Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia menargetkan, Indonesia secara perlahan bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM jenis bensin.
Menyusul kesuksesan dalam mendorong program campuran biodiesel dengan solar, nan ditargetkan segera menjadi 50 persen (B50) pada pertengahan tahun ini.
Mandatori B50 merupakan pencampuran solar dan minyak sawit nan sekarang mencapai 40 persen (B40), dan direncanakan meningkat menjadi 50 persen pada Juli 2026. Dengan skema ini, Indonesia diproyeksikan bakal menghentikan impor solar untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 2026.
Terinspirasi dari keberhasilan tersebut, pemerintah sekarang menyiapkan langkah serupa untuk BBM jenis bensin. Bahlil apalagi telah melakukan kunjungan ke Brasil, negara nan telah lebih dulu menerapkan mandatori pencampuran etanol.
Ia menilai, bahan bakunya, seperti singkong, jagung, dan tebu, tersedia melimpah di Indonesia. Pemerintah pun menargetkan kebijakan pencampuran etanol sebesar 20 persen pada bensin dapat mulai diterapkan pada 2028.
"Kalau kita mandatori 20 persen, berfaedah kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter," kata Bahlil dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Senin 4 Mei 2026.
Untuk gas rumah tangga, tantangannya berbeda. Indonesia mengimpor 7,47 metrik ton (MT) Liquefied Petroleum Gas (LPG) per tahun lantaran produksi dalam negeri, sekitar 1,94 MT hanya bisa memenuhi seperlima dari kebutuhan nasional. Ditambah lagi subsidi LPG menelan nyaris Rp 80-87 triliun per tahun dari kas negara.
Sebagai jalan keluar, pemerintah mengembangkan Compressed Natural Gas alias CNG, gas nan dipadatkan dan dikemas dalam tabung, nan diklaim 30-40 persen lebih murah dibanding LPG.
"Teknologi ini sudah diujicobakan di restoran dan sejumlah dapur program makan bergizi gratis, dan sedang disiapkan untuk pasar rumah tangga," ujar Bahlil.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·