Presiden Prabowo Subianto(BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto membuka kesempatan lebih besar bagi perusahaan Rusia untuk masuk ke sektor energi Indonesia. Pemerintah telah membuka 138 blok eksplorasi daya dan secara unik mengundang korporasi Rusia membawa teknologi serta investasi untuk mengembangkan potensi tersebut.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam sesi pleno Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Kamis (3/9), saat ditanya mengenai prospek kerja sama daya Indonesia-Rusia dan kesempatan pengembangan proyek di luar sektor nan selama ini menjadi bagian kerja sama kedua negara.
Prabowo mengatakan Indonesia tidak semata-mata memerlukan pasokan daya dari Rusia, tetapi juga memandang teknologi Rusia sebagai kesempatan untuk mengembangkan proyek bersama. Menurut dia, pembahasan dengan sejumlah golongan upaya Rusia mengenai proyek daya terus berjalan.
"Kami baru saja memberikan info kepada mitra Rusia kami bahwa Indonesia sekarang telah membuka 138 blok eksplorasi energi. Dan kami mengundang grup-grup Rusia, korporasi Rusia dengan teknologi mereka di 138 blok ini," kata Prabowo.
Presiden menyebut obrolan mengenai kesempatan tersebut melangkah baik. Kerja sama nan dibahas tidak hanya menyangkut eksplorasi, tetapi juga pengembangan prasarana daya seperti kilang dan terminal penyimpanan.
"Kita punya obrolan tentang kerja sama dengan grup-grup Rusia untuk mengembangkan proyek bersama, kilang, terminal penyimpanan di bagian energi," ujarnya.
Prabowo juga menyinggung kondisi pasokan daya Indonesia nan saat ini mempunyai banyak LNG. Karena itu, kerja sama dengan Rusia tidak selalu diarahkan pada pemenuhan kebutuhan gas, melainkan dapat difokuskan pada pemanfaatan teknologi dan pengembangan proyek secara bersama.
"Kita sekarang punya banyak LNG. Jadi, di beberapa bagian sebenarnya kita tidak secara langsung memerlukan gas Rusia, tapi teknologi Rusia untuk pengembangan bersama, kita sangat terbuka," kata dia.
Peluang investasi juga mulai diwujudkan melalui proyek di sektor pupuk. Prabowo mengungkapkan adanya nota kesepahaman (MOU) antara perusahaan pupuk Indonesia dan salah satu grup besar Rusia untuk investasi berbareng dalam produksi pupuk berbasis gas di wilayah Timur Jauh Rusia.
Menurut Prabowo, kerja sama tersebut menunjukkan pembicaraan ekonomi kedua negara telah bergerak menuju proyek konkret dan tidak terbatas pada sektor daya di Indonesia.
"Jadi proyek-proyek ini melangkah sangat baik, melangkah jauh ke depan," katanya.
Kerja sama Indonesia-Rusia, lanjut Prabowo, juga berkembang ke sektor pengolahan dan pertambangan. Salah satu contohnya adalah keterlibatan Rusal, perusahaan aluminium besar Rusia, nan disebutnya tengah memperluas kehadiran di Indonesia melalui pengembangan kilang berbareng perusahaan-perusahaan Indonesia.
"Rusal datang secara besar-besaran ke Indonesia, mengembangkan kilang berbareng dengan grup-grup Indonesia," ujar Prabowo.
Dengan beragam pembahasan tersebut, Prabowo menegaskan Indonesia tetap membuka ruang bagi ekspansi kerja sama dengan Rusia, baik di sektor daya maupun industri pengolahan. Pemerintah berambisi semakin banyak proyek berbareng nan dapat dikembangkan oleh perusahaan kedua negara.
"Kami tetap menantikan lebih banyak lagi kerja sama berbareng Rusia-Indonesia," pungkasnya. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·