Jakarta -
Hujan tetap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi ini berjalan di tengah masa peralihan musim dari hujan menuju kemarau.
Masyarakat diimbau lebih waspada terhadap perubahan cuaca nan cepat. Lantas, gimana prediksi hujan dan kondisi atmosfer dalam beberapa hari ke depan menurut BMKG?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor Penyebab Hujan di Masa Peralihan
Menurut laporan BMKG, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer. Aktivitas gelombang seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) terpantau aktif di beragam wilayah Indonesia.
Selain itu, kejadian Madden-Julian Oscillation (MJO) juga berkedudukan dalam meningkatkan potensi pembentukan awan hujan, terutama saat melintasi wilayah Sumatera. Peralihan monsun dari Asia menuju Australia turut membentuk pola sirkulasi udara nan memicu terbentuknya area pertemuan angin.
Faktor lokal seperti pemanasan permukaan pada siang hari dan perlambatan kecepatan angin juga mendukung terbentuknya awan konvektif. Kondisi ini meningkatkan kesempatan terjadinya hujan, terutama pada siang hingga malam hari.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Laporan BMKG menyebut dalam sepekan ke depan, kondisi atmosfer Indonesia tetap dipengaruhi aspek global, regional, dan lokal. Pada skala global, kejadian El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral, nan terlihat dari nilai indeks NINO 3.4 sebesar -0,35 dan SOI sebesar +2,1.
Sementara itu, Dipole Mode Index (DMI) juga berada pada fase netral dengan nilai -0,14. Kondisi ini menunjukkan belum adanya pengaruh signifikan terhadap peningkatan curah hujan dari Samudra Hindia, khususnya untuk wilayah Indonesia bagian barat.
Di tingkat regional, monsun Australia mulai menguat dan membawa massa udara nan condong lebih kering. Dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah menjadi tanda bahwa beberapa wilayah mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.
Meski demikian, aktivitas gelombang atmosfer dan potensi sirkulasi siklonik di beberapa wilayah tetap mendukung terbentuknya awan hujan. Hal ini menyebabkan potensi hujan tetap terjadi di beragam wilayah meskipun musim tandus mulai mendekat.
Potensi Hujan Periode 13-16 April 2026
Pada periode 13 hingga 16 April 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, peningkatan intensitas hujan perlu diwaspadai di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Beberapa wilayah diprakirakan berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat, seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, serta sebagian besar wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
BMKG juga mengeluarkan peringatan awal untuk wilayah dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat, ialah Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Papua Pegunungan. Selain itu, angin kencang berpotensi terjadi di Papua Barat Daya.
BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem nan dapat memicu bencana hidrometeorologi. Hujan lebat nan disertai kilat dan angin kencang dapat mengganggu aktivitas, termasuk perjalanan darat, laut, dan udara.
Pengendara disarankan lebih berhati-hati, terutama saat melintasi wilayah rawan genangan alias pohon tumbang. Selain itu, masyarakat diminta menghindari berlindung di bawah pohon alias gedung nan berisiko roboh saat terjadi hujan lebat.
BMKG juga mengingatkan pentingnya memantau info cuaca secara berkala melalui kanal resmi. Dengan langkah antisipasi nan tepat, akibat dari potensi cuaca ekstrem dapat diminimalkan.
(wia/idn)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·