Jakarta -
Presiden Prabowo Subianto menyinggung soal kesejahteraan pembimbing dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) nan dinilainya belum optimal. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari kebocoran ekonomi nan selama ini terjadi.
"Kenapa penghasilan pembimbing tidak bisa baik, kenapa penghasilan pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang, lantaran uangnya nggak ada, diambil terus," kata Prabowo dalam Penutupan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (23/6/2026).
Prabowo mengungkapkan kebocoran ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai US$ 150 miliar alias sekitar Rp 2.500 triliun per tahun. Prabowo lantas berjanji untuk segera melakukan perbaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebocoran kita, kita hitung para mahir sekarang adalah kurang lebih US$ 150 miliar setiap tahun, Rp 2.500 triliun setiap tahun, dan ini sedang saya perbaiki semua," ujarnya.
Prabowo sempat menjelaskan salah satu penyebab kebocoran tersebut adalah praktik under invoicing alias pelaporan nilai ekspor nan lebih rendah dari nilai sebenarnya.
"Apa nan kudu kita ambil kesimpulan? nan terjadi adalah nan disebut under invoicing alias laporan palsu. Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton," tegasnya.
Menurut Prabowo, praktik tersebut membikin negara kehilangan penerimaan dalam jumlah besar. Diperkirakan bahwa Indonesia rugi hingga Rp 15 ribu triliun dalam 34 tahun terakhir.
"Artinya apa? Artinya negara rugi. Setelah kita hitung, ini nomor kembali lagi di PBB, kita telah rugi US$ 908 miliar selama 34 tahun alias Rp 15 ribu triliun," tutup Prabowo.
(ily/ara)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·