidak kudu sempurna dulu untuk mulai bergerak dan berproses. Dari teori Hype Cycle Gartner, banyak lembaga nan berada di puncak ekspektasi, bergerak lantaran tekanan, dan bukan lantaran kesiapan. Muncul pertanyaan lanjutan nan ditujukan ke perguruan tinggi di Indonesia. Sudah siapkah kita?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan