Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (tengah).(MI/Farhan Zuhri.)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan tak bakal mundur meski banyak tantangan dalam mengelola sampah di ibu kota. Menurut Pramono, sudah banyak pihak nan mendapat untung dari perihal tersebut, namun dirinya tetap bakal bertindak tegas untuk penanganan sampah di Jakarta.
“Untuk menangani persoalan sampah ini nggak bisa bim salabim. Orang sudah banyak nan mendapatkan kenikmatan dari itu. Pasti kelak banyak juga nan kemudian menyerang saya sebagai gubernur, tapi saya nggak bakal mundur untuk pembenahan sampah di Jakarta,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu (12/8).
Dia mengaku sempat memandang tayangan saat awak media dihalangi untuk meliput di letak pembuangan sampah terlarangan Cilincing, Jakarta Utara.
Pramono menegaskan bahwa pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bakal membantu memberi pendampingan bagi wartawan nan mau meliput di letak tersebut. “Kebetulan saya nonton waktu TV One di lapangan saya nonton. Jadi, jika mau didampingi, kami bakal dampingi,” ujar Pramono.
Sebelumnya, Pramono telah memerintahkan penindakan tegas terhadap pelaku pembuangan sampah terlarangan tersebut. Ia juga meminta identitas pihak-pihak nan terlibat dipublikasikan untuk memberikan pengaruh jera dan memastikan praktik pembuangan sampah liar tidak lagi berlangsung.
Instruksi itu menyusul temuan timbunan sampah seluas sekitar 5,8 hektare di area Jalan Reformasi/Inspeksi Kirana, Nagrak, nan beraksi di luar sistem pengelolaan sampah resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pramono menegaskan letak tersebut bukan merupakan tempat pembuangan sampah nan dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Berdasarkan laporan nan diterima Pemprov DKI, sampah nan menumpuk di letak tersebut diduga bukan berasal dari sampah rumah tangga, melainkan limbah sektor komersial. Lahan nan digunakan juga disebut tetap berstatus sengketa kepemilikan.
Pramono mengungkapkan, sampah nan dibuang secara terlarangan kebanyakan berasal dari sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka). Sampah tersebut diangkut oleh pengelola swasta nan memungut biaya dari pelanggan, namun kemudian dibuang secara sembarangan di area Nagrak.
"Sampah itu tempatnya di PT Granito dan almarhum Ibu Yusi sebagai tempat penimbunan sampah itu. Sampah nan diambil itu semuanya dari horeka: hotel, restoran, kafe. Sehingga dia mendapatkan biaya untuk mengangkut sampahnya, tetapi ditimbun sembarangan," ungkapnya. (Ant/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·