Ilustrasi.(The Washington Post)
GAMBARAN baru nan mengkhawatirkan mulai muncul mengenai udara di sekitar kita dapat merusak otak. Selama ini, polusi udara telah lama dikaitkan secara tidak langsung dengan demensia. Namun, sekarang para intelektual mulai menyelidiki apakah polusi tersebut secara bentuk dapat mengubah corak dan struktur otak manusia.
Tahun lalu, para intelektual dikejutkan oleh laporan bahwa rata-rata otak manusia nan mereka teliti mengandung mikroplastik dan nanoplastik dengan berat setara satu sendok plastik. Kini, penelitian lebih mendalam menunjukkan bahwa beragam material lain dari bumi luar--seperti silika, logam, jelaga, dan puing-puing lain--juga sukses menembus pertahanan otak.
Peneliti dari Rush Alzheimer’s Disease Center dan lembaga lain memeriksa jaringan otak dari 11 orang nan meninggal pada usia 80 hingga 91 tahun dengan perincian nan luar biasa. Mereka menemukan bahwa beberapa partikel menembus jauh ke dalam otak, mencapai amigdala, wilayah nan membantu membentuk emosi dan memori.
Pergeseran Paradigma Dampak Polusi
Temuan ini menandai pergeseran besar dalam langkah intelektual memandang hubungan antara polusi udara dan kondisi otak seperti demensia, Parkinson, dan autisme. Selama bertahun-tahun, penjelasan utamanya adalah polusi merusak otak secara tidak langsung dengan memicu peradangan di seluruh tubuh. Namun, sekarang para intelektual mengeksplorasi kemungkinan bahwa polusi bertindak secara langsung di dalam jaringan saraf.
Caleb Finch, guru besar emeritus di Leonard Davis School of Gerontology, University of Southern California, menyatakan ada bukti kuat bahwa paparan polusi dapat dimulai sejak masa kehamilan dan terakumulasi sepanjang hidup. "Risiko demensia meningkat sebanding dengan jumlah polusi udara," ujarnya.
Tiga Temuan Utama Kerusakan Otak akibat Polusi
Berdasarkan info terbaru, terdapat tiga penemuan krusial nan memperjelas ancaman ini:
- Penyusutan Volume Otak: Studi nan diterbitkan di Journal of Nutrition, Health & Aging (April 2024) terhadap 400.000 orang menunjukkan bahwa mereka dengan paparan PM2.5 tertinggi mempunyai akibat demensia 14 persen lebih besar. Pemindaian otak menunjukkan adanya pengurangan volume otak dunia dan regional (atrofi otak).
- Kandungan Logam nan Berbahaya: Penelitian membandingkan pengaruh asap knalpot diesel, debu World Trade Center, dan asap kayu pada tikus. Hasilnya, polusi nan kaya bakal logam (seperti diesel dan debu konstruksi) mengubah lebih dari 1.200 gen nan sama, termasuk nan terlibat dalam peradangan dan pemrosesan protein amiloid mengenai Alzheimer.
- Gumpalan Beracun (Lewy Bodies): Studi besar terhadap 56,5 juta penduduk Amerika menemukan hubungan antara PM2.5 dengan Lewy body dementia dan Parkinson. Eksperimen menunjukkan paparan polusi memicu penumpukan protein alpha-synuclein nan membentuk gumpalan berbisa di otak.
Catatan Peneliti: Xiaobo Mao, guru besar neurologi dari Johns Hopkins, menekankan bahwa meskipun kita tidak bisa mengontrol semua udara di luar, pencegahan berdikari sangat penting. Ia menyarankan penggunaan ventilasi nan baik saat memasak, rutin mengganti filter udara (HVAC) di rumah, dan menghindari kediaman nan tepat berada di pinggir jalan raya utama.
Ancaman Perubahan Iklim
Masalah ini menjadi kian mendesak seiring perubahan suasana nan mengubah kualitas udara. Kondisi nan lebih panas dan kering memicu kebakaran rimba nan lebih besar, sementara degradasi lahan meningkatkan akibat angin besar debu. Fenomena ini mengirimkan awan asap, mineral, dan puing mikroskopis melintasi benua, nan pada akhirnya berpotensi mengendap di dalam otak manusia selama berdekade-dekade. (The Washington Post/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·