Presiden Prabowo Subianto mengingat kondisi Palestina saat menyampaikan pidato dalam aktivitas Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, Sabtu (19/9). Prabowo mengatakan masyarakat Palestina terus dibantai, dibom, dan diserang, sementara Indonesia dinilainya tetap kurang berkekuatan untuk membantu mereka.
"Terima kasih atas kehormatan diberikan kepada saya. Saya minta maaf, tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus dan kita seolah-olah kurang berkekuatan untuk membantu mereka," kata Prabowo.
Prabowo mengatakan kondisi tersebut kudu menjadi dorongan bagi masyarakat Indonesia, khususnya para kiai, ulama, dan pendidik untuk membangun bangsa nan kuat. Menurutnya, kekuatan menjadi krusial agar Indonesia tidak mengalami nasib sebagai bangsa nan diinjak-injak bangsa lain.
"Saya kira ini justru nan mendorong kita semua, apalagi Saudara-saudara, apalagi para kiai, apalagi para ulama, apalagi para pendidik di institusi-institusi seperti Gontor ini, ini saya kira kudu mendorong dan memicu suatu kehendak, kehendak untuk belajar sungguh-sungguh, kehendak untuk membangun Bangsa Indonesia nan kuat, lantaran bangsa nan tidak kuat, bangsa itu bakal diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain," ujarnya.
Dia kemudian membujuk generasi penerus untuk belajar dari sejarah. Prabowo menekankan pentingnya kejujuran dalam memandang kelemahan dan kekurangan bangsa sendiri sebelum membangun masa depan.
"Kita kudu belajar dari sejarah tadi dikatakan, yah kita mau membangun sejarah, tapi kita kudu belajar dari sejarah, dan kita kudu jujur kepada diri kita, kita kudu jujur, bukan kepada orang lain, kita kudu jujur kepada diri kita sendiri," terangnya.
Prabowo juga meminta para ustaz dan ustadz membangun keberanian untuk memandang serta belajar dari kelemahan bangsa. Menurutnya, mudah bagi seseorang untuk berbincang mengenai kehebatan, tetapi susah untuk mengakui kekurangan sendiri.
"Kita kudu berani memandang kelemahan-kelemahan kita, mudah untuk kita bicara dengan hebat, susah untuk kita lihat kekurangan-kekurangan kita sendiri, kelemahan-kelemahan kita sendiri. Saya berambisi dari generasi penerus, dari ustaz-ustaz, dari ulama-ulama, untuk bisa membangunkan keberanian untuk belajar dari kelemahan-kelemahan kita sendiri, kekurangan-kekurangan kita sendiri," ujarnya.
Prabowo kemudian mengingatkan pengalaman Indonesia nan pernah dijajah bangsa lain. Dia menyebut pengalaman tersebut sebagai realita pahit nan kudu diakui dan dijadikan pelajaran agar Indonesia tidak kembali berada di bawah kekuasaan bangsa lain.
"Kita pernah dijajah oleh bangsa lain, itu realita nan pahit. Yah bapak-bapak kita, eyang-eyang kita, kakek-kakek kita ya, pendahulu-pendahulu kita yah berjuang yah melawan, tapi cukup lama kita di bawah telapak kaki bangsa lain, ini pahit tapi kita kudu berani mengakui dan kita kudu belajar dari situ, dan kita kudu bertekad, jangan sekali-sekali kita bakal dijajah kembali oleh siapa pun," ucap dia.
Karena itu, Prabowo menegaskan pentingnya membangun kekuatan nasional. Menurutnya, kekuatan Indonesia bukan hanya untuk kepentingan sendiri, tetapi juga agar dapat membantu masyarakat nan tertindas.
"Kita kudu kuat! Karena kita, dengan kekuatan jika kita kuat, kita bisa bantu saudara-saudara kita nan tertindas dan nan ditindas oleh bangsa-bangsa lain," tandasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·