Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bakal berangkat ke Rusia untuk berjumpa Presiden Vladimir Putin dalam waktu dekat. Keberangkatan ke Rusia ini dikonfirmasi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Oh, kelak saya [ikut mendampingi] pemerintah Republik Indonesia, ya," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/4).
Kunjungan Prabowo ke Rusia tampaknya untuk membahas kerja sama di sektor energi. Kerja sama di sektor daya nan sedang melangkah adalah antara Rosneft dengan Pertamina.
"Oh itu, kan, kerja sama perusahaan Rusia. Rosneft itu, kan, di Tuban. Rosneft dengan Pertamina membangun satu kilang di sana. Nah, mungkin itu salah satu nan bakal bisa kita follow up. Tapi itu, kan, B2B, ya," ujar Bahlil.
Sementara soal kemungkinan membeli minyak dari Rusia, Bahlill belum menjawab secara tegas. Bahlil dalam kesempatan terpisah pernah menyebut opsi mengimpor minyak mentah dari Rusia tetap terbuka untuk menggantikan sekitar 20 persen pasokan nan melewati Selat Hormuz.
Namun, Bahlil memastikan pembelian minyak dari AS sudah berjalan.
"[Pembelian minyak] Amerika sudah mulai berjalan. Sudah mulai," ungkapnya.
"BBM tidak. BBM kita tidak ambil dari sana. Minyak mentah, crude-nya," pungkasnya.
Sebelumnya, ahli bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan Putin kemungkinan bakal menggelar perbincangan dengan Prabowo.
"Saya mengkonfirmasi bahwa persiapan sedang dilakukan. Kami sedang mempersiapkan untuk pembicaraan. Kami bakal mengumumkan dalam waktu dekat," kata Dmitry dikutip dari instansi buletin Rusia, TASS.
Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk RI Sergei Tolchenov mengatakan belum mendapat permintaan resmi baik dari Pertamina maupun Kementerian ESDM mengenai pembelian minyak dari Rusia. Menurutnya, pemerintah Rusia dapat menjual minyak ke Indonesia dan siap bekerja sama dengan negara mitra di sektor minyak dan gas (migas).
"Jika mereka memerlukan sesuatu, silakan hubungi kami, beri tahu apa nan Anda butuhkan, dan kami bakal mendiskusikan apa nan dapat dilakukan. Bahkan bagi mereka nan kami sebut sebagai negara nan tidak bersahabat, sebagai contoh dari Eropa Barat, jika mereka tertarik, jika mereka siap untuk bekerja sama berasas perjanjian jangka panjang dengan kami, apalagi kami siap memasok untuk mereka, untuk menjual minyak dan gas," ujarnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·