Potret Kapal Dicegat Diduga Bawa Virus Mematikan, 300 Orang Diperiksa

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Otoritas kesehatan Kongo memeriksa lebih dari 300 penumpang kapal usai seorang penumpang diduga meninggal akibat Ebola, untuk mencegah penyebaran wabah.

Para penumpang menunggu pemeriksaan di atas sebuah kapal setelah otoritas kesehatan mencegat kapal tersebut menyusul kematian seorang penumpang nan diduga terjangkit Ebola—yang sebelumnya telah turun dari kapal—menurut keterangan pejabat setempa

Para penumpang menunggu pemeriksaan di atas kapal nan dicegat otoritas kesehatan di dekat Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, Kamis (6/8/2026), setelah seorang penumpang nan diduga terinfeksi Ebola meninggal bumi usai turun dari kapal. Lebih dari 300 orang menjalani pemeriksaan untuk memastikan tidak terjadi penyebaran virus di dalam kapal nan dihentikan di wilayah Maluku, sekitar 65 kilometer di hulu ibu kota Kinshasa. (REUTERS/Benoit Nyemba)

Para penumpang nan turun dari sebuah kapal nan dicegat oleh otoritas kesehatan menunggu untuk menjalani pemeriksaan menyusul kematian seorang penumpang nan diduga menderita Ebola, di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, pada 6 Agustus 2026.

Pemeriksaan dilakukan menggunakan laboratorium keliling nan dikerahkan ke kapal setelah kapal tersebut dihentikan pada Rabu. Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Kongo, Body Ilonga Bompoko, mengatakan seluruh penumpang menjalani pemeriksaan suhu tubuh dan skrining klinis sebagai langkah pencegahan. (REUTERS/Benoit Nyemba)

Para penumpang nan turun dari sebuah kapal nan dicegat oleh otoritas kesehatan menunggu untuk menjalani pemeriksaan, menyusul kematian seorang penumpang nan diduga menderita Ebola, di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, pada 6 Agustus 2026.

Menurut Bompoko, sampel telah diambil dari empat penumpang nan menunjukkan gejala, termasuk demam, dan dikirim untuk diuji di laboratorium. Hasil pemeriksaan diperkirakan bakal diumumkan pada Jumat untuk memastikan apakah mereka terinfeksi virus Ebola. (REUTERS/Benoit Nyemba)

Para penumpang nan turun dari sebuah kapal nan dicegat oleh otoritas kesehatan menunggu untuk menjalani pemeriksaan, menyusul kematian seorang penumpang nan diduga menderita Ebola, di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, pada 6 Agustus 2026.

Operasi ini bermulai setelah otoritas kesehatan di Provinsi Mongala melaporkan kematian seorang laki-laki berumur 32 tahun nan diduga terjangkit Ebola pada 25 Juli. Pria tersebut diyakini pernah menumpang kapal itu, namun hingga sekarang para pejabat tetap memberikan keterangan nan berbeda mengenai asal perjalanan kapal, letak laki-laki tersebut naik kapal, serta kapan dia mulai menunjukkan indikasi penyakit. (REUTERS/Benoit Nyemba)

Para penumpang nan turun dari sebuah kapal nan dicegat oleh otoritas kesehatan menunggu untuk menjalani pemeriksaan, menyusul kematian seorang penumpang nan diduga menderita Ebola, di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, pada 6 Agustus 2026.

Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, mengatakan kapal berasal dari Provinsi Mongala, bukan Tshopo nan dilanda pandemi Ebola. Namun, terdapat perbedaan keterangan soal waktu munculnya gejala. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Mongala, Eustache Bibala Faray, menyatakan pihaknya tetap menyelidiki letak laki-laki tersebut naik ke kapal. (REUTERS/Benoit Nyemba)

Para penumpang nan turun dari sebuah kapal nan dicegat oleh otoritas kesehatan menunggu untuk menjalani pemeriksaan, menyusul kematian seorang penumpang nan diduga menderita Ebola, di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, pada 6 Agustus 2026.

Di sisi lain, Kaseya mengumumkan otoritas kesehatan bakal memperluas penggunaan vaksin Ebola nan sebelumnya dikembangkan untuk melawan jenis virus Ebola Zaire, setelah info menunjukkan vaksin tersebut juga memberikan perlindungan terhadap jenis Bundibugyo nan menjadi penyebab pandemi saat ini. Pemerintah juga berencana memperluas penggunaan obat antivirus remdesivir di wilayah-wilayah nan terdampak guna memperkuat upaya pengendalian wabah. (REUTERS/Benoit Nyemba)

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News